Posted in Books, Cornelia Funke, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Inkworld

Inkdeath Review

***

“Ketika kau begitu mencintai sebuah buku hingga membacanya lagi dan lagi, tahukah kau apa yang kau harapkan? …Kau ingin masuk ke buku itu.”

(Inkdeath, hlm. 36)

***

SPOILER ALERT

***

Blurb

Di Inkworld, kehidupan ternyata jauh dari mudah setelah berbagai peristiwa luar biasa Inkspell, ketika Meggie, Mo, dan Staubfinger kembali memasuki dunia di dalam buku.

Dengan tewasnya Staubfinger dan berkuasanya Pangeran Perak yang kejam, kisah yang memerangkap mereka pun berubah ke arah yang tak diinginkan.

Bersama kedatangan musim dingin, harapan kembali timbul, tapi hanya kalau Meggie dan Mo dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan masa lalu dan membuat kesepakatan berbahaya dengan kematian…

My Review

Segalanya tampak semakin buruk di Tintenwelt. Kehadiran Orpheus adalah salah satu penyebabnya. Siapa sangka, Orpheus ternyata jauh lebih berbahaya dibandingkan kelihatannya.

Kasian Mo, selain harus menghadapi kedengkian Orpheus, dia juga harus menghadapi kemarahan Pangeran Perak dan juga kemarahan dari Kematian sekaligus.

Tapi tampaknya Mo enjoy saja, bisa dibilang dia menikmati semua bahaya di Tintenwelt. Resa dan Meggie sampai terus-terusan dibuat khawatir olehnya. Sampai-sampai Mo tidak mau pulang kalau masalah di Tintenwelt belum selesai. Sayangnya, masalah sepertinya tidak akan selesai kalau ada dua penulis di sana yang seenaknya menulis ini itu dan merusak jalan cerita.

Untunglah Inkheart sepertinya tetap membandel untuk memutuskan jalan ceritanya sendiri. Berbagai kemungkinan masih bisa terjadi. Termasuk kemenangan pihak jahat yang sepertinya memiliki peluang lebih besar ketimbang kemenangan pihak baik.

***

Selesaaaaaaaai.

Saya lebih cepat membaca Inkdeath daripada Inkspell. Walaupun ending-nya Inkspell jauh lebih seru daripada ending-nya Inkdeath.

So, Inkdeath ceritanya sama kelamnya dengan dua pendahulunya. Ada saja kejadian-kejadian yang meruntuhkan harapan yang sempat melambung.

Tapi asik sih membacanya. Walaupun saya sedikit ga sreg dengan ending-nya. Ending-nya itu, somehow, membuat saya merasa bahwa kisah ini mengarahkan kita untuk berpikir bahwa dunia di dalam cerita itu lebih bagus untuk ditinggali daripada dunia kita sendiri.

Namun senangnya, buku ini sepertinya juga memberitahu kalau orang yang suka membaca itu belum tentu bisa menulis. Dan orang yang suka menulis belum tentu bisa menjadi pendongeng yang hebat.

Tapi tetap sih ada orang menyebalkan yang bisa keduanya seperti Orpheus, wkwkwk, walaupun tulisan Orpheus juga tidak 100% orisinil.

At last, ini adalah 4 dari 5 bintang juga untuk Inkdeath. I really liked it  (‘▽’ʃƪ) ♥

***

Judul: Inkdeath | Seri: Inkworld #3 | Pengarang: Cornelia Funke | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia; Cetakan pertama, Jakarta, Desember 2012; 728 halaman; 23 cm | Alih bahasa: Monica D. Chresnayani | Status: Owned Book (@HobbyBuku) | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

One thought on “Inkdeath Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s