Posted in Arie Fajar Rofian, Horror, Moka Media, Review 2015

Berikutnya Kau yang Mati Review

***

Sebelum membaca novel ini, saya lagi kesel pakai banget sama seseorang. Seperti biasa, untuk meredakan rasa kesal, saya memutuskan untuk membaca buku saja.

Untunglah buku ini yang saya pilih, karena ketika saya baru membuka halaman awalnya saja, buku ini sudah membuat saya tersenyum. Hal yang tidak biasa ya untuk sebuah buku horor. Tapi bukan ceritanya kok yang membuat saya tersenyum, melainkan pesan yang ditulis oleh si penulis. Bunyi pesannya kayak gini nih:

Ira, You’ll Be The Next!
Jangan Tidur Malam Ini

Nah lo, sepertinya nyawa saya terancam. Tapi baiklaaah, saya akan jadi anak yang patuh, saya tidak akan tidur malam ini😛

Ngomong-ngomong, sebetulnya saya bingung bagaimana cara menuliskan kesan saya setelah membaca buku ini. Somehow, sepertinya apa yang ingin saya sampaikan bakalan mengandung spoiler.

Tapi saya coba deh. Bagi yang belum baca novelnya, mungkin sebaiknya jangan baca review ini dulu yak, nanti kejutannya berkurang😉

Okeeee…buku ini diawali dengan sebuah cerita tentang jembatan gantung. Jembatan gantung ini rencananya mau dijadikan salah satu rute untuk game outbond dalam acara Malam Keakraban kampus, dimana Agus dan sahabatnya yang bernama Johan, menjadi dua orang yang bisa dikatakan paling bertanggung jawab terhadap acara tersebut.

Tapi hari-hari Agus dan Johan sebelum hari H diganggu oleh kehadiran anak kecil berambut gondrong yang memiliki wajah seram berbelatung. Entah apa maunya, anak kecil ini selalu hadir dalam mimpi-mimpi Agus dan Johan. Menggambarkan kepada mereka berdua adegan-adegan yang dengan jelas mengatakan kalau para mahasiswa ini berani melewati jembatan gantung tersebut, maka mereka akan mati.

Btw, cerita ini mengingatkan saya dengan Malam Keakraban (Makrab) yang saya ikuti waktu kuliah. Baik sebagai peserta maupun panitia. Untungnya waktu itu tidak ada anak kecil seram berambut gondrong dengan jembatan gantungnya. Tapi saya jadi teringat dulu bagaimana saya dan teman-teman tidak bisa tidur karena takut. Saya juga teringat bagaimana kami para cewek selalu bergerombol kalau mau kemana-mana malam-malam. Butuh tekad yang kuat bagi kami agar tidak membayangkan penampakan yang tidak-tidak. Untung waktu itu saya belum membaca buku ini. Kalau sudah entah bagaimana jadinya.

Jujur saya bingung membaca cerita Agus dan Johan. Saya bingung membedakan yang mana yang mimpi dan yang mana kenyataan. Tapi cuma pada awalnya aja sih. Meskipun sebetulnya saya masih bingung, tapi nanti benang merahnya akan terlihat kalau sudah membaca bukunya sampai selesai.

Selain cerita jembatan gantung di atas, ada beberapa hal lagi yang membuat saya bingung setelah membaca buku ini. Pertama cover bukunya, entah kenapa saya pikir gambar makhluk hitam yang ada di sampul tersebut mirip gambar King Kong, padahal tidak ada King Kong sama sekali di cerita ini, ahaha, *kena keplak*.

Kemudian, saya bingung dengan apa yang terjadi pada tokoh Roni di chapter “Sahabat Selamanya”. Apakah dia masih hidup sehat walafiat, hidup tapi luka-luka atau tewas tapi sehat, *eh*.

Terus di chapter “Perjanjian Terkutuk”, saya rasa nama tokoh Budi dan Andi ketuker-tuker. Ini siapa yang jadi kakaknya Bagas, siapa yang jadi kakaknya Agus. Tapi mungkin cuma typo aj kali ya.

Lalu setelah selesai membaca bukunya, saya baru ngeh kalau konsep cerita ini mirip sama salah satu film. Kebetulan filmnya juga ada disebutkan di buku ini.

Bukan masalah besar bagi saya sih sebenarnya, tapi sedikit banyak hal ini akan mempengaruhi saya dalam memberikan jawaban kalau ada yang nanya seperti apa cerita di buku ini? Saya bakalan jawab ceritanya kayak film yang itu tuh, tapi bla bla bla dst.

Tapi secara keseluruhan buku ini asik kok. Seru sekali saat saya berhasil mengetahui apa hubungan cerita ini dengan cerita sebelumnya dan apa hubungan tokoh ini dengan tokoh sebelumnya.

Endingnya juga keren. Cara yang bagus sekali untuk menjelaskan hal-hal membingungkan yang terjadi di cerita-cerita sebelumnya.

Dan yang paling saya suka adalah buku ini berhasil mengecoh saya. Awalnya saya mengira buku ini berisi komplit satu cerita. Tapi setelah saya selesai membaca chapter pertama, baiklah, saya berubah pikiran, saya lalu mengira buku ini adalah kumpulan cerita pendek. Kemudian setelah membaca separo chapter kedua, saya berubah pikiran lagi, oh ternyata ini bukan kumpulan cerpen, tapi satu cerita utuh yang mempunyai kaitan yang sangat tipis antara satu chapter dengan chapter lainnya (haduhai kata-katanya XD)

Oke baiklah, sebelum saya semakin melantur, saya akan menutup review yang tidak bisa disebut review ini dengan memberikan 3 dari 5 bintang untuk Berikutnya Kau yang Mati. Yap, I liked it.

***

Title: Berikutnya Kau yang Mati | Author: Arie Fajar Rofian | Edition: Indonesian language, 2015, 177 pages | Publisher: Moka Media | Status: Owned Book  |  My rating: 3 of 5 stars

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

2 thoughts on “Berikutnya Kau yang Mati Review

  1. “Membaca buku ini dalam keadaan sedang kesal kepada seseorang”
    Wahh…mbak Ira, saya menangkap sesuatu makna disini😛
    Setelah baca review ini saya jadi sadar kalau ternyata gambarnya memang seperti kingkong *ikut-ikutan. Padahal saya sering ke toko buku dan sering lirik-lirik buku ini antara beli dan tidak😛
    Setting jembata gantung sepertinya menarik. Karena rumah saya (baca : orang tua saya) di desa pun dekat dengan sebuah jembatan gantung yang tingginya lebih dari 25 meter. Saya tidak tahu di cerita ini berapa. Tapi, memang sebuah jembatan gantung selalu memiliki aura-aura mistis dan isu-isu horor.
    Dan menurut saya rute outbound jembatan gantung itu bernyali sekali. Malah langsung kerasa horornya.

    Like

    1. Ahaha, kayak ancaman tersirat “you’ll be the next” sama itu orang yang buat aku kesal yak😛

      Itu makanya aku senyum2 sendiri pas baca pesan di atas ttd sipenulis. Mau ngancam orang, malah aku yang diancam “you’ll be the next” duluan😄

      Apalagi kalau outbond -nya malem-malem kn, siang aj sudah seram kalau lewat jembatan gantung

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s