Posted in Non Review

Scene on Three #54: Abarat

Scene on Three hosted by Bacaan Bzee

Dulu Pyon pulau yang tenang, tapi sekarang tidak lagi. Sentuhan tangan seorang wiraswasta bernama Rojo Pixler telah mengubah keseluruhan pulau ini sepenuhnya. Pixler memimpikan (ada juga yang menyebut ini sebagai kebodohannya) membangun kota paling besar di Kepulauan Abarat ini di Pyon.

Pixler bukan hanya mentransformasi Pyon, tapi lambat laun (dan menurut pendapat saya, si penulis, ini patut disesali) dia mungkin akan mentransformasi keseluruhan kepulauan ini. Tidak ada yang bisa menghindari Panacea-nya, atau maskotnya yang periang, si Commexo Kid.

Tapi barangkali tidak salah kalau saya katakan bahwa orang seperti Rojo Pixler sama sekali tidak menaruh minat pada masa lampau. Pandangannya hanyar terarah ke masa depan. Hidup yang dijalani dalam pengharapan tanpa henti mungkin ada bagusnya juga, untuk sementara. Tapi ini hanya cocok untuk orang muda. Kelihatannya Mr. Pixler belum menyadari kefanaannya. Kalau dia sudah menyadarinya, saya rasa dia akan bisa lebih menghormati segala sesuatu yang terkubur tenang di dalam tanah, sebab suatu hari nanti dia pun akan menjadi bagian dari mereka.

(Cupilkan dari Almenak Klepp, hlm. xvi-xvii)

Saya tidak yakin apakah cuplikan Almenak Klepp yang ada di buku Abarat ini memenuhi kriteria sebuah scene atau tidak. Tapi saya menemukan sesuatu yang menarik dari apa yang tertulis di Almenak ini.

Saya rasa saya pernah bertemu orang seperti Pixler, tipe pengusaha yang punya banyak uang untuk membangun apapun yang dia inginkan, tanpa mempedulikan apa akibatnya bagi alam.

Saya pernah mendengar orang tersebut berkomentar tentang rawa yang membentang luas di daerah Kalimantan. Katanya, payah sekali kenapa pemerintah daerah tidak memanfaatkan lahan tersebut? Kenapa dibiarkan begitu saja?Kenapa di lahan seluas itu tidak dibangun taman bermain seperti waterboom saja atau dufan? Daripada dibiarkan nganggur seperti itu.

Saya langsung speechless.  Dosen saya di kampus (saya dulu kuliah di Fakultas MIPA) pernah bilang kalau rawa itu adalah salah satu area lahan basah di Indonesia yang harus dilindungi dan harus dibiarkan apa adanya seperti itu. Ada banyak sekali peran yang dimainkan oleh lahan tersebut terhadap alam. Termasuk diantaranya mengikat gas-gas beracun. Belum lagi rawa tersebut merupakan rumah bagi ratusan spesies rawa sebagai keanekaragaman hayati Indonesia.

Bahkan sepetak tanah berumput pun adalah sebuah ekosistem kecil, menghancurkannya berarti menghancurkan sebuah ekosistem. Jadi tidak heran kalau di kampus saya area “hayati”-nya masih jauh lebih banyak daripada area semen. Bahkan untuk tempat parkir pun sepertinya sengaja didesain agar tidak terlalu banyak “memakan ekosistem-ekosistem” itu. Bagaimana tidak? Berani menghancurkan sepetak tanah saja ada dosen yang ilfil,😄.

Betapa berbedanya pandangan kedua orang itu. Yang jelas apa yang dilihat oleh dosen saya ketika memandang “rawa nganggur” sangat berbeda dengan apa yang dilihat oleh si orang kaya.

Kalau tidak segera dilindungi, setiap saat orang-orang seperti Rojo Pixler itu bisa saja beraksi. Saya juga pernah menonton acara National Geographic tentang kebakaran hutan di Indonesia. Katanya saking korupnya Indonesia, orang lokal yang tidak punya banyak uang dan kekuasaan sebanyak orang-orang kaya itu, bakalan tidak punya pilihan lagi untuk bisa melindungi sumber daya alam hayati tersebut atau tidak, termasuk pemerintahnya. Bahkan untuk melindungi hutan yang menjadi subjek penelitiannya, peneliti dari National Geographic itu membeli hutan tersebut supaya tidak bisa diganggu gugat lagi oleh orang-orang kaya lain.

Seandainya saya juga punya uang sebanyak itu untuk membeli area rawa tersebut, *eh*. Yah saya hanya bisa berharap rawa itu tetap terlindungi. Semoga dia bebas dari campur tangan orang kaya yang tidak peduli dengan alam. Sudah sangat buruk hutan-hutan di sini dibakar, tolong jangan ganggu rawanya juga.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s