Posted in Books, Fantasy, Percy Jackson and The Olympians, Review 2015, Rick Riordan, Series

The Sea of Monster (Reread) Review

 photo the_sea_of_monster_by_rick_riordan_uploaded_by_irabooklover_zpsnulf4pnp.jpg

***

Setelah menghabiskan liburan musim panasnya dengan menjalankan misi mengembalikan petir Dewa Zeus, Percy kembali ke dunia normal —atau senormal yang bisa dijalani oleh seorang demigod, dan berhasil mendapatkan sekolah baru, Meriwether College Prep. Sekolah ini kata Percy adalah sekolah “progresif”, yang artinya, kalau Percy bilang sih, mereka duduk di atas sekarung kacang, tidak memperoleh nilai rapor, dan para gurunya mengenakan jins dan kaus konser rock saat mengajar.

Nah, kalau dulu Percy selalu melindungi Grover di sekolah dari anak-anak nakal, sekarang Percy lagi-lagi menjadi teman pelindung bagi seorang anak cengeng super besar bernama Tyson. Sayangnya semua anak sepakat untuk mengerjai si anak canggung, yang artinya teman Tyson di sekolah hanya Percy seorang dan Tyson pun selalu mengekor kemana pun Percy pergi.

Bahkan ketika masalah yang biasa dialami oleh para demigod muncul di sekolah, Annabeth tiba-tiba muncul dan langsung membawa Percy ke perkemahan beserta Tyson sekaligus.

Butuh bantuan Annabeth untuk menyadarkan Percy tentang siapa Tyson sebenarnya. Karena setelah sampai, perkemahan sedang diserang dua monster banteng perunggu. Percy sekuat tenaga berusaha melindungi Tyson. Tapi ternyata, malah Tyson yang berhasil melindungi Percy.

Kabar perkemahan ternyata tidak baik. Ada yang meracuni pohon Thalia dan mengakibatkan perkemahan tidak terlindungi sebagaimana mestinya. Sebelumnya, Percy juga bermimpi bahwa Grover sedang mengalami bahaya dalam misi mencari Dewa Pan-nya.

Percy dan Annabeth punya ide bagaimana caranya menyelamatkan pohon Thalia dan Grover sekaligus. Tapi sayangnya, saat meminta misi, penanggung jawab perkemahan yang baru, Tantalus, malah membuat misi menjadi … eh … rumit dan mengkhawatirkan.

Karena tidak yakin dengan keputusan Tantalus, bersama Annabeth dan Tyson, Percy pun nekat pergi sendiri ke laut monster untuk menyelamatkan Grover dan pohon Thalia. Nah, kenapa pula si Grover sampai terjebak di laut monster dan apa yang ada disana sehingga Percy dan Annabeth berani mempertaruhkan nyawa mereka untuk mendapatkan sesuatu yang dapat menyembuhkan pohon Thalia?

***

Kami hanya nyaris menemui maut enam atau tujuh kali, yang kupikir cukup lumayanlah. Sekali, aku kehilangan peganganku dan aku bergelantungan dengan bertahan pada satu tangan di pinggir tebing setinggi lima belas meter di atas ombak ganas. Tapi aku menemukan pegangan lain dan meneruskan panjatan. Semenit kemudian Annabeth menginjak sepetak lumut licin dan kakinya tergelincir. Untungnya, dia menemukan pijakan lain untuk diinjak. Sayangnya, pijakan lain itu adalah mukaku.

—halaman 268

LOL. Lucu seperti biasa 😀 . Bahkan disaat-saat menegangkan sekalipun ada saja adegan yang membuat tertawa.

Ngomong-ngomong di sini saya baru ngeh, sebelum Thalia menjadi pohon, siapa yang melindungi perkemahan ya? Soalnya disini saat pohon Thalia sekarat, perkemahan jadi tidak terlindungi dan segala macam monster bisa masuk menyerang para demigod.

Kalaupun Thalia adalah pekemah pertama, kenapa dia dan teman-temannya meminta perlindungan ke perkemahan saat dikejar monster. Toh kan sama saja, baik di luar ataupun di dalam perkemahan, monster sama-sama bisa masuk. Well, sepertinya ada sesuatu yang saya lewatkan yak? *garuk-garuk gingsul*.

Oh ya disini saya juga baru tahu kalau satu-satunya demigod yang nasibnya berakhir dengan baik adalah Perseus. Percy bilang Hercules nasib akhirnya tidak begitu baik. Nah, saya jadi penasaran dengan apa yang terjadi sama Hercules.

Terus saya juga punya scene favorit di halaman 263:

“…. Apa kau nggak pernah merasa seperti itu? Seperti kau sebetulnya bisa melakukan pekerjaan dengan lebih baik andai kau yang memimpin dunia?”

“Em … kayaknya nggak. Kalau aku memimpin dunia pasti semuanya bakal jadi mimpi buruk.”

“Kalau gitu kau beruntung. Hubris bukanlah kekurangan fatalmu.”

“Lalu apa dong?”

“Aku nggak tahu, Percy, setiap pahlawan punya satu kekurangan. Kalau kau nggak menemukannya dan belajar untuk mengendalikannya … yah, mereka tentu nggak menyebutnya ‘fatal’ tanpa alasan.”

At last, saya lebih sreg dengan The Sea of Monster daripada buku pertama. Yang ini lebih enak dibaca. Ending-nya lebih menegangkan. Dan karena saya lebih dari sekedar suka sama Percy, jadi 5 dari 5 bintang juga untuk The Sea of Monster. Full rated \^_^/

***

Judul: The Sea of Monster – Lautan Monster | Seri: Percy Jackson and The Olympians #2 | Pengarang: Rick Riordan | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan VII, Mei 2011 | Penerjemah: Nuraini Mastura | Jumlah halaman: 367 halaman | Status: Owned book (Mizan Book Fair Banjarbaru 2011) | Rating saya: 5 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

lucky-no15

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s