Posted in Books, Family, Haru, Orizuka, Romance, The Chronicles of Audy

The Chronicles of Audy: 4/4 Review

photogrid_1477814516265

Hanya dia yang mampu membuatku kembali memijak tanah, di saat aku sedang bermimpi terbang.

—The Chronicles of Audy, hlm. 221

Setelah membaca buku pertama, saya paham kenapa sepertinya saya tidak pernah mendengar ada tim Regan. Setelah membaca buku kedua, saya paham kenapa ada tim Rex. Setelah membaca buku ketiga, saya baru paham kenapa ada tim Romeo (mungkin setelah membaca buku keempat, saya baru paham kenapa tidak ada tim Rafael, *plaak*). Dan setelah membaca buku ketiga pula, sepertinya saya memutuskan untuk tidak ikut tim manapun, dengan alasan yang sama kenapa judul buku ketiga ini 4/4,  *tante-tante serakah*, *hidupptim4/4*.

So, cerita Audy dan 4R masih berlanjut. Meskipun sudah tinggal di kos-nya sendiri, Audy masih ke rumah 4R setiap hari. Perannya untuk mengantar dan menjemput Rafael masih diperlukan. Selain itu, Audy memang sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga.

Lalu bagaimana hubungannya dengan salah satu dari cowok 4R itu? Makin ribet, kalau menurut Audy. Tapi kalau menurut si cowok, sepertinya tidak tuh😄

Ngomong-ngomong, setelah membaca 4/4, saya tiba-tiba jadi dapat semangat untuk mengerjakan pekerjaan yang sering saya tunda-tunda. Saya  juga jadi lebih semangat untuk mewujudkan kembali mimpi besar saya yang sudah hampir mati. Gara-garanya saya gemes sekali sama Audy yang selalu dapat alasan untuk menunda mengerjakan skripsi. Saya juga jadi ngeri sendiri, jangan-jangan saya ikut tertular virus Rex.

Jadi selain masalah hubungan Audy dengan salah satu cowok 4R, ada masalah lain yang lebih serius. Seperti yang tertulis di blurb, keluarga ini berada di ambang perpisahan. Yang lagi-lagi membuat saya ngeri adalah, saya kembali setuju dengan pendapat Rex. *apakah hati saya memang sedingin itu*, *mode lebay ala Audy*.

Kerennya, di buku ini, Romeo jadi pahlawan. Iya, Romeo, yang selama ini jadi orang terakhir yang akan dimintai pertolongan kalau ada masalah, tiba-tiba jadi pembawa solusi. Saya merasa di buku ketiga ini, saya diajak untuk mengenal Romeo lebih dekat, *aseek*.

So, The Chronicles of Audy buku ketiga masih kocak seperti biasa. Menyenangkan sekali membaca buku ini. Saya harap buku berikutnya tidak kalah lucu dan tidak kalah memotivasi dari buku ini. Mengingat besok adalah hari senin.

Oh ya, ngomong-ngomong (lagi), warna blink-blink di pinggiran buku 4/4 ini adalah ungu. Bukan warna favorit saya sih, tapi saya senang sekali karena pembatas bukunya adalah gambar Regan (saya masih memfavoritkan Regan meskipun saya pengen ada di tim 4/4). Dan setelah selesai membaca buku ini, saya baru tahu ungu ini warna favorit siapa. So sweet ❤

Next, masih ada waktu untuk membaca buku keempat dari The Chronicles of Audy. Bantas habis saja mumpung masih weekend. Karena, sekali lagi, besok adalah hari senin, *sigh*. Walaupun masih merasa sedikit ngeri, tapi saya harap Rex bisa menularkan semangat belajarnya lagi (tularkan kejeniusannya juga boleh).

At last, bagi saya, seri The Chronicles Audy memang penuh kejutan. Saya tidak pernah mengira kalau bukunya bisa sekocak ini, dan juga bisa memberikan motivasi. I really liked it.

***

NB: Kutipan-kutipan favorit lainnya dari buku The Chronicles of Audy: 4/4,

“Kok nggak ngasih tahu sih, Rex?” sungutku, merasa ditikam dari belakang.

“Kenapa harus ngasih tahu?” Rex menjawab sambil mulai menumis. —hlm. 44

Satu lagi kemiripan saya dengan Rex. Saya juga pernah ngasih jawaban sinis seperti itu, dan tidak menyangka kalau jawaban itu bisa terasa sedingin ini. Pantas orang yang saya kasih jawaban seperti itu langsung “menghilang”. Maaf😦

Kalau aku juga kutu buku (minimal suka membaca — selain komik), kencan di perpustakaan pasti akan jadi kencan impian. Maksudku, segala adegan di drama romantis itu: adegan berjalan di lorong rak sambil saling mengintip di antara buku-buku… jemari yang tidak sengaja bersentuhan saat memilih buku yang sama… kemudian menatap si dia selagi membaca buku sampai jatuh tertidur… —hlm. 73

Hayooo, para kutu buku, pernah memimpikan adegan ini?😄

Selama beberapa saat, aku mengamati sosok Rex yang selalu tampak kurus dan serius… —hlm. 154

Lagi, kemiripan saya dengan Rex. Orang-orang juga sering bilang seperti itu, kurus dan serius. Kenapa miripnya tidak dibagian jeniusnya saja sih?

***

Judul: The Chronicles of Audy: 4/4 | Seri: The Chronicles of Audy #3 | Pengarang: Orizuka | Penerbit: Haru | Edisi: Cetakan ketiga, April 2016, 314 halaman, 19 cm | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s