Posted in Books, Dilan, Pastel Books, Pidi Baiq, Romance

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

dilan

Kekuatan cinta tak bisa cukup diandalkan.

Untuk bisa mengatakannya, ada kebebasan bicara, tetapi keberanian adalah segalanya

Pidi Baiq (1972-2098)

—hlm. 5

Covernya cakep, ada nuansa metalik gimana gitu. Dan untuk pertama kalinya, saya merasa ga tega ngasih sampul.

Jadi akhirnya saya baca Dilan juga setelah lumayan lama teronggok di timbunan. Mumpung saya masih senang-senangnya membaca novel Indonesia pasca tersihir oleh pesona 4R1A di The Chronicles of Audy.

Ngomong-ngomong, buku ini dibelikan oleh Bzee dengan ongkos kirim yang sangat murah. Terima kasih banyak ya Bzee, sudah mau direpotin buat nyariin buku Dilan (dan juga buku-buku lainnya)😀

Lanjut. Saya awalnya berharap banyak dari buku ini, tapi setelah membacanya di beberapa halaman awal, saya merasa sedikit kecewa. Saya merasa kurang nyaman dengan gaya bahasanya. Itu sebelum saya sadar, kalau saya belum pindah mode.

Oke, saya harus mematikan mode Audy dulu, baru kemudian pasang mode Milea dan syukurlah akhirnya berhasil. Walaupun entah kenapa saya masih agak kurang nyaman dengan “he he he”-nya para tokoh di buku ini.

Whatever-lah. Yang pasti asyik juga baca kisah cinta anak SMA tahun 1990. Ditahun itu saya masih jadi bayi sih, tapi saat membaca novel ini, saya bisa merasakan bagaimana “suasana waktu itu”. Keren.

Ngomong-ngomong lagi, saya sering sekali melihat buku ini mondar-mandir di social media, yang berarti, menurut pendapat sepihak saya, buku ini sangat populer.

Banyak yang suka sama Dilan, dan untunglah saya tidak. Kalau ya, saya sepertinya bakalan punya banyak saingan. Meskipun kalau saya bilang saya lebih memilih Rex daripada Dilan juga, saya tetap bakalan kena protes oleh Milea dan para penggemar Dilan yang lain, *ngawur*😄

Tapi dibandingkan cowok lain yang ada di buku ini, Dilan jelas jadi yang paling oke. Tidak mengherankan juga sih, karena cerita ini diceritakan dari sudut pandang Milea, yang jelas-jelas menyukai Dilan. Sampai-sampai saya juga sebal sama cowok lain yang berusaha mendekati Milea. Dan saya rasa saya bisa memahami Milea untuk kasus ini. Cowok lain yang berusaha pedekate memang terasa menyebalkan berkali-kali lipat kalau ada cowok seperti Dilan yang juga pedekate ke kita, wkwkwk.

Yah, saya lebih naksir Rex ketimbang Dilan, saya mengakui kalau caranya pedekate Dilan memang bisa bikin cewek meleleh. Unik, beda dari yang lain, dan membuat si cewek merasa istimewa dan terlindungi. Ngobrol sama Dilan jelas lebih menyenangkan. Dilan juga lucu. Dia sempurna sekaligus tidak. Ketidaksempurnaannya, sejauh yang bisa saya tangkap, kebanyakan untuk melindungi harga dirinya dan juga cewek yang dia sayangi. Dia bandel di sekolah tapi juga juara kelas. Dan  sepertinya ini terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. *tuh kan saya jadi memuji Dilan juga*.

At last, saya bingung mau ngomong apa lagi. Rasanya ikut senang aja gitu membaca kisah cinta Dilan dan Milea. Saya jadi penasaran juga, bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Somehow, saya merasa ada sedikit misteri tentang kenapa Milea, seakan-akan, tiba-tiba memutuskan untuk menceritakan Dilannya kepada kita. Memangnya ada apa ya? Saya sudah bilang kalau saya penasaran kan ya? Oke saya bilang lagi kalau saya penasaran. Tapi nanti dulu deh beli lanjutannya. Nunggu ada diskonan, soalnya ongkos kirim semakin mahal, *nasibtinggaldikotakecil*, *jadicurcol*.

***

Judul: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 | Pengarang: Pidi Baiq | Penerbit: Pastel Books | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Bandung, 2015 | Rating saya: 3 dari 5 bintang

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

3 thoughts on “Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

  1. Katanya dari ketiga seri Dilan, malah yang paling bagus, seri ketiganya… katanya… karena seri dilanku juga masih berstatus timbunan😛

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s