Posted in Books, Fairytale Retellings, Fantasy, Marissa Meyer, Spring, The Lunar Chronicles, Young Adult

Winter Review

***

“Putri muda itu secantik sinar mentari. Dia bahkan lebih cantik dibandingkan sang Ratu sendiri.”

Winter, hlm. 5

Tamaaaatt…, tapi saya belum mau berpisah dengan para pangeran dan putri ini, *pegang Pangeran Kaisar Kai erat-erat*, #eh.

Jadi, sampul buku keempat dari Seri The Lunar Chronicles ini ada gambar apel merahnya. Pasti kisahnya tentang Putri Salju. Whoaah, suka suka suka,  seri ini diawali dan diakhiri oleh dua dongeng pangeran putri favorit saya.

Seperti di tiga buku sebelumnya, hal yang paling menarik bagi saya saat membaca novel retelling adalah ada atau tidaknya identitas dongeng asli (menurut saya) yang diceritakan kembali di dalam buku ini dan bagaimana identitas tersebut diadaptasi. Ngomong-ngomong, dongeng asli yang saya maksud di sini adalah film animasi Putri Salju versi Disney, bukan kisah asli Putri Salju sendiri, *plaak*.

Oke, mari kita checklist satu-satu. Seorang ibu tiri yang iri dengan kecantikan putri tirinya? Ada. Pemburu yang ditugaskan untuk menyingkirkan sang putri, namun justru menyuruhnya lari alih-alih membunuhnya? Ada. Si putri yang tertidur karena memakan apel beracun? Ada. Ciuman pangeran yang membangunkan sang putri? Ada. Bahkan cermin yang jadi sumber masalah juga ada, walaupun cerminnya tidak bisa berbicara seperti yang ada di dongeng. Bagaimana dengan para kurcaci? Oke, tidak ada kurcaci, tapi peran kurcaci diganti dengan para penambang, dan saya rasa itu cukup bagus.

Ngomong-ngomong, keberadaan si pemburu ini membuat saya penasaran, seperti apa sih sebenarnya cerita asli dari dongeng Putri Salju? Apakah si pemburu dan si pengeran memang diperankan oleh tokoh yang sama? Kalau di film animasi Disney kan beda. Si pemburu digambarkan sebagai paman-paman jenggotan sedangkan pangeran digambarkan sebagai, errrr…, pangeran muda yang kebetulan lewat. Gambaran ini sudah terlalu melekat di kepala saya, sehingga kalau ada adaptasi kisah Putri Salju yang menceritakan kalau si pemburu dan pangeran adalah orang yang sama, maka otak saya sedikit kesulitan menerimanya, wkwkwk.

Oke, kembali ke petualangan Cinder dan kawan-kawan. Jadi, Cinder – Cinderella, Scarlet – Si Tudung Merah, dan Cress – Rapunzel sekarang bertemu dengan Putri Salju. Di novel ini, Putri Salju namanya Putri Winter. Winter ini dinobatkan sebagai gadis paling cantik di Bulan. Saking cantiknya, sampai-sampai Ratu Levana yang juga adalah ibu tirinya, iri. Ditambah lagi, Winter adalah gadis yang baik hati, sehingga kecantikannya bisa dikatakan lengkap.  Saking baiknya pula, Winter memutuskan untuk tidak menggunakan anugerah Bulan-nya, dan lebih memilih menjadi kurang waras daripada memanipulasi pikiran orang.

Nah, walaupun judulnya Winter, saya tidak merasa kalau Winter-lah tokoh utama di buku ini. Menurut saya tokoh utamanya tetap Cinder. Seakan-akan kaitan antara judul buku keempat ini dengan Winter hanyalah untuk memperkenalkan sekutu baru Cinder untuk melawan Levana.

Blurb:

Putri Winter dikagumi oleh penduduk Bulan karena kebaikan hatinya. Meskipun ada luka di wajahnya, banyak orang Bulan yang mengatakan bahwa Sang Putri lebih cantik daripada Ratu Levana.

Iri dengan Sang Putri yang dianggapnya lemah dan gila, Levana memerintahkan Jacin Clay, pengawalnya, untuk mengawasi Winter agar tidak mempermalukan sang Ratu dan kerajaannya. Namun Winter menyukai Jacin, hal itu justru membuatnya semakin terlihat lemah.

Hanya saja, Winter tidak selemah yang Levana kira. Bersama dengan Cinder, Sang Mekanik, dan para sekutunya, mereka bahkan mungkin bisa membangkitkan sebuah revolusi dan memenangkan perang yang sudah berkecamuk terlalu lama.

Dapatkah Cinder, Scarlet, Cress, dan Winter mengalahkan Levana dan mendapatkan kebahagiaan mereka selamanya?

Ngomong-ngomong, selain pasangan Cinder dan Kai, sepertinya saya juga memfavoritkan pasangan Winter-Jacin. Terutama pas di bagian akhir yang menggambarkan Jacin tampak mirip seorang pangeran saat berada di samping Winter, *tetibanaksirJacin*❤

Finally, sepertinya saya bakalan kangen sama Cinder dan kawan-kawan. Ceritanya indah seperti dongeng. Penampilan luar bukunya juga cantik. Berat rasanya meletakkan buku ini kembali ke dalam rak. Ditimang-timang lagi deh sebentar, hahaha. I really liked it.

***

Judul: Winter| Series: The Lunar Chronicles #4 | Pengarang: Marissa Meyer | Penerbit: Spring | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Agustus 2016, 900 halaman, 20 cm | Penerjemah: Yudith Listiandri | Status: Owned book | Beli di: Online @shansterID | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s