Posted in Abarat, Books, Clive Barker, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama

Days of Magic, Nights of War Review

***

“Masalahnya, kita tidak pernah terlalu lama menjaga agar kenangan-kenangan dalam ingatan kita tetap jelas.”

(Days of Magic, Nights of War, hlm. 405)

Blurb

Petualangan-petualangan Candy Quackenbush di Abarat kini semakin aneh dan menegangkan. Christopher Carrion, sang Penguasa Tengah Malam, telah mengirimkan kaki-tangannya untuk menangkap Candy. Kenapa? Apa yang dikehendaki Carrion dari gadis asal Minnesota ini? Dan kenapa Candy mulai merasa bahwa Abarat bukanlah dunia yang asing baginya? Dia bahkan bisa mengucapkan kata-kata bertuah yang entah kapan pernah dipelajarinya.

Ini misteri besar. Dan Carrion, bersama neneknya yang jahat, Mater Motley, curiga bahwa siapa pun Candy sebenarnya, dia bisa menghancurkan rencana-rencana mereka untuk menguasai Abarat.

Kini teman-teman Candy mesti berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Candy dari cengkeraman Carrion, dan Candy mesti memecahkan misteri masa lalunya sebelum kekuatan Malam dan Siang berperang dan Tengah Malam Total melingkupi seluruh kepulauan itu.

Sebentar lagi pecah perang yang penghabisan. Dan Candy harus menentukan pilihan-pilihan yang akan mengubah hidupnya selamanya

My Review

Ummm…apa saya saja ya, yang merasa kalau nama Christopher Carrion itu keren, *eh. Puisi yang dia buat untuk Puteri Boa juga bagus-bagus, (tiba-tiba merasakan simpati kepada Carrion gara-gara ending-nya). Sayang, aura jahatnya sampai sebegitunya, sampai-sampai orang yang pertama kali melihat, akan langsung tahu kalau dia jahat, (abaikan kalau tampangnya memang jelek).

Sepertinya saya gagal paham, sebenarnya, tokoh Carrion itu mau digambarkan seperti apa sih sama penulisnya. Jahat banget sampai ga bisa ditolong lagi, atau masih bisa baik asalkan ada yang mencintainya. Ngomong-ngomong, foto Clive Barker di buku kedua ini cakep yak, *eeeehhhhhh.

So, Days of Magic, Nights of Warsmasih menceritakan tentang petualangan Candy di Abarat. Kali ini petualangannya lebih seru. Dimanapun Candy berada, sepertinya dia tidak bisa berdiam diri lama-lama. Maklumlah, ada “penggemar rahasia” yang selalu mengejar-ngejar.

Meskipun Candy tampaknya semakin baik hati dan semakin hebat, tapi somehow, saya merasa Candy jadi plin-plan. Tapi wajar sih, soalnya di dalam tubuh Candy kan ada …. errr …. dia.

Di sini, banyak tokoh baru yang muncul. Kita akan berkenalan dengan Finnegan Hob, yang berkebalikan dengan Carrion, begitu kita melihat Finnegan, kita akan langsung tahu kalau dia orang baik (abaikan kalau tampangnya memang cakep).

Oh ya, dan kita akan lebih mengenal nenek Carrion di sini. Sang ibu suri, Mater Motley, yang gemar menjahit, haha. Tapi sayang, yang nenek jahit bukan baju, tapi makhluk mengerikan yang dikenal dengan nama pasukan tambal sulam. Haduh, si nenek, kayak di Abarat masih kekurangan makhluk mengerikan saja.

And finally, karena saya belum punya buku tiganya, terpaksa saya harus menghentikan “petualangan” saya di Abarat, (bukunya mahal bingit, nunggu tabungan cukup dulu). Untung akhir buku kedua ini tidak terlalu membuat penasaran.  So, 4 dari 5 bintang lagi untuk buku kedua Abarat. I really liked it  (‘▽’ʃƪ) ♥

***

Judul: Abarat | Seri: Abarat #2 | Pengarang: Clive Barker| Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa IndonesiaCetakan pertama, Jakarta, Juni 2007, 508 halaman, 23 cm | Alih bahasa: Tanti Lesmana | Status: Owned Book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s