Posted in A Song of Ice and Fire, Books, Epic, Fantasious, Fantasy, George R.R. Martin, Review 2015, Series

A Game of Thrones Review

wpid-img_20150528_150834.jpg

***

942 halaman tenggelam di dalam kisah perebutan takhta, yah, saya tidak akan bisa bilang tidak suka. Apalagi dengan kisah yang ditulis sebagus ini dan dengan ending yang seperti itu. Ngomong-ngomong, sebelum sampai di ending-nya, kalau ditanya tentang apa komentar saya setelah membaca A Game of Thrones, maka jawabannya adalah saya ingin punya direwolf, yang warnanya putih seperti Ghost tapi bermata hijau seperti Shaggydog. Tapi setelah melewati ending, well, saya jadi ingin punya … err … makhluk keren yang itu :D

Sebelum membaca bukunya, saya sempat menonton serial televisinya sedikit. Saya cuma tahan menonton sampai Viserys yang diberi mahkota emas. Setelah itu, yah, saya tidak sanggup menontonnya lagi.

Mengingat betapa … eh … kejamnya serial televisinya, maka saya sudah menyiapkan diri sebelum membaca bukunya. Eh tapi ternyata bukunya tidak separah itu. Untunglah. Meskipun sesekali saya masih meringis saat membaca adegan yang berhubungan dengan lepasnya anggota tubuh atau isi perut yang terburai keluar.

Sebagai buku hadiah ulang tahun saya tahun ini, saudari-saudari saya dengan senang hati memilihkan buku yang mereka anggap tebal ini untuk Lucky No. 15 RC Category Randomly Picked. Awalnya sih saya oke-oke saja, sedikit sombong karena yakin bisa menyelesaikan buku ini sekali duduk karena sepenglihatan saya buku ini ketebalannya masih bisa ditoleransi. Eh tapi penampilan buku ini ternyata menipu saya. Entahlah, menurut saya buku ini terlihat ringkas. Bukunya juga tidak terlalu berat. Dan setelah mulai membaca, saya baru menyadari kalau tulisannya kecil-kecil dan tulisan kecil ini berlanjut sampai halaman 900 sekian. Ya sudahlah, saya mengaku kalah😀

A Game of Thrones pertama kali diterbitkan tahun 1996, serial televisinya juga populer, jadi saya rasa saya tidak perlu menuliskan lagi bagaimana ringkasan ceritanya kan. Lagipula saya juga bingung bagaimana menceritakan kembali kisah perebutan takhta sepanjang ini. Walaupun sebetulnya bisa saja sih, tapi saya malas, hahhah, *kena keplak*.

Singkatnya saja, A Game of Thrones menceritakan tentang, eh, perebutan kekuasaan. Bayangkan saja ada sebuah dunia dimana ada Raja dan Ratu yang berkuasa, klan-klan yang saling bersaing, takhta yang diperebutkan, para ksatria, pengkhianat, penjilat, perang, makhluk-makhluk dongeng seperti direwolf dan naga, hutan angker, dan masih banyak lagi. Dunianya sendiri digambarkan dengan detail, begitu pula dengan sejarah tokoh-tokohnya. Pokoknya khas epic fantasy-lah.

Tapi ada hal yang saya kurang sukai dari A Game of Thrones. Saya cenderung tidak suka kalau ada buku yang mempunyai kisah yang seakan tidak berujung. Entahlah, saya hanya merasa, tidak peduli siapapun yang akhirnya berkuasa, perebutan takhta ini akan tetap berlanjut. Akan selalu ada kisah yang bisa dituliskan. Apalagi dengan tokoh-tokoh yang mempunyai sifat haus kekuasaan, penuh dendam dan gemar berperang seperti itu. Dengan kata lain, saya merasa tidak ada biang onar yang tetap untuk kisah ini walaupun ada satu klan menyebalkan yang sepertinya tanpa mereka Westeros bisa lebih damai sedikit.

Berbeda dengan Harry Potter misalnya, ketika Harry berhasil mengalahkan Voldemort, maka kisahnya selesai. Atau Lord of The Ring, ketika cincin beserta Sauron berhasil dihancurkan, ceritanya selesai dan Middle Earth kembali aman.

Tapi itu cuma derita saya sendiri saja sih. Apalagi saya baru membaca satu buku dari seri ini. Mungkin kalau sudah membaca buku-buku berikutnya saya bisa menemukan siapa sebenarnya yang perlu disingkirkan dari Westeros (atau dari benua-benua lainnya) supaya dunia mereka bisa penuh dengan kedamaian *halah*.

Oh ya, sejak membaca Harry Potter, saya sudah belajar untuk tidak terlalu bersimpati dengan seorang karakter sesuka apapun saya dengan dia. Dan untunglah begitu, soalnya disini, di A Game of Thrones, ada satu tokoh yang saya kira tidak akan mati karena orang ini cocok untuk jadi pahlawan dengan sifatnya yang sangat menjunjung tinggi kehormatan. Ta…tapi ternyata, dia mati. Hiks.

Kematiannya membuat saya berpikir, walaupun bersikap baik itu terkadang terdengar bodoh dan bisa membuat kita mati konyol, tapi menjadi orang baik tetap jauh lebih baik daripada menjadi orang yang tidak baik *apacoba*.

Ngomong-ngomong, saya teringat dulu, waktu sempat menonton serial televisinya sebentar, saya naksir seorang pangeran muda tampan berambut pirang yang muncul diawal-awal episode. Waktu itu saya tidak ngeh siapa nama pangeran itu. Saat saya bilang ke teman saya yang seorang penggemar berat seri A Song of Ice and Fire (baik serial tv maupun bukunya), dia dan teman-temannya langsung protes. Saking protesnya mereka sampai ingin membunuh diri mereka sendiri (untunglah tidak membunuh saya)😀

Belakangan saya baru ngeh ternyata pangeran itu adalah Joffrey. Haha. Pantas mereka protes berat. Joffrey memang sangat menyebalkan. Sangat sangat menyebalkan dan jahat. Tapi yah anggap saja waktu itu saya sepolos Sansa yang terpesona waktu pertama kali melihat Joffrey dan menganggapnya pangeran tampan berambut emas yang keluar dari buku dongeng. *membela diri sendiri*. Oke teman-teman, sekarang saya sudah sadar. *sungkem sama teman-temanku, senior-senior fans aSoiaF*😀

At last, ada satu hal yang paling saya sukai dari A Game of Thrones. Saya sangat merasakan tokoh-tokohnya memiliki cinta yang sangat besar dengan keluarga mereka masing-masing. Somehow, saya rasa ini cukup luar biasa untuk ukuran buku yang penuh dengan peperangan dan pengkhianatan. So, 4 dari 5 bintang untuk buku pertama dari seri A Song of Ice and Fire . Yap, I really liked it.

***

Judul: A Game of Thrones | Seri: A Song of Ice and Fire #1 | Pengarang: George R.R. Martin | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, Mei 2015 | Penerjemah: Barokah Ruziati | Penerbit: Fantasious | Jumlah halaman: XVI + 948 halaman | Status: Owned book (@tokomtindo) | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event New Authors RC 2015, dan Lucky No. 15 RC Category Randomly Picked

narc2015

lucky-no15

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

2 thoughts on “A Game of Thrones Review

  1. Ya ampun pengen baca buku ini! saya baru liat dikit serialnya mengingat emang sadis dan ‘sesuatu’ hahaha. kudu kuat liat darah dan tebas menebas. Oh ya, Joffrey wahahaha I hate him from the very first time *heh*

    Like

    1. Hahaha, sesuatu banget memang serialnya😉

      Astagaaaa…sepertinya memang cuma saya dan Sansa yak yang tertipu dengan wajah cakepnya Joffrey😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s