Posted in Atria, Books, Fairytale Retellings, Fantasy, Jackson Pearce, Review 2015, Series, Young Adult

Sisters Red Review

 photo sisters_red_by_jakcson_pearce_uploadedby_irabooklover_zpsqxvwua4j.jpg

***

Fairytale Retellings. Saya biasanya suka dengan tipe cerita seperti ini. Dilihat dari judulnya sudah bisa ditebak kalau dongeng yang diceritakan kembali ini berasal dari cerita si tudung merah. Selain itu, covernya keren dan blurb di cover belakangnya juga menarik.

Sisters Red menceritakan tentang dua saudara perempuan, Scarlett dan Rosie March yang diserang serigala jadi-jadian (Fenris) di pondok kayu nenek mereka di hutan sewaktu mereka masih kecil. Serangan itu menewaskan si nenek dan membuat Scarlett kehilangan sebelah matanya dalam usahanya untuk melindungi sang adik.

Scarlett jadi terobsesi untuk memburu Fenris. Bersama Rosie, Scarlett sengaja memancing para Fenris yang gemar menyantap para gadis dengan tudung merah mereka karena Fenris lebih tertarik dengan warna merah. Saat Fenris yang mereka incar terpikat dan mulai berubah menjadi serigala, kedua bersaudari ini tidak akan pernah membiarkan si Fenris lolos.

Bersama mereka, juga ada Silas, seorang pemuda anak tukang kayu yang tinggal di dekat pondok nenek mereka. Silas beberapa tahun lebih tua dari Scarlett. Silas juga seorang pemburu Fenris walaupun dia sempat “cuti” selama setahun dan membuat Scarlett marah.

Karena bagi Scarlett, tidak ada yang lebih penting daripada memburu Fenris. Dan meskipun sempat marah kepada Silas, Scarlett tetap menganggap kelompok mereka sempurna. Apalagi dia dan Rosie seperti memiliki sebuah jantung yang sama. Pokoknya bagi Scarlett, hidup adalah untuk berburu Fenris. Untuk melindungi gadis-gadis lugu yang tidak tahu apa-apa tentang bahaya yang mengintai mereka. Sudah menjadi tugas mereka bertiga untuk membunuh para Fenris karena hanya merekalah yang tahu kalau para Fenris bukan hanya sekedar dongeng.

Rosie, sebagai seorang adik yang merasa berhutang nyawa kepada Scarlett, bersedia ikut memburu Fenris. Rosie memang tidak terlalu kuat bertarung tapi sangat cantik dan cerdik. Dengan tudung merahnya, dia selalu berhasil menarik perhatian para Fenris untuk mendekat. Rosie juga sangat jago menggunakan pisau. Bahkan lebih jago daripada Scarlett yang lebih memilih bertarung dengan menggunakan kapak.

Tapi berbeda dengan Scarlett, Rosie menganggap hidup bukan hanya untuk berburu Fenris. Rosie ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi gadis normal. Rosie ingin belajar hal-hal lain selain menjadi pemburu. Rosie bahkan sudah jatuh cinta kepada seorang pemuda. Hal ini membuat Rosie dihantui perasaan bersalah karena dia tahu Scarlett pasti marah besar kalau tahu Rosie mulai memikirkan hal-hal lain diluar berburu.

Sementara Silas lebih mendukung Rosie. Tapi Silas juga tidak melarang Scarlett untuk melanjutkan obsesinya kepada para Fenris. Hanya saja menurut Silas, jika Scarlett memang ingin menjadi pemburu, dia tidak perlu memaksanya dan Rosie untuk ikut serta.

Nah, konflik ketiga tokoh inilah yang saya rasa sangat mendominasi dalam cerita ini. Cerita tentang perburuan Fenris sendiri seakan-akan hanya sebagai pelengkap. Benar memang kalau petualangan Scarlett, Rosie dan Silas selalu diwarnai dengan pertarungan mereka dengan para Fenris. Aksi Scarlett dan Rosie juga keren. Tapi tetap saja saya rasa perburuan mereka terkesan acak dan tidak terencana. Mereka hanya keluar dan membuat para Fenris yang kebetulan lewat termakan umpan tudung merah mereka. Setelah Fenris tersebut mati, mereka akan berburu lagi entah sampai kapan. Sementara jumlah Fenris sangat banyak dan tersebar di mana-mana.

Saya sempat bernapas lega saat sampai pada bagian dimana petualangan ketiga pemburu ini sepertinya akan membawa mereka pada sebuah kesempatan untuk menghancurkan para Fenris selamanya. Namun, bahkan aksi ini pun saya rasa masih kurang greget karena konflik antara ketiganya juga semakin memanas.

So, saya rasa, Sisters Red, sedikit berada di bawah ekspektasi saya. Tapi diluar itu, saya suka dengan aksi-aksi heroik dua saudari bertudung merah ini. Scarlett sangat tangguh dan Rosie sangat pintar. Mereka berani sendirian melawan para monster yang pernah menanamkan mimpi buruk kepada mereka. Mereka bahkan sengaja menjadikan diri mereka umpan agar monster itu dapat dimusnahkan. CoolAt last, 3 dari 5 bintang deh untuk Sisters Red. I liked it.

***

Judul: Sisters Red – Dua Saudari Bertudung Merah | Seri: Fairytale Retellings #1 | Pengarang: Jackson Pearce | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Februari 2011 | Penerjemah: Ferry Halim | Jumlah halaman: 432 halaman | Status: Owned book (3rd Banjarbaru Book Fair 2015) | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event New Authors RC 2015, dan Lucky No. 15 RC Category Bargain All The Way

narc2015

lucky-no15

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

One thought on “Sisters Red Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s