Posted in Books, Fantasy, Hugh Howey, Mizan Fantasi, Post-apocalypse, Review 2016, Silo Trilogy

Wool Review

***

If the lies don’t kill you, the truth will.

Saya penasaran sekali kenapa Wool sepertinya kurang cetar membahana…..

Saya suka sekali dengan seri Wool. Waktu itu saya baca versi bahasa Inggrisnya. Tidak sengaja, iseng-iseng ikut baca bareng di salah satu grup di Goodreads.

Saya senang sekali ketika mengetahui Wool diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Menurut saya cover edisi bahasa Indonesia jauh lebih keren. Sayangnya, saya perlu mikir dua kali tiap mau membeli Wool edisi ini. Selain karena saya sudah pernah membaca kisahnya, harganya waktu baru terbit juga membuat saya pengen nangis di toko buku ;(.

Saya yakin sekali, Wool bakalan populer, namun sepertinya, tidak seperti itu.

Karena penasaran, saya akhirnya membeli Wool edisi bahasa Indonesia juga. Dan ternyata, Wool memang tidak seseru yang saya ingat.

Saya rasa bukan karena terjemahannya, seperti yang sebelumnya saya duga berdasarkan review-review di Goodreads. Saya merasa nyaman-nyaman saja dengan terjemahannya. Walaupun membaca dalam bahasa aslinya memang jauh lebih greget.

Buku pertama seri Silo ini, memang tidak terlalu seru dibandingkan dengan sekuel-sekuel berikutnya. Saya baru ingat, saya baru suka sekali dengan seri Silo setelah membaca buku keduanya yang berjudul Shift.

Buku pertamanya, bagian awalnya memang lambat dan bikin bosan. Endingnya juga tidak terlalu memuaskan. Yang membuat saya bertahan waktu itu adalah kejutan-kejutan yang ada di dalam ceritanya. Juga clif-hanger yang hampir ada di akhir setiap chapter.

Dan sekarang, saat membaca Wool untuk yang kedua kalinya, saya sudah tahu (dan masih ingat) keseluruhan cerita seri Silo, kejutan-kejutan dan clif-hanger itu jadi tidak berefek lagi.

Meskipun begitu, saya lumayan suka dengan Wool edisi bahasa Indonesia ini. Ada beberapa detail yang terlewatkan waktu saya membaca edisi bahasa Inggrisnya, yang baru saya pahami setelah membacanya dalam bahasa ibu,😄.

Memang Wool ini ceritanya tentang apa sih? Kalau saya bilang sih, pertama-tama, jangan terlalu termakan judul. Wol bukan hanya sekedar kain yang digunakan untuk membersihkan lensa silo. Wol juga melambangkan hal-hal yang sering terjadi saat kita merajutnya menjadi sebuah kain. Ketepatan, kekusutan, serta penguraian yang mungkin terjadi. Dan meskipun wol itu berhasil dirajut dengan sempurna untuk hal yang berguna seperti untuk membersihkan lensa silo, justu pembersihan itulah yang akhirnya menjadi masalah. *sotoy mode on*.

Jadi, di dunia Wool, udara sudah sebegitu beracunnya sampai manusia tidak lagi bisa hidup di atas tanah. Mereka hidup di dalam silo, semacam menara silindris bawah tanah yang jauh menghujam bumi.

Silo ini terbagi menjadi lantai-lantai yang hanya dihubungkan oleh tangga (tanpa ada lift, bayangkan bagaimana pegalnya). Setiap satu atau beberapa buah lantai menjalankan fungsi yang berbeda-beda. Lantai bagian atas menjadi lantai pemerintahan, milik Walikota dan Sheriff. Makin ke bawah ada lantai khusus TI, lantai pertanian, lantai persediaan, dan paling bawah ada lantai khusus mekanik. Pengiriman barang atau pesan antar lantai dilakukan oleh orang-orang dengan profesi khusus yang disebut portir.

Pembicaraan bahwa manusia pernah hidup di atas bumi menjadi hal terlarang. Mereka yang bahkan sekedar memikirkannya pun bisa terancam dihukum. Hukumannya “manis” sekali, mereka “diijinkan” menuju ketempat yang mereka inginkan. Mereka “diijinkan” untuk keluar.

Orang-orang yang dikirim keluar ini diharuskan membersihkan lensa silo. Lensa inilah satu-satunya sarana bagi penduduk silo untuk melihat dunia atas yang sudah mati. Lensa ini seakan menjadi pelindung tembus pandang yang selalu terhantam kotornya udara di atas tanah yang tercemar.

Nah, disinilah masalahnya. Mengapa orang-orang yang dikirim untuk mati itu selalu saja masih mau repot-repot membersihkan lensa? Padahal mereka seharusnya membenci orang-orang di dalam silo yang telah mengirim mereka keluar. Padahal mereka sebelumnya telah bersumpah untuk tidak membersihkan lensa. Peduli amat kalau orang-orang di dalam silo tidak bisa melihat pemandangan dunia luar.

Di cover Silo edisi bahasa Inggris yang saya lihat di Goodreads, ada kata-kata “If the lies don’t kill you, the truth will”. Menurut saya, kata-kata itu mewakili bagian pertama buku ini. Bagian yang menceritakan awal mula terjadinya masalah saat Sheriff Holston mengajukan diri untuk misi mematikan karena peristiwa yang menimpa istrinya. sang istri tampaknya telah berhasil menemukan sesuatu yang salah dalam pembersihan, dia berencana menghindari kebohongan, namun kebenaran pun akhirnya merenggut nyawanya.

Hal yang sama hampir terjadi kepada Juliette. Wanita cerdas yang dipandang sebelah mata karena berasal dari bagian mekanik di silo bagian bawah. Juliette yang secara tiba-tiba terpilih untuk menduduki sebuah jabatan di silo bagian atas.

Pengalamannya menghadapi mesin yang bermasalah mungkin tidak cukup untuk menghadapi tipu muslihat silo bagian atas, tapi dapat menyelamatkan nyawanya, baik dari kebohongan maupun kebenaran yang tersembunyi di dalam silo selama ratusan tahun.

At last, saya masih terkesan dengan cara penulis mengungkapkan rahasia-rahasia Silo. Clifhanger di setiap chapter seharusnya bisa mengalahkan kebosanan di cerita bagian awal yang menurut saya cukup lambat. Intipan prolog buku kedua seri Silo di bagian akhir buku seharusnya bisa membangkitkan rasa penasaran tentang awal pembentukan Silo.

Semoga lanjutan seri Silo tetap diterjemahkan. Karena menurut saya, buku keduanya jauh lebih seru daripada buku pertama😉

***

Judul: Wool | Seri: Silo #1 | Pengarng: Hugh Howey | Penerbit: Mizan Fantasi | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, September 2014, 734 halaman | Penerjemah: Dina Begum | Tempat beli: Obral Buku Murah Mizan Menyambut  Ramadhan @ Ponpres Rakha Amuntai | Harga: Rp15.000,- | Status: Owned book | Rating saya: 3 dari 5 bintang

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s