Posted in Abarat, Books, Clive Barker, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama

Abarat Review

***

“Lebih baik mencari tahu kalau waktunya memang sudah tiba. Segala sesuatu ada Jam-nya”

Biarlah Jam-Jam yang akan datang membawa peristiwanya sendiri nanti.

(Abarat, hlm. 408-409)

Blurb

Peristiwanya berawal di tempat paling membosankan di dunia: Chickentown, U.S.A. Kota yang lebih banyak dihuni ayam daripada manusia. Di sinilah Candy Quackenbush tinggal. Dan ia bertanya-tanya, seperti apakah masa depannya nanti.

Jawabannya datang secara tak terduga. Pertemuan mendadak dengan John Mischief (dia punya 7 saudara yang tinggal di tanduk-tanduk di kepalanya), dan kemunculan Laut Izabella entah dari mana, membawa Candy ke dunia lain.

Dunia bernama ABARAT: sebuah kepulauan luas yang tiap pulaunya memiliki jam berbeda. Antara lain Pulau Yebba Dim Day yang jamnya selalu Jam Delapan Malam, Pulau Jam Tiga Siang yang hangat, tempat naga-naga berkeliaran, sampai Pulau Gorgossium alias Pulau Tengah Malam yang dihuni oleh Christopher Carrion, Pangeran Tengah Malam yang suka meneror orang dengan mimpi-mimpi buruk.

Candy berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mendapat teman-teman baru dan musuh-musuh aneh—serangga-serangga bermesin, kupu-kupu raksasa, kucing-kucing belang, manusia dari lumpur, tukang sihir jahat dan budaknya yang ketakutan—dan akhirnya ia sadar: Ia pernah berada di sini.

Pasti ada sebabnya, kenapa ia berada di sini, ia “dibawa” ke Abarat untuk menyelamatkan kepulauan ini dari kekuatan-kekuatan jahat yang sedang menggeliat bangkit di jantungnya. Kekuatan-kekuatan yang lebih tua daripada Waktu, dan lebih jahat daripada apa pun yang pernah dilihat Candy.

Aneh rasanya, menjadi pahlawan di sini. Tapi Abarat memang dunia aneh.

Dan di sini segala sesuatu mungkin terjadi.

My Review

 

Sejak dulu sudah kepingin baca Abarat, sayang bukunya sudah mulai langka. Saat coba-coba baca ebooknya sedikit, eh sepertinya seru banget. Coba-coba baca review teman-teman, ada dapat info kalau bukunya ternyata ada ilustrasinya, berwarna-warni pula. Haduh jadi makin kepingin.

Dan, walaupun harus menderita ongkir yang sangat mahal, syukurlah akhirnya saya punya Abarat juga. Ternyata bukunya cantik sekali. Langsung deh dibaca.

So, dari blurb di atas, yang saya comot dari bukunya, sudah terbayang kan ya ceritanya seperti apa. Seperti kebanyakan kisah fantasi lainnya, pahlawan kita di buku ini juga masuk ke sebuah dunia lain. Cuma cara masuknya saja yang beda-beda. Kalau Candy, masuknya lewat laut yang dikenal dengan nama Laut Izabella. Di dunia manusia normal, Candy hanyalah anak sekolahan biasa. Tapi di dunia Abarat, lain ceritanya.

Di buku pertama dari seri Abarat ini, bersama Candy, kita akan diajak mengenal dunia Abarat yang aneh, dengan pulau-pulau yang memiliki jamnya sendiri, dengan penghuni-penghuninya yang tak kalah anehnya, dengan masalah yang sedang terjadi di sana, dan sebagainya.

Meskipun baru tiba di Abarat, Candy berani sekali berkeliling sendiri. Sama sekali tidak takut melihat penampilan penduduk Abarat yang aneh dan cenderung seram kalau menurut saya. Candy tidak mengkhawatirkan masalah-masalah seperti dia nanti makan apa atau tidur di mana. Kalau saya, mungkin baru melihat John Mischief saja sudah pingsan duluan. Jadi pesan moral pertama yang saya tangkap, jangan menilai penduduk Abarat dari penampilannya,😄

Ngomong-ngomong, menurut saya, karakter kepahlawanan Candy mulai terlihat di buku pertama ini. Saya bahkan mulai curiga tentang siapa sebenarnya Candy. Jangan-jangan dia adalah … . Oke, nanti saja. Sekarang buku kedua Abarat mulai memanggil-manggil untuk dibaca. Mumpung masih hari minggu, semoga bisa kelar membacanya hari ini.

 

At last, menurut saya, Abarat adalah tipe buku yang bisa meningkatkan minat baca, hanya dengan melihat judul dan covernya doang. Ceritanya juga asik, dengan syarat kalian yang membaca suka kisah fantasi yang penuh dengan makhluk-makhluk aneh di luar logika. Ilustasinya juga keren, walaupun rada seram. So,  4 dari 5 bintang untuk Abarat. I really liked it  (‘▽’ʃƪ) ♥

***

Judul: Abarat | Seri: Abarat #1 | Pengarang: Clive Barker|Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa IndonesiaCetakan pertama, Jakarta, Juni 2003, 440 halaman, 23 cm | Alih bahasa: Sutanty Lesmana | Status: Owned Book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s