Posted in Non Review

Scene on Three #47: City of Heavenly Fire

Scene on Three hosted by Bacaan Bzee

“…. Nama Morgenstern tidak terkutuk, Clary. Itu nama Pemburu Bayangan yang mulia, yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Bintang Fajar.”

“Bintang fajar itu bukan bintang,” kata Clary bersungut-sungut. “Itu planet. Aku belajar tentang itu di kelas astronomi.”

“Pendidikan kaum fana sayangnya kurang imajinatif,” kata Jace. “Lihat”, kata Jace, dan dia menunjuk ke atas. …. “Jauh sebelum ada yang mengetahui tentang planet-planet, mereka tahu ada retas-retas terang dalam tenunan malam. Bintang-bintang. Dan mereka tahu ada satu yang terbit di timur, saat matahari terbit, dan mereka menyebutnya bintang fajar, pembawa cahaya, penanda fajar. Apakah itu begitu buruk? Membawakan cahaya kepada dunia?”

(hal 113-114)

Ini gara-gara beberapa hari yang lalu, saya melihat si “Morgenstern” alias bintang fajar di langit timur. Rasanya kagum saja, melihat sinar si bintang (atau si planet) masih cemerlang, padahal kabut asap lagi tebal-tebalnya menyelimuti langit Kalimantan. Apalagi pas dia tinggal sendiri di langit, sinarnya tampak begitu indah, sementara bintang-bintang lain sudah terbenam dan sinar mentari masih terhalang kabut.

Untuk standar orang yang tinggal di daerah yang selalu jadi langganan polusi kabut asap, saya rasa kabut kali ini parah sekali. Udara yang saya hirup berbau asap pembakaran yang jauh lebih tajam dan mata jadi pedas, seakan-akan saya berada di dekat sumber asap. Padahal kebakaran lahan terjadi jauh di sana. Saya jadi setengah mati merindukan untuk menghirup udara bersih lagi. Yah, setidaknya bersih dari kabut asap lah.

Kebetulan ada scene tentang bintang fajar dari buku yang baru saya baca, City of Heavenly Fire by Cassandra Clare. Jadi, walaupun tidak nyambung-nyambung amat, kehadiran bintang fajar seakan melambangkan harapan, harapan agar kabut asap yang mengganggu ini segera pergi dan tidak pernah kembali lagi. Dan siapapun yang bertanggung jawab atas polusi ini, saya harap kita semua fokus mencari solusi alih-alih saling menyalahkan dan kutuk-mengutuk.

Oke, ini scene pilihan saya kali ini. Ayo bagi scene pilihanmu juga. Silakan klik gambar paling atas untuk mengetahui aturan mainnya ya. Sampai jumpa lagi di SoT berikutnya. Dadah  \^_^/

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

One thought on “Scene on Three #47: City of Heavenly Fire

  1. Semoga cepat teratasi yaa, supaya ga terulang tahun2 berikutnya. Ngomong2 soal bintang fajar, Indonesia jadi sudah bukan zamrud khatulistiwa dong ya kalau hutannya dibakar, imajinasi kaum fana yg menyebut hutan sebagai zamrud *disambung2in*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s