Posted in Books, Chitra Banerjee Divakaruni, Gramedia Pustaka Utama, Historical Fiction

The Palace of Illusions Review

 photo the_palace_of_illusions_zpsthwhkvw7.jpg

***

“Suatu keadaan,” katanya, “tidaklah bahagia atau sedih. Hanya reaksimu terhadap keadaan itu yang menyebabkan kesedihan padamu. … “

—The Palace of Illusions, hlm. 282

***

Salah satu nasihat Krishna kepada Phancali. Kalau dipikir-pikir benar juga sih. Tapi, mengingat apa yang terjadi pada Sang Ratu, siapapun yang berada di posisinya, akan menganggap keadaan tersebut memang patut disebut kesedihan.

Sebelumnya saya sudah pernah membaca kisah Mahabharata karya C. Rajagopalachari. Saya juga menonton serial televisinya yang baru-baru ini ditayangkan di Indonesia. Dan dengan buku ini, saya kembali masuk ke dalam kisah Mahabharata. Bedanya, kisah ini diceritakan dari sudut pandang Dropadi. Oleh karenanya, saya rasa, ceritanya jadi berbeda.

Membaca versi ini, merubah perasaan saya terhadap tokoh-tokoh Mahabharata. Awalnya saya sangat mengagumi para Pandawa, Kunti, dan Dropadi sendiri. Tapi di sini, mereka jadi terkesan kurang baik dan kurang heroik. Segi positifnya, mereka jadi terasa lebih manusiawi. Satu yang tidak berubah, dari ketiga versi yang sudah saya lihat dan baca, kisah tentang Abimanyu selalu membuat saya menangis.

Karena diceritakan dari sudut pandang orang pertama, dimana Dropadi yang menjadi penuturnya, saya menjadi merasa lebih bersimpati kepada Sang Ratu, walaupun sifatnya yang pemarah dan pendendam menyulut perang yang akhirnya dia sesali.

Membaca cerita-cerita yang berlatar belakang sejarah seperti ini, selalu memberikan nasihat-nasihat bijak, yang meskipun sudah sering diulang-ulang, selalu saja terlupakan. Terutama ketika hati sedang dilanda amarah dan dendam.

Membaca buku ini membuat speechless. Menurut saya ceritanya bagus, walaupun saat di bagian tengah terasa membosankan dan saya cenderung kurang suka dengan cerita yang tokoh utamanya terlalu menonjolkan kekurangannya.

Tapi pesan-pesan bijak yang disampaikan cerita ini kena dengan cara yang berbeda. Di sini saya seakan ditantang. Apakah saya tetap memilih jalan kebajikan, sementara saya sendiri membaca ceritanya dari sudut pandang “aku”-nya Dropadi beserta dengan keangkuhan, kemarahan, dan penghinaan yang dirasakan olehnya. Sehingga saya jadi merasa kutukan yang dilemparkannya bisa dimaklumi. *plaaak*.

Dalam cerita ini, saya juga menemukan kalau mudah bagi saya untuk menyalahkan tokoh-tokoh ini, atas kesalahan-kesalahan yang mereka buat. Tapi saya rasa akan berbeda kalau saya yang berada di posisi mereka, mungkin kutukan-kutukan yang saya lemparkan jauh lebih buruk.

Kesan saya setelah membaca buku ini terangkum dalam dua kutipan di bawah ini. Yang pertama adalah kata-kata Arjuna saat dia kehilangan orang yang dia sayangi. Yang kedua adalah salah satu dari 100 pertanyaan  yang ditanyakan oleh si yaksa kepada Yudhistira saat di hutan. Dan terakhir, saya memberi 3 dari 5 bintang untuk The Palace of Illusions. YesI liked it.

Ketika nyala api membesar, banyak istri-istrinya menjatuhkan diri ke atas api. Tidak, aku tidak menghentikan mereka. Kalau aku tidak terikat kehormatan untuk menyampaikan kabar ini kepadamu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Sepanjang hidupku, dia selalu ada di sampingku, membimbingku begitu sabar, dengan ketidaktahuanku. Bagaimana aku bisa menceritakan kepadamu seperti apa rasanya harus tetap di dunia, sementara dia sudah tidak ada di sini lagi?

—The Palace of Illusions, hlm.465

Apa hal yang paling menakjubkan di dunia?

Setiap hari tak terhitung banyaknya manusia yang masuk ke Kuil Kematian, tetapi mereka yang tertinggal tetap hidup seakan-akan mereka kekal.

—The Palace of Illusions, hlm. 309

***

Title: The Palace of Illusions –  Istana Khayalan | Author: Chitra Banerjee Divakaruni | Translator: Gita Yuliani K. | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: Indonesian, 1st edition, July 2009, 496 pages | Status: Owned book | My rating: 3 of 5 stars

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s