Posted in Bentang Pustaka, Books, Indonesian Literature, Review 2016, Riawani Elyta, Shabrina W.S.

Ping! A Message from Borneo Review

 photo ping_a_message_from_borneo_zpsokpftoek.jpg

***

Tertarik membaca buku ini karena ada “Borneo” dijudulnya. Nah, ada pesan apa dari Borneo?

Well, tidak jauh-jauh dari hutan dan orang utan. Ga tau ya, tapi menurut saya sih, perlu orang yang sangat berkuasa dan mungkin yang sangat kaya juga, untuk menghentikan pihak-pihak tertentu yang membakar hutan seenaknya. Soalnya kayaknya protes-protes kita ga didengar deh. Mungkin perlu lebih keras lagi.

Hampir setiap tahun selalu saja terjadi kabut asap gara-gara kebakaran hutan. Untuk fenomena kabut asap yang terakhir kemarin, kalau saja udara tidak menjadi sebegitu mencekiknya selama sebulan lebih, saya bakalan kasihan sekali dengan orang yang ngebakar hutan. Siapapun dia, sumpah serapah yang dilontarkan mengerikan sekali. Hampir semua orang melemparkan kutukannya masing-masing. Sepertinya, jangankan dengan hewan-hewan, dengan sesama manusia saja orang-orang yang membakar hutan itu juga ga peduli. Jadi yah, jadi saya aminkan saja deh sumpah serapahnya. Maafkan saya.

Sebenarnya, saya suka sekali dengan pesan yang disampaikan oleh buku ini. Jarang-jarang ada buku yang mengangkat isu tentang hutan dan orang utan kan? Apalagi tokoh antagonisnya jelas-jelas disebutkan di siniūüėĄ

Tapi buku-buku ber-tema “belia” memang bukan “makanan” saya. Ga tahu juga sih kenapa saya selalu tidak bisa konek dengan cerita-cerita seperti ini.

Saya sebel sekali sama Archi yang…kalau kata Molly sih…Archi ini terlalu protektif dan bossy.

Saya juga merasa tokoh Ping terlalu melankolis. Dalam bayangan saya sudah terpatri, kalau orang utan dan sebangsanya itu punya tampang bandel, jadi rasanya ga cocok kalau terlalu melankolis. *dikeroyokmonyet*.

Saya juga merasa kurang nyaman dengan bahasa daerah yang diselipkan di dalam kalimat. Saran saja sih, saya rasa bahasa Banjar itu lebih cocok digunakan dalam satu kalimat. Bukan setengah-setengah atau hanya beberapa kata di dalam satu kalimat. Soalnya jatuhnya kayak olok-olokan.

Tidak tahu kalau di daerah Borneo yang ada di cerita ini ya, tapi kalau di tempat saya kuliah, bahasa Banjar yang setengah-setengah itu jadi bahan olok-olokan. Bukan mengolok-ngolok orang luar yang menggunakan bahasa Banjar, bukan. Tapi mengolok-ngolok orang daerah yang mau sok berbahasa Indonesia, tapi bahasa Indonesianya ga benar karena bahasa daerahnya masih banyak yang ngikut keselip.

At last, meskipun saya tidak terlalu suka dengan gaya ceritanya, tapi saya suka sekali dengan pesannya. Dan semoga pesan ini bisa menyadarkan siapapun yang membaca bukunya, untuk menyelamatkan Ping dan rumahnyaūüėČ

***

Judul: Ping! A Message from Borneo | Pengarang: Riawany Elyta dan Shabrina W.S. | Penerbit: Bentang Belia | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Pertama, Maret 2012, 142 halaman | Status: Owned book | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s