Posted in Books, Fantasy, Percy Jackson and The Olympians, Review 2015, Rick Riordan, Series

The Lightning Thief (Reread) Review

 photo the_lightning_thief_by_rick_riordan_uploaded_by_irabooklover_zpsimdebe6m.jpg

***

Baca ulang seri Percy Jackson dan Dewa-Dewi Olympia. Sedikit merasa ga enak melihat timbunan yang masih menggunung. Tapi kemarin setelah membaca A Game of Thrones, saya merasa sedikit kena book hangover. Dan akhir-akhir ini saya butuh lebih banyak tertawa. Jadi saya harap tingkah Percy dan kawan-kawannya yang kocak bisa mengembalikan minat baca dan menghibur hati yang sedang lara *eaaaaa, abaikan saja, lebaynya Ira lagi di mode on*. Oh ya, saya baca ulang PJO dari awal juga karena ingin nemenin The House of Hades, The Demigod Files, dan The Blood Olympus yang baru saja saya beli. Yeay, akhirnya setelah menunggu lama (baca: nunggu hak nodong hadiah pas ultah), koleksi PJO dan HoO saya lengkap juga.

Ngomong-ngomong soal lebay, saya jadi ingat kalau dulu saya sudah pernah mereview The Lightning Thief, yaah kalau memang itu bisa disebut review sih, hahhahh. Soalnya saya membaca Percy Jackson tidak lama sebelum saya punya akun Goodreads dan blog buku. Jadi waktu itu cuma maksain nulis beberapa baris hanya untuk membanyak-banyakkin review sama isi blog >.<

Awalnya saya tidak terlalu kepingin membaca seri PJO. Gegaranya saya tidak terlalu suka dengan judul dan tulisan dikovernya yang berbunyi “BUKU KEsekian DARI LIMA SERI PERCY JACKSON”. Nah lo, saya langsung melempem ketika membayangkan harus membeli lima buku sekaligus.

Eh tapi setelah melihat filmnya, saya jadi kepingin mbaca PJO gara-gara lihat wajah Percy versi filmnya yang menurut saya cakep abis. Heaaah, dasar tante-tante. Dan ya tante-tante ini langsung pergi ke Mizan Book Fair yang kebetulan mampir di kota tempat tante kuliah. Langsung deh tante borong semua seri PJO yang ada, yang sayangnya, cuma ada 4. Tante kehabisan buku keempatnya. Apakah tante menyerah? Oh tidak, tante segera melaju ke toko buku besar di kota tetangga yang jaraknya lumayan jauh hanya untuk mencari si buku keempat. Dan tante sempat pengen nangis guling-guling karena jangankan buku keempat, kata mesin pencari di toko buku itu, seri PJO stocknya kosong semua. *kasian deh lo tan*😀

Nah, untunglah saya waktu itu tidak ngambek langsung pulang, saya keliling-keliling dulu lah sebentar. Eh tidak tahunya saya nemu buku keempat PJO, nyelip diantara buku-buku fantasi lain. Tinggal satu-satunya lagi. Alhamdulillah, saya senang sekali waktu itu. Kalau bukan di tempat umum, saya bakalan ketawa ala setan tuh di toko buku *eh*.

Oke, kembali ke Pencuri Petir. Tidak tahu ya, mungkin karena saya baru saja membaca The Lightning Thief di tahun 2011, atau mungkin karena saya duluan terkesan sama filmnya, atau karena dalam kurun waktu 2011 sampai 2014 saya masih membaca buku-buku lanjutan petualangan Percy, saat membaca The Lightning Thief sekarang, rasanya tidak seseru yang dulu. Ini sedikit beda kalau saya bandingkan dengan reread Harry Potter atau reread Bartimaeus. Somehow, direread berapa kali pun Harry dan Barty masih tetap seru. *sungkem sama Percy*.

Ah tapi jangan lupakan juga faktor awal kenapa saya memutuskan untuk membaca kembali seri PJO, mungkin ini akibat book hangover dan suasana hati saya yang sedang muram. Whatever-lah, daripada dibilang orang sotoy lagi (padahal emang sotoy sih, haha). Yang pasti, setelah reread, saya merasa The Lightning Thief tidak seseru waktu pertama kali membacanya dulu.

Tapi setidaknya lelucuan Percy dan kawan-kawan masih bisa membuat saya senyum-senyum sendiri. Perkemahan Blasteran masih menjadi salah satu tempat yang ingin saya kunjungi sehingga buku pertama seri PJO ini saya ikutkan dalam Lucky No.15 Category Dream Destination.

Dan walaupun tampaknya berbahaya, saya masih beranggapan kalau jadi demigod itu keren (‘▽’ʃƪ) ♥. Dan saya beserta saudari-saudari saya sampai berdebat hebat, ngebahas enakan jadi anaknya Zeus atau anaknya Poseidon. Yah yang pasti kami lupa ngebahas bahasan terpenting seputar ga peduli enakan jadi anaknya Dewa-Dewi Olympia yang mana, pertanyaannya adalah merekanya yang mau kagak jadi bapak atau emak kami. LOL😀

Oh ya, pas baca ulang ini, saya sedikit kaget. Seingat saya Percy ada melawan monster berkepala sembilan itu ya? Hydra kah itu namanya kalo ga salah. Eh ternyata itu cuma adegan di film, di bukunya tidak ada. Terus saya juga pangling pas tahu dimana lokasi penyimpanan Petir Zeus. Saya kira seperti yang ada di film, ternyata bukan. Dan terakhir, adegan ending antara Percy dan Luke, ternyata berbeda juga. Saya ingatnya yang ada di film >.<

Terakhir, masih 5 dari 5 bintang deh untuk Percy. Berdasarkan pengalaman saya, kalau saya lanjut membaca seri ini sampai habis plus ditambah companion books dan seri The Heroes of Olympus, saya pasti bakalan bilang kalau PJO dan HoO ga ada duanya *dasar plin-plan*So, sekarang saatnya membaca The Sea of Monster. Lanjuuutt \^_^/

***

Judul: The Lightning Thief – Pencuri Petir | Seri: Percy Jackson and The Olympians #1 | Pengarang: Rick Riordan | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Desember 2008 | Penerjemah: Femmy Syahrani | Jumlah halaman: 453 halaman | Status: Owned book (Mizan Book Fair Banjarbaru 2011) | Rating saya: 5 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

lucky-no15

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s