Posted in Alex Scarrow, Books, Elex Media Komputindo, Fantasy, Review 2015, Science Fiction, TimeRiders

Gates of Rome Review

***

Dia menyadari bahwa bukan pengetahuan ataupun kebijaksanaan yang membuat seseorang menjadi pemimpin. Bukan kepintaran yang melebihi semua orang lain. Karena, demi Tuhan, dia pasti mampu melampaui kecerdasan hampir semua orang bodoh ini. Tidak, kuncinya terletak pada pembawaan suara dalam yang konstan dan cara berbicara kepada orang-orang yang berkumpul. Cara membawakan diri. Wibawa. Kewenangan. Stilson jelas memiliki semua itu, sementara Rashim tidak.

(Gates of Rome, hlm. 80)

Kutipan yang sering terdengar sejak saya kuliah sampai sekarang. Tapi yang ini disuarakan oleh si orang pintar. Dan saya setuju. Lebih terdengar masuk akal dan terdengar lebih menyenangkan bagi pihak si pintar. Walaupun dalam buku ini, saya rasa kedua pihak sama-sama kalah. Yang berotak cemerlang sok menjadi pemimpin dan yang berbakat menjadi pemimpin sok pintar.

Di buku sebelumnya, petualangan tim penjelajah waktu kita sedikit berbeda. Mereka berada di waktu yang sama, namun terpisah oleh jarak yang seandainya tidak terhantam gelombang waktu, tidak akan menjadi masalah.

Di buku ini, petualangan mereka kembali menemui masalah baru. Liam dan Bob yang sedang berada di Roma jaman dulu terkaget-kaget saat mendapati Maddy dan Liam yang melompat dari jendela waktu.

Nah lo, oke lah dengan Sal yang sudah sering ikut Liam, tapi Maddy? Kalau Maddy juga ikut ke masa lalu, siapa yang menjaga markas? Yang lebih penting lagi, siapa nanti yang akan membuka jendela waktu? Karena kalau tidak ada jendela, mereka semua tidak bisa pulang.

Oke singkirkan dulu sebentar masalah bagaimana caranya pulang. Sementara ini, para penjelajah waktu kita harus menghadapi masalah yang lebih mendesak. Mereka harus bertahan hidup di Roma, di jaman kaisar Caligula. Siapa itu kaisar Caligula saya juga tidak tahu. Yang pasti kata ahli sejarah yang ada di buku ini, kaisar Caligula itu agak sedikit…eh…gila. *sungkem sama kaisar*.

Membaca petualangan Liam dan kawan-kawan di sini, sedikit mengingatkan saya dengan petualangan Percy Jackson di The Son of Neptune karya Rick Riordan. Di cerita ini, ada prajurit-prajurit Romawi yang ada centurion-centurion nya itu.Sama kayak di Perkemahan Jupiter.

Hanya saja, kalau cerita dipetualangan Percy, prajurit-prajurit tersebut terkesan menyenangkan, sedangkan di cerita Liam, terkesan suram. Ya iyalah ya, soalnya dalam kisah Liam, para prajurit ini benar-benar ada di Roma dan sedang perang sungguhan ala Roma tempo dulu.

Kesamaannya hanya satu, mereka sama-sama dilingkupi dengan suasana pengkhianatan.

Seperti biasa, petualangan di buku ini sangat menegangkan. Saya rasa, buku ini lebih seru daripada buku yang keempat. Walaupun menurut saya masih kalah dengan buku kedua dan ketiganya yang sampai saat ini masih menjadi favorit saya.

Alurnya cepat, tapi berkebalikan dengan itu, misteri yang menyelubungi asal-usul TimeRiders sendiri berjalan dengan sangat lambat. Sampai buku kelima, saya masih hanya bisa menebak-nebak, siapa sebenarnya TimeRiders dan apa yang bakalan (atau sudah) terjadi dengan mereka.

Oke, kembali ke persoalan bagaimana cara mereka pulang. Kenapa Maddy dan Sal tiba-tiba memutuskan untuk mengikuti Liam ke Roma lama? Dan kalau kita tarik mundur, apa yang menyebabkan Maddy mengutus Liam ke sana? Jawabannya ada jauh di masa depan. Masa di mana manusia memutuskan untuk melarikan diri dari kesalahan yang mereka buat sendiri terhadap bumi.

Kita telah membuat kekacauan … dan apa yang kita lakukan? Melarikan diri darinya.

Dia punya perasaan bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah mengulangi peradaban sehingga mereka bisa melakukan kesalahan yang sama sekali lagi. Dan lagi.

Dan lagi.

(Gates of Rome, hlm. 68)

At last, saya merasa sayang sekali saat selesai membaca buku ini, sayang karena harus keluar dari dunia para penjelajah waktu. Sayang karena untuk membaca petualangan mereka lagi, perlu menunggu entah kapan buku keenamnya nanti terbit. Semoga tidak lama.

Full rated untuk Gates of Rome. Siip banget deh pokoknya.

***

Judul: Gates of Rome | Pengarang: Alex Scarrow | Series: TimeRiders #5 | Penerbit: Elex Media Komputindo | Edisi: Bahasa Indonesia, 2015 | Tebal: 437 halaman | Status: Koleksi pribadi | Rating saya: 5 dari 5 bintang 

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

3 thoughts on “Gates of Rome Review

    1. Asik, toss dulu buat TimeRiders😄

      Oh setahun sekali ya…semoga tetap diterjemahkan sampai akhir ya. Btw ini yang ke-6 sudah mau terbit kaan, ga sabar nunggu ^_^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s