Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Review 2016, Romance, Teenlit, Teenlit GPU, Windhy Puspitadewi

sHe Review

 photo sHe_zpssjyrkyos.png

***

Life is a book.

Everyday has a new page.

With adventures to tell,

things to learn

and tales to remember.

(sHe, hlm. 11)

Kejar tayang baca buku di iJak (lagi) buat tantangan #GPU42. Sebenarnya sudah sering lihat novel GPU berlabel teenlit, tapi ntah kenapa, untuk saya yang bukan pembaca teenlit, kalau melihat label teenlit di sampul novel,  bawaannya jadi malas banget buat baca 😄

Dari sekian banyak novel teenlit GPU, saya akhirnya memutuskan untuk membaca sHe. Walaupun temanya sudah umum, tapi sepertinya asik. Dan syukurlah saya tidak menyesal memilih sHe. Ceritanya, membuat saya tergelak. Apalagi drama saat Dhinar memperkenalkan namanya. Ahahaha, mirip seperti saya memperkenalkan diri. Kalau Dhinar kesulitan menjelaskan huruf “H” yang nyempil di namanya, saya kesulitan menyebutkan huruf “R” yang ada ditengah-tengah nama saya karena penyebutan huruf “R” saya kurang sempurna. Kalau bahasa Banjar-nya sih huruf “R” saya batagar. Lucunya, reaksi orang-orang selalu hampir sama. Benar-benar perjuangan.

Ceritanya sendiri terasa begitu dekat. Persaingan dan dendam kesumat antara Dhinar dan Sapu dalam perebutan NEM tertinggi membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Senang mengetahui ternyata bukan hanya saya yang dulu menganggap hal itu sangat penting.

Kalau kata saya sih, sHe ini ceritanya seger, walaupun saya rasa anak-anak muda ini terlalu bebas dan berani.

Sepertinya saya lupa menandai halaman tempat kutipan tentang sesuatu yang benar atau salah itu sangat relatif. Atau cuma saya saja yang membayangkannya yak, ahaha. OOT, inilah salah satu alasan saya tidak suka baca ebook, kalau mau bolak-balik halaman buat mencari kutipan rada susah, capek nge-scroll melulu.

Saya iri dengan kemampuan dan keberanian anak-anak ini untuk menyadarkan para orang tua keras kepala yang selalu memaksa anaknya untuk melakukan ini itu. IMO, itu yang paling berat. Kadang, di kota kecil seperti kota saya, bukan hanya orang tua yang perlu disadarkan, seperti Flemming yang cukup menyadarkan ayahnya Dhinar, tapi semua orang. Kadang setelah capek-capek memberikan penjelasan kepada orang tua, eh besoknya saat mereka ngobrol sama tetangga dan teman-teman mereka, pikiran mereka berubah lagi. Bahkan saat ada bukti nyata pun kalau apa yang mereka yakini itu belum tentu benar, mereka tetap ngotot. Capek deh.

At last, 4 dari 5 bintang untuk buku ini. Untuk suntikan keberaniannya, walaupun kurang ampuh untuk saya, tapi cukup membuat saya kagum. I really liked it ^_^

***s

Judul: sHe | Pengarang: Windhy Puspitadewi | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Ketiga: Jakarta, Juli 2015, 248 halaman | Status: Pinjam di iJak | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Advertisements

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

One thought on “sHe Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s