Posted in Books, Family, Haru, Orizuka, Romance, The Chronicles of Audy

The Chronicles of Audy: 21 Review

photogrid_1477722842811

***

“Oke,” kataku lagi, mencoba untuk tidak sakit hati.

Aku tidak boleh menyerah hanya karena satu-dua komentar pedas.

Keluarga tidak menyerah atas satu sama lain.

(The Chronicles of Audy: 21, hlm. 40)

The Chronicles of Audy buku kedua, sama kocaknya dengan buku pertamaūüėĄ. Kelakuan Audy itu loh, bikin ngakak.

Ternyata semua buku di seri ini, selain cover-nya yang cakep, pinggiran halamannya juga ber-blink-blink ya. Saya sampai melongo saat membuka paketnya (saya beli online keempat-empatnya sekaligus); mereka cantik sekali. Saya baru sadar sama blink-blink-nya saat punya sendiri bukunya. Kemarin yang buku pertama, saya pinjam dari perpustakaan. Sampulnya sudah kucel maksimal dan blink-blink-nya sudah hilang tanpa jejak, kecuali pinggiran warna merahnya yang saya kira efek samping dari buku yang sudah kucel (klik di sini untuk melihat penampakan buku perpustakaan tersebut).

Jadi kisah Audy dan cowok-cowok cakep 4R berlanjut. Audy diijinkan untuk kembali bekerja di rumah 4R, dengan jaminan dari Regan, bahwa Audy adalah¬†“bagian dari keluarga”.¬† Kalau dulu Audy berpegang pada kegantengan Regan untuk bisa bertahan, sekarang Audy berpegang pada kata-kata tersebut.

Kocak sekali, dengan bersenjatakan¬†kata-kata itu, Audy¬†selalu menemukan sebuah alasan untuk bisa tahan¬†menghadapi tingkah laku 4R yang tetap saja sering¬†membuatnya jengkel. Tapi meskipun begitu, baik Audy maupun 4R sama-sama tahu kalau mereka saling menyayangi. Sampai salah seorang dari mereka….errr….mengungkapkan perasaannya kepada Audy. Selain itu, menjelang ending, ada perubahan besar yang terjadi di keluarga 4R, yang membuat mereka semua, termasuk Audy, “membutuhkan sedikit waktu”.

Ngomong-ngomong, sampai di buku kedua ini, tokoh favorit saya tetap Regan sih, haha. Saya masih terkesan karena di usia semuda itu, dia sudah diberi beban tanggung jawab yang banyak, and  I know that feeling, walaupun tanggung jawab saya tidak sebanyak Regan.

Oke, finally, buku ini habis sekali baca. Menyenangkan sekali membaca kronik kehidupan seorang Audy Nagisa, yang bisa dijadikan sebuah¬†cerita saking ribetnyaūüėĄ,¬†Buku ini kembali mengingatkan saya bahwa, sesekali membaca buku di luar genre favorit, ada untungnya juga.¬† Biasanya saya senang membaca kisah yang lingkup masalahnya berhubungan dengan hajat hidup orang banyakūüėÄ, semacam peperangan antar kerajaan, gelombang waktu yang mengubah sejarah, hantu-hantu yang mengganggu kota, iblis yang ingin menguasai dunia dan¬† kisah fantasi lain. Tapi The Chronicles of Audy mampu membuat saya terhibur hanya dengan cerita kehidupan seorang gadis berusia 22 tahun beserta “keluarga” 4R-nya. Kocak sangat. Keren, and I really liked it.

***

NB, kutipan-kutipan favorit lainnya dari buku The Chronicles of Audy: 21,

Sabar, Audy Nagisa. Tidak ada yang bilang¬†mengajarkan sopan santun kepada seorang anak yang kelewat genius itu mudah—itulah sebabnya tidak banyak orang genius yang ramah dan sopan. Teman-temanku di SMA yang pemegang ranking hampir semuanya pelit meminjamkan buku PR¬†—hlm.38

LOL, colek para pemegang ranking SMANSA Amuntai lulusan 2007, benar tak itu?

Memang sih, aku tidak percaya ramalan—terutama kalau ramalannya buruk—tetapi ini ramalan baik. —hlm. 45

Haha, bener banget Audy, abaikan saja ramalan yang buruk, tapi kalau ramalannya baik, hmmm?

“Skripsi kamu bagaimana?”, tanya Rex tiba-tiba, membuatku seperti didorong masuk ke sumur. Kenapa dia mesti tiba-tiba menyebut kata itu sih? Tidak tahu apa, kata ‘S’ itu sangat senstitif untuk orang-orang yang sedang mengerjakannya?—hlm. 46

Bener banget Audy, aku juga pernah mengalami kejadian yang sama dengan kata ‘S’ itu, tapi aku saat itu berada di posisi Rex, sih, *eh, *sungkem sama geng FCM*

“Apa salahnya berharap?”, Rex balik bertanya, membuatku melebarkan mata. “Berharap bikin kita lebih bersemangat hidup, kan? Tentunya, sambil disertai usaha yang konkret. —hlm. 144

Saya setuju 100% denganmu, NakūüėČ

“Aku selalu berharap ini terjadi , tapi aku nggak pernah benar-benar berpikiran kalau ini akan terjadi, Dy,” katanya dengan suara bergetar. Aku berpikiran sebaliknya, karena itu lebih mudah untuk kujalani.”

Aku mengangguk-angguk, bisa memahaminya. Kadang aku juga mengalaminya. Kadang aku mengharapkan suatu hal, walaupun di saat yang sama, aku berpikiran sebaliknya, untuk menghindari rasa sakit yang mungkin timbul jika aku tidak mendapatkannya. Seringnya, aku tetap akan merasa sakit tanpa mengetahui bagaimana rasanya jika aku berpikiran positif. —hlm. 155-156

No comment, Audy. Sepertinya kita semua pernah merasakannya ;( *pukpuk Regan*.

***

Title: The Chronicles of Audy: 21  Series: The Chronicles of Audy #2 | Author: Orizuka  | Edition: Indonesian language, 3rd Edition, Juni 2015, 308 pages, 19 cm | Publisher: Haru | My rating: 4 of 5 stars

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s