Posted in Books, Budi Sardjono, DIVA Press, Indonesian Literature, Review 2015, Sang Nyai, Series

Sang Nyai 1 Review

 photo sang_nyai_1_by_budi_sardjono_uploaded_by_irabooklover_zpsrddnluti.jpg

***

Sam, seorang wartawan majalah dari Jakarta, mendapat tugas untuk membuat tulisan tentang Nyai Roro Kidul. Jadilah Sam pergi ke Yogyakarta dan mengunjungi tempat-tempat —yang menurut cerita, sering dikunjungi oleh Sang Nyai. Salah satunya adalah Pantai Parangkusumo di malam jumat kliwon.

Di sana, Sam tiba-tiba bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Kesi. Bukan hanya di sana, sepertinya Sam selalu bertemu Kesi di tempat-tempat yang konon katanya adalah tempat-tempat yang diperuntukkan khusus untuk Nyai Roro Kidul.

Sam bisa dikatakan sangat beruntung, petualangan Sam untuk menguak sosok Nyai Roro Kidul memberikan sebuah petualangan mistis yang dibumbui dengan hal-hal yang membuat banyak para lelaki iri. Sam tiba-tiba bisa “kencan” dengan gadis secantik Kesi. Sam tiba-tiba bisa “menginap” 7 hari 7 malam dengan seorang janda cantik bernama Nyai Mundingsari yang mempunyai banyak informasi mengenai sosok Nyai Roro Kidul.

Di rumah Nyai Mundingsari inilah Sam menemukan 7 buah lukisan Nyai Roro Kidul. Ketujuh lukisan itu sangat berbeda dengan lukisan-lukisan yang menggambarkan Nyai Roro Kidul pada umumnya. Konon lukisan-lukisan tersebut datang sendiri ke rumah Nyai Mundingsari. Kalau terjadi sesuatu yang buruk pada lukisan tersebut, Nyai Mundingsari yakin kalau itu adalah pertanda kalau Nyai Roro Kidul sedang marah.

Di bawah lukisan-lukisan itu pulalah Sam melakukan meditasi dan berhasil mendapatkan daya gaib. Tapi, alih-alih berhasil menguak sosok Sang Nyai, pengalaman-pengalaman gaib yang dialami oleh Sam malah membuatnya semakin bingung. Tampaknya Sang Nyai menginginkan sosoknya tetap menjadi misteri.

***

Saya tinggal jauh dari pulau Jawa, oleh karenanya pengetahuan saya tentang Nyai Roro Kidul hanyalah sebatas kalau dia adalah Ratu cantik penguasa laut selatan. Di tempat saya Nyai Roro Kidul lebih sering dikenal dengan Ratu Laut Selatan. Dan kalau pergi ke pantai laut selatan jangan berani-berani pakai baju hijau, nanti kita bisa hilang di laut, diculik sama Ratu Laut Selatan. Yah cuma itu >.<

So, hampir semua isi buku ini merupakan pengetahuan baru bagi saya. Entah yang mana yang fakta dan yang mana cuma imajinasi pengarang saya tidak tahu dan itu cukup membuat saya penasaran.

Saya baru tahu kalau Laut Selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi saling berhubungan. Saya juga baru tahu kalau Petruk yang saya kenal dari wayang itu adalah penjaga kawah Merapi. Menurut buku ini, Kang Petruk bersahabat dengan Nyai Roro Kidul. Yah jadi di buku ini selain kisah tentang laut selatan, juga diceritakan tentang Gunung Merapi.

Ngomong-ngomong soal Merapi, saya juga baru tahu kalau ternyata ada penduduk biasa disekitar Merapi yang menolak untuk mengungsi saat Merapi meletus. Kepercayaan mereka kalau mereka terlindungi padahal daerah yang mereka tinggali kemungkinan besar terkena dampak terburuk letusan benar-benar membuat saya heran. Apakah ini fakta atau cuma cerita dibuku saya tidak tahu juga. Tapi saya jadi teringat dulu waktu Merapi meletus, teman saya yang waktu itu kuliah di Yogya langsung disuruh pulang. Saya masih ingat betapa takutnya dia padahal dia bilang kampusnya hanya kena dampak hujan abu saja dari letusan Merapi.

Meskipun ini kisah mistis tentang Nyai Roro Kidul, tapi saya rasa buku ini lebih banyak menceritakan tentang problem sosial sebagai dampak dari misteriusnya keberadaan Sang Nyai. Salah satunya adalah tentang menjamurnya tempat-tempat lokalisasi murah disekitar tempat ziarah. Juga kepercayaan mutlak para peziarah akan betapa hebatnya benda-benda yang ada hubungannya dengan Sang Nyai sehingga rela memperebutkannya tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri. Nah kan kalau terjadi bencana jadinya Sang Nyai yang disalahkan. Kalau saya yang jadi Nyai sih saya akan tersinggung. *sotoy mode on*

Oh ya selain ada yang percaya mutlak, ada juga salah satu tokoh di buku ini yang sama sekali tidak percaya dengan keberadaan Sang Nyai. Well, saya suka bagian ini. Tapi yang jadi bagian favorit saya adalah saat Sam dan temannya, Sugeng, menciptakan tokoh sakti bernama Syekh Tunggul Wulung. Tokoh ini benar-benar ciptaan mereka berdua tapi mereka bisa membuat masyarakat percaya kalau tokoh sakti itu memang benar ada. Tentang kenapa Sam dan Sugeng menciptakan tokoh ini silakan baca sendiri bukunya😀 . Keberadaan tokoh Syekh Tunggul Wulung ini saya rasa merupakan contoh yang bagus untuk mendukung teori orang-orang yang tidak percaya tentang keberadaan Nyai Roro Kidul. *sotoy part 2*.

Eh tapi ada beberapa hal yang sedikit mengganggu saya. Saya heran ini Sam istimewanya apa yak sampai Kesi dan Nyai Mundingsari yang terkenal susah didekati para pria itu jadi sampai “takluk”. Hal ini sedikit … eh maaf … menurunkan rasa hormat saya kepada “sosok yang dicurigai sebagai” Kesi ini. *sungkem*.  Dan kenapa Sam bisa memperoleh hak istimewa untuk mengunjungi tempat-tempat dan tokoh-tokoh mistis yang bahkan kadang seorang juru kunci pun tidak bisa mendapatkannya. Hmm, saya rasa Sam harus lebih banyak menonjolkan keistimewaannya.

Saya sepertinya juga kena … errr … plot holes waktu Sam bertamu ke rumah Kang Petruk. Kalau tidak salah Sam bertamu kesana karena ingin bertanya tentang sosok Nyai Roro Kidul. Tapi alih-alih mendapatkan informasi tentang Sang Nyai, Sam malah mendapatkan informasi mengenai “pekerjaan” Kang Petruk.

Ngomong-ngomong “pekerjaan” Kang Petruk ini adalah salah satu hal yang masih menempel di otak saya setelah selesai membaca buku ini. Manusia-manusia yang menurut Sam dijadikan “bahan baku” itu membuat saya merinding. Mirip dengan kisah lokal di daerah saya sini. Tentang makhluk gaib yang bisa menculik manusia untuk dijadikan budak dan selamanya tidak bisa kembali ke dunia nyata.

At last, saya cukup menikmati buku ini dan banyak pengetahuan baru yang saya dapat. Saya jadi ingin mengunjungi Pantai Laut Selatan, Keraton, dan … eh … mungkin juga Gunung Merapi kalau saya sudah tidak terlalu takut lagi dengan Kang Petruk. Oh ya, saya jadi ingin membaca Sang Nyai 2. Menurut sinopsis yang saya baca di Goodreads, ceritanya tentang Nyai Roro Jonggrang ya. Saya harap ada Nyai-Nyai lain lagi yang diceritakan supaya saya lebih mengenal Nyai-Nyai hebat yang ada di pulau Jawa.

So, 3 dari 5 bintang untuk Sang Nyai 1. I liked it.

***

Judul: Sang Nyai 1: Malam-Malam Mistis dan Kisah 7 Lukisan | Seri: Sang Nyai #1 | Pengarang: Budi Sardjono | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Mei 2015 | Penerbit: Diva Press | Tebal: 324 halaman | Status: Owned Book (Buntelan BBI) | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event New Authors RC 2015, dan Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

narc2015

lucky-no15

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s