Posted in Books, Dreamedia, Indonesian Literature, Islamic, Nayla Hafiza, Romance

Mutiara Cinta Dari Bangil Review

***

SPOILER ALERT

***

Blurb:

Sosmed, alias Sosial Media. Siapa yang tidak tahu? Semua orang tahu. Ada facebook, instagram, BBM dan masih banyak lagi. Dari yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar sampai yang sudah bercucu memilikinya. Novel ini mengisahkan seorang perempuan biasa bernama Nayla, yang jatuh cinta kepada santri yang sedang menuntut ilmu di Bangil, bernama Fadhil. Perkenalan mereka hanya melalui facebook dan BBM. Namun cinta tumbuh subur begitu saja di hati Nayla, setelah ia tahu siapa sebenarnya Fadhil. Sifat Fadhil yang cuek membuat Nayla galau. Ditambah lagi ketika Fadhil mengganti Display Picturenya menjadi foto perempuan yang dirabunkan. Nayla hampir pingsan. Ketika galau, gelisah, dan gundah membuncah, hadirlah sosok Ilham yang mengaku temannya Fadhil. Ilham sangat romantis dan perhatian terhadap Nayla. Sangat kontras dengan Fadhil. Namun lagi-lagi, perkenalan mereka hanya melalui dunia maya. Ketika Nayla dan Ilham mulai akrab, hadirlah sosok Fahmi di dunia nyata Nayla. Fahmi melamar Nayla. Meskipun bahagia, Nayla masih belum bisa melupakan Fadhil. Kesetiaan Nayla kepada Fahmi diuji ketika ia dipertemukan dengan cinta sejatinya, yaitu Fadhil. Sementara Ilham pun sangat cemburu dan marah ketika Nayla menerima lamaran Fahmi, dan hendak bertunangan. Kepada siapa cinta Nayla akan berlabuh? Apakah kepada Fahmi yang sudah jelas menjadi tunangannya? Atau kepada Ilham yang selalu ada ketika ia merasakan sakit hati? Atau kepada Fadhil yang selalu ia simpan dalam laci hatinya? Temukan jawabannya di Mutiara Cinta Dari Bangil.

My Review:

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada partner in crime book saya yang sudah memperkenalkan buku ini. Sebelumnya saya tidak tahu kalau buku ini ada. Secara saya berada di luar “lingkaran pergaulan” penulisnya walaupun kami sama-sama tinggal di Kalimantan Selatan. Kalau teman saya itu sih dulunya satu kampus sama si penulis, jadi dia bisa tahu kalau ada lagi satu penulis dari Kalsel yang bukunya sudah release.

Btw, saya senang sama partner in book saya yang satu ini. Biasanya, teman-teman saya yang lain, kalau ada buku baru, ngomongnya pasti begini, “Ra, ada buku baru loh, kalau kamu beli, aku pinjem ya?”. Nah kalau dia bilangnya kira-kira begini, “Ra, ada buku baru, kalau kamu beli, aku nitip beli ya?, ntar uangnya kuganti”. Senangnyaaaa, eh tapi, saya lebih senang lagi kalau teman saya itu bilang begini, “Ra, ada buku baru, kalau kamu beli, aku nitip beli ya?, ntar aku yang bayarin dua-duanya”, wkwkwkwk,  *becandaAz*, *sungkem*.

Oke lanjut, menurut saya menulis review untuk buku penulis lokal lebih susah daripada menulis review buku penulis luar. Susahnya itu cuma dimasalah bahasa sih, kalau penulis lokal kan mengerti apa yang saya tulis, kalau penulis luar tidak.

Penting ga sih? Menurut saya sih penting kalau secara tidak sengaja si penulis nyasar ke blog saya. Kata-kata bisa menjadi sangat berbisa. Sudah ada beberapa kejadian kan, penulis merasa ilfil dengan para pembaca karena reviewnya yang kelewat “pedas”.

Walaupun saya yakin, reviewer itu sama sekali tidak ada maksud untuk menjelekkan hasil kerja keras para penulis. Itu cuma pendapatnya dia. Ada banyak hal yang melatarbelakangi kenapa seseorang tidak menyukai sebuah buku. Dan kalaupun pembaca yang satu itu tidak suka, yakinlah, masih banyak pembaca di luar sana yang suka.

Jadi yang kedua, saya pengen minta maaf terlebih dahulu deh kepada penulis dan para penggemarnya. Mungkin dari review yang saya post ini ada kata-kata yang membuat tersinggung (mudah-mudahan tidak). Tolong jangan diambil hati ya. It’s just my opinion kok😉

Apapun pendapat saya, yang penting bukumu sudah rilis. Anggap saja pendapat saya sebagai masukan untuk perbaikan kedepan. Tetap semangat menulis, publikasikan buku baru lagi dan harumkan nama Kalsel. *sokmenasihati*,😀

Terus, lanjut ke review-nya. Dari blurb di atas, saya rasa sudah jelas cerita novel ini tentang apa. Masuk ke dalam genre romance yang jujur saja bukan my cup of tea. Untunglah ada unsur islaminya, ditambah lagi, seperti yang teman saya bilang, kita-kita penasaran seperti apa buku yang ditulis oleh penulis lokal dari Kalsel ini,😉

Dan untuk ukuran buku yang diterbitkan oleh penerbit lokal, saya rasa saya perlu kasih applause karena typo-nya minim sekali. Tingkatkan! Kalau bisa berantas saja itu typo. Soalnya biar cuma sedikit, typo itu lumayan mengganggu juga.

Oh ya selain typo, saya juga sedikit kurang nyaman dengan blurb yang ada di sampul belakang buku. Kok tidak ada paragrafnya ya? Membacanya jadi terasa panjang sekali. Padahal saya rasa blurb merupakan salah satu daya tarik pertama terhadap sebuah buku selain sampul.

Terus kalau dari segi gaya penceritaan, saya rasa gaya ceritanya masih sedikit kaku. Ada beberapa scenes yang saya rasa tidak perlu ada.

Saya juga menemukan hal yang lain dari yang lain dari novel ini. Yaitu saat penyebutan merek motor dan mobil yang dipakai oleh tokoh-tokohnya. Kenapa tidak disebut mobil atau motor saja ya tanpa menyebut mereknya? Apakah ada alasan tertentu dibalik penyebutan merek itu?  Kalau iya maka tidak jadi masalah sih. Tapi kalau tidak, saya merasanya penyebutan merek itu sedikit mengganggu. Apalagi disebutnya berulang-ulang sehingga mencuri perhatian saya. But, that’s no big problem, kok.

Lanjut dari segi tokoh-tokohnya, jujur, saya sedikit kecewa dengan penggambaran tokoh Ilham, terutama saat Nayla berkunjung ke rumah Fahmi. Dalam bayangan saya, seorang santri tidak sampai sebegitunya kali jahatnya. Apalagi Ilham kan diceritakan mondok di Bangil.

Saya juga sedikit ilfil dengan Fadhil di awal-awal. Fadhil tega banget sih memasang display picture cewek di profilnya. Jahaaaaat. Walaupun alasannya dijelaskan di bagian ending, tapi saya tetap tidak bisa menerima, wkwkwk.

Itu beresiko banget loh, Fadhil. Kita para cewek, kalo liat cowok yang kita suka memasang diplay picture cewek lain di medsosnya, maka hal itu akan membuat kita mundur teratur sambil mengibarkan bendera putih setengah tiang (ini kata-katanya @acilLia loh ya, ahahaha, *kabur)

Selain Fadhil, saya juga sedikit ilfil dengan Nayla. Bisa-bisanya dia membiarkan Fadhil ngomong sendiri selama dua jam ditelpon. Whuaah..asli deh saya gregetan banget.

Btw ada satu pesan yang ngena banget dari novel ini,  pernah kejadian di dunia nyata soalnya, wkwkwk.

Ini soal menanyakan informasi tentang orang yang kita suka ke orang lain.  So, pesan moralnya, buat para cowok (atau mungkin bisa buat cewek juga kali ya), hati-hati kalau menanyakan soal cewek/cowok ke teman kalian atau ke tetangga, siapa tahu teman/tetangga kalian juga naksir dia atau dendam sama dia karena pernah ditolak (eh) ataupun maksud tersembunyi lainnya, terus dia mengatakan informasi yang tidak benar, yang membuat kalian dan calon doi kalian malah saling menjauh padahal kalian sebenarnya sudah sama-sama suka. Nah kalau sudah seperti itu jadi ribetlah urusannya.

Okelah, setelah memaparkan bagian-bagian yang ga enak, saya mau bilang kalau saya terkesan sekali dengan kisah cinta para santri dan santriwati ini. Ini bukan kisah cinta santri dan santriwati pertama yang saya baca, tapi tetap saja, membacanya kisah cinta para santri itu….errrr….semacam bisa menghangatkan hati, *eaaaaaa.

Para santri ini bisa mantap memilih pasangan hidup tanpa banyak ba bi bu. Asalkan ilmu agama Islam si calon yang dilihat sudah sesuai kriteria, mereka berani langsung melamar ke keluarga ceweknya, kereeen.

Yang keren lagi  saat ayahnya Nayla menanyakan pertanyaan ke calon menantunya. Pertanyaannya kayak gini nih, “pernah mondok di mana?”, bukan, “apa pekerjaanmu?” atau “apa jabatanmu?”.  So sweet banget sih ini kalau menurut saya. Etapi ini calon menantunya yang ditanya tapi kok saya yang terharu  ya, ahaha.

Terus saya juga suka dengan puisi-puisi yang ikut nangkring di novel ini. Sedikit hiperbola sih kalau menurut saya, tapi manisss.

Lalu, saya juga suka dengan doa-doa yang diselipkan di kisah Nayla. Tapi saran saja, kalau doanya bahasa Arab, tolong konsisten dituliskan juga terjemahannya. Memang ada beberapa yang ada terjemahannya, tapi ada juga yang tidak. Kasihan atuh mah orang-orang kayak saya yang bahasa Arabnya belum khatam, *garukgarukkepala*.

Ngomong-ngomong, saya menduga-duga kalau genre novel semacam ini bakalan membuat saya nangis badai. Tapi ternyata tidak eh. Yang membuat saya nangis bukan kisah cinta Nayla yang penuh tragedi ,*halah*, melainkan kisah cinta pendek yang ada di halaman 109 – 111. Kisah cinta yang ini, somehow, bisa membuat saya menitikkan air mata.

Dan saya yakin, kalian juga akan menitikkan air mata kalau membacanya. Penasaran? Silakan baca sendiri bukunya ya, ahaha.

At last, saya memutuskan untuk memberikan 3 dari 5 bintang untuk buku ini. Yeap, i liked it 😉

***

NB:

Hampir lupa, diucapan terima kasih buku ini, ada orang yang saya kenal ternyata. Mau say hai aja nih ke Sri Meldayani, teman seangkatan saya saat Diklat Prajabatan. Aseek, nama ‘Incess   bisa masuk dalam sebuah novel. Keren Cess. Two thumbs up for you. Huha. 😄

***

Judul: Mutiara Cinta Dari Bangil | Pengarang: Nayla Hafiza | Penerbit: Dreamedia | Edisi: Cetakan I,  Banjarmasin, April 2016 | Status: Owned book | My Rating: 3 dari 5 bintang

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

2 thoughts on “Mutiara Cinta Dari Bangil Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s