Posted in Ahmad Fuadi, Bentang Pustaka, Books, Family, Indonesian Literature, Review 2016, Tasaro G.K.

Rindu Purnama Review

Rindu Purnama by Tasaro G.K. dan A. Fuadi

***

Pertanyaan: Apakah semua orang dewasa susah dimengeri?

Jawaban: Tidak selalu. Tidak semua orang dewasa susah dimengerti. Mereka hanya tak cukup berani untuk bermimpi

—Rindu Purnama, hlm 343

Blurb:

Bagi Sarah, rumah singgah itu adalah matahari baru. Cintanya kepada anak-anak jalanan asuhannya membuat tubuh sekaratnya lebih kuat. Namun, betapa hancur hati perempuan lembut itu tatkala Rindu menghilang. Rindu bukan sekadar anak jalanan biasa. Anak itu adalah penghubungnya dengan masa lalu yang mendorongnya terus bertahan hidup.

Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rindu bergulat melawan sepi. Rumah barunya ini lebih nyaman, tetapi begitu dingin. Tidak ada Bu Sarah yang selalu memeluknya dan teman-teman yang selalu membuatnya tertawa. Hanya ada Pak Surya, pria pemarah yang tidak pernah menyukainya.

Entah kenapa Pak Surya selalu jengkel padanya. Padahal semua mengenal pria itu sebagai orang yang murah hati. Mengapa Pak Surya tidak menyukainya?

…Andai Rindu tahu, orang dewasa sulit melepaskan masa lalu ….

***

Emmm…setelah membaca tuntas bukunya, saya tidak merasa kalau blurb di cover belakang buku seperti yang saya kutip di atas cocok dengan cerita di bukunya. Tapi itu cuma perasaan saya saja sih. Sama seperti saya merasa kalau Interlude yang disisipkan di buku ini juga rada tidak nyambung dengan ceritanya.

Kalau dari blurb, saya mengira ceritanya full tentang Rindu. Tapi ternyata bukan. Ceritanya lebih ke Sarah, dan juga Pak Surya, lengkap dengan konflik yang terjadi dihidup mereka masing-masing. Saya merasanya Rindu hanyalah sebuah penghubung.

Cerita berawal dari Rindu, seorang anak desa yang mengejar impian ke kota. Impian Rindu sederhana, dia ingin punya uang untuk membeli anggur, juga baju lebaran untuk Emak dan adiknya, Asep.

Di Jakarta, Rindu bersama anak jalanan lain, berjuang untuk bertahan hidup. Rindu tinggal di tempat penampungan bernama Rumah Singgah. Di sanalah Rindu bertemu dengan Ibu Sarah.

Sarah sendiri adalah seorang gadis Yogya yang nekat pergi ke Jakarta untuk menunggu seseorang. Dia menemukan bahwa Rumah Singgah adalah tempat yang tepat untuk menunggu. Karena jejak orang itu tertinggal di sana, bersama Rindu.

Sementara itu, suka duka anak jalanan yang dialami oleh Rindu mengantarkannya untuk bertemu Pak Surya. Pak Surya yang pada hari ketika dia bertemu Rindu, gagal menjadi matahari. Namun, Rindu jua lah yang akhirnya berhasil menuntun Surya untuk kembali menjadi matahari, sesuai namanya.

***

Baiklah, saya lumayan terlarut dalam kisah Rindu, Sarah, dan Surya. Ceritanya tidak addicted sih, tapi saya bisa menamatkannya dalam satu hari. Bagian-bagian Interludenya keren walaupun saya rasa tidak terlalu konek dengan ceritanya. Saya juga terkesan dengan cerita cinta Sarah. Saya kagum dengan keberaniannya untuk menunggu seseorang yang entah berada dimana. Sementara banyak orang yang sangat mencintainya ada di dekatnya.

Kalau Surya, saya tidak terlalu terkesan sih. Mungkin karena porsi cerita masa lalunya hanya diceritakan sedikit. Jadi saya tidak merasa terlalu mengenal Surya seperti mengenal Sarah.

At last, menurut saya buku ini lumayan bagus. Saya kasih 3 dari 5 bintang deh. I liked it.

***

Title: Rindu Purnama |  Author: Tasaro G.K. dan A. Fuadi | Editor: Dhewiberta | Edition: Indonesian language, Cetakan I, Januari 2011, 348 hlm | Publisher: Bentang Pustaka | Status: Pinjam di Perpustakan Daerah Kab. HSU | My rating: 3 of 5 stars

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s