Posted in A Song of Ice and Fire, Books, Epic, Fantasious, Fantasy, George R.R. Martin, Series

A Clash of Kings Review

***

Seperti apa lagu es dan api?

(A Clash of Kings, hlm.1019)

***

Saya lagi-lagi meremehkan ketebalan buku kedua ini. Walaupun terasa lebih berat daripada buku pertama, saya merasa ketebalannya masih bisa ditoleransi. Saya dengan yakinnya mengira bisa menyelesaikannya dalam dua hari liburan yang tersisa untuk Posting Bareng Tema Liburan bulan Juli lalu. Alhasil, bukunya tidak selesai saya baca, posting barengnya juga ketinggalan. Saya bahkan sempat “selingkuh” dengan trilogi Inkworld dan Abarat dulu sebelum kembali membaca A Clash of Kings.

Jadi, yah, akhirnya, saya bisa menyelesaikan buku kedua dari seri A Game of Thrones ini. Bukunya beraaat. Baik secara fisik maupun isi. Tangan saya sampai pegal dan perasaan saya campur aduk, *eaaaaaa*.

A Clash of Kings, seru sekali. Menurut saya, bukunya ditulis dengan sangat bagus. Saya bisa tenggelam dalam dunianya. Bahkan setelah selesai pun, ceritanya masih terngiang-ngiang di kepala. Untunglah ending-nya tidak membuat penasaran seperti buku sebelumnya. Saya masih bisa sabar menunggu tabungan saya cukup untuk membeli buku-buku berikutnya yang sepertinya tidak kalah mahalnya.

Sayangnya, ada 5 bab yang hilang dari edisi ini. Jadi kalau nanti sudah selesai membaca sampai halaman 245— Waspadalah!— diantara halaman 245 dan 246 itulah seharusnya 5 bab yang hilang itu berada.

Kemudian, kalau sudah membaca sampai halaman 483, silakan skip saja sampai halaman 593, karena di sana ada 7 bab yang terulang.

Lanjuut, seperti judulnya, Peperangan Raja-Raja, menceritakan tentang … errr … peperangan Raja-Raja.

Jadi pasca meninggalnya Raja Robert, ada 3 orang yang mengklaim dirinya sendiri sebagai Raja, dengan alasan dan sikon mereka masing-masing. Di luar Raja Joffrey yang merupakan ahli waris sang Perebut Takhta, dan juga Ratu Daenerys yang merupakan ahli waris Raja yang takhtanya direbut, *eh*. Belum lagi para pengkhianat yang memanfaatkan hal tersebut untuk ikut-ikutan jadi Raja. Akibatnya, Westeros di buku ini sangat tidak aman.

Ngomong-ngomong, sebelumnya di A Game of Thrones, saya sangat terkesan dengan tokoh-tokohnya yang tampaknya sangat saling menyayangi antar keluarga mereka sendiri. Padahal mereka dengan gampangnya berkhianat dan membunuh orang-orang lain. Well, saya baru menyadari alasannya di sini.

Terus, Jojen Reed akhirnya muncul. Asek, saya sudah menunggu-nunggu. Kenapa? Karena di serial tv nya, Jojen diperankan oleh Thomas Brodie-Sangster. Itu tuh, aktor cakep berambut pirang yang memerankan Newt di Maze Runner   ❤

Nah, gara-gara Jojen, saya jadi penasaran bagaimana tampang tokoh-tokoh lain di serial TV-nya. Jadi setiap ada karakter yang muncul, saya “nanya” Om Google. Dan saya baru tahu, Tommen ternyata tak kalah ganteng daripada Joffrey. Dan tokoh-tokoh yang digambarkan cakep, memang benar-benar diperankan oleh aktor cakep, huehehe, *abaikan*.

Ngomong-ngomong, karena ini A Game of Thrones, saya sudah belajar untuk tidak menyukai karakternya secara berlebihan. Karena baik atau jahat, karakter utama maupun tidak, cakep atau jelek, semuanya bisa mati tanpa disangka-sangka.

Kemudian, adegan favorit saya adalah saat armada kapal Raja Stannis menyerang King’s Landing. Seru sekali. Rasanya saya bisa melihat adegan tersebut di kepala saya walaupun saya belum pernah menontonnya di serial tv.

Pasti adegan itu di serial tv-nya seru sekali ya? Tapi sepertinya saya tidak akan sanggup menontonnya, mengingat adegan itu adalah adegan peperangan di mana banyak sekali anggota tubuh yang terbakar, terpotong, terburai, hilang separo dan sebagainya. Tapi nanti kapan-kapan, kalau ngintip sedikit mungkin bisa, *eh*.

Sampai di bagian-bagian akhir buku, saya sampai kaget karena ceritanya sudah mencapai ending, padahal jumlah halamannya masih banyak yang tersisa. Hoo..how, ternyata saya diajak berkenalan dengan para Raja, para Klan dan penghuni kastelnya. Saya paling puyeng saat membaca Klan Frey. “Penghuninya” banyak sekali.

Finally, ada satu kutipan yang sangat berkesan dari buku tebal ini. Kutipan itu adalah,

Seisi dunia ini penuh dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan Jon. Andai saja sebagian dari mereka bisa menemukan keberanian untuk menolong diri sendiri. —hlm. 327

So, walaupun ada kesalahan dalam pencetakannya, saya rasa A Clash of Kings lebih seru dari buku pertamanya (kemungkinan gara-gara ada adegan perangnya sih). 4,5 dari 5 bintang untuk buku kedua dari seri A Song of Ice and Fire ini, setengah bintang lebih tinggi dari I really liked it, apapun sebutannya untuk itu,  😄

***

Judul: A Clash of Kings – Peperangan Raja-Raja  | Seri: A Song of Ice and Fire #2 | Pengarang: George R.R. Martin | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, November 2015 | Penerjemah: Barokah Ruziati | Penerbit: Fantasious | Jumlah halaman: XLVI + 1200 halaman | Status: Owned book (@HobbyBukuShop) | Rating saya: 4,5 dari 5 bintang

Advertisements

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

2 thoughts on “A Clash of Kings Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s