Posted in Non Review

Scene on Three #44: The Sword of Shannara

Scene on Three hosted by Bacaan Bzee

“Jerle Shannara justru tidak siap menerima kenyataan yang dia terima. Memang mungkin tidak ada cara yang bisa membuatnya cukup siap menghadapi hal itu sebelumnya. Kita membuat terlalu banyak batasan untuk dapat benar-benar jujur dengan diri kita sendiri” (hal 787)

Scene dari buku The Sword of Shannara by Terry Brooks. Kadang, saya bertanya-tanya tentang alasan kenapa—dari ribuan buku yang ada—sebuah buku tertentu, akhirnya sampai ke tangan saya. Tentunya selain alasan simple karena saya pergi ke toko buku dan kebetulan saja buku tersebut saya anggap menarik.

Kalau direnungkan secara mendalam *haduh ae kata-katanya*, saya kembali teringat dengan kata-kata di buku The Secret karya Rhonda Byrne. The Secret mengatakan kalau sebuah buku bisa sampai ke tangan saya karena Semesta memang sengaja mengatur agar hal tersebut terjadi. Buku itu memang harus saya baca entah bagaimana cara Semesta mengaturnya.

Dan lewat The Sword of Shannara, saya akhirnya menemukan scene di atas. Sebetulnya ada satu kalimat lagi yang sengaja saya tinggal karena menyatakan dengan blak-blakan rahasia pedang Shannara. Spoiler rasanya kalau saya tuliskan. Padahal kalimat itulah yang sebenarnya membuat saya memilih scene ini.

Pesan tersebut, secara garis besar, adalah kurang lebih tentang … errrr …. keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Keberanian untuk menerima kalau diri kita tidak sempurna. Menurut buku ini, hal se-simple itu, bisa membuat kita mati konyol😀

Sebelumnya saya pernah menulis Scene on Three yang menghasilkan efek yang mirip, yaitu Scene on Three ke-42 yang saya ambil dari buku Aleph by Paulo Coelho. Aleph sebenarnya sudah memberitahu saya kalau tidak benar untuk menyalahkan orang lain atas kegagalan yang terjadi pada diri kita. Ya, saya sudah tahu itu, tapi seperti komentar saya yang ada di SoT ke-42 itu, saya menerimanya dengan sinis.

Nah, The Sword of Shannara akhirnya menyadarkan saya lagi, dengan cara yang berbeda. Kebetulan sekali beberapa hari sebelumnya, saya dengan seenaknya menyalahkan orang lain atas kegagalan yang saya alami. Tapi setelah membaca petualangan Shea, saya jadi malu. Saya pasti tampak seperti Jerle Shannara yang tidak mampu menerima kekurangan diri sendiri.

Saya menganggap yang saya lakukan sudah maksimal dan kegagalan yang terjadi adalah karena kesalahan orang lain. Saya tetap dengan keras kepalanya mengatakan kalau saja orang lain itu tidak ikut campur saya mungkin sudah mendapatkan apa yang saya inginkan tanpa menyadari sama sekali kalau kegagalan itu terjadi karena usaha saya memang belum maksimal dan ada kemungkinan kalau kegagalan itu memang sudah ditakdirkan harus saya alami. Nah kan saya jadi curcol lagi😀

Oke lah, kesimpulannya, scene ini menyadarkan saya, kalau menjadi seperti Shea—seorang pemuda desa biasa—yang berani jujur mengakui kekurangan dirinya sendiri meskipun dia jijik setengah mati, jauh lebih keren daripada menjadi seperti Jerle Shannara, seorang Raja Elf, yang tidak sanggup menerima kenyataan kalau dirinya tidak sesempurna apa yang dipikirkannya selama ini.

***

Note:

Teruntuk orang-orang yang pernah saya salahkan…

yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu…. *halah*

Tolong maafkan saya ya…

*sungkem*

(っ╯_╰˘)

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

4 thoughts on “Scene on Three #44: The Sword of Shannara

  1. Semua manusia memiliki kecenderungan tidak ingin jadi pihak yang salah dan kalah. Jadi, ya gitu, demi memenuhi egonya tersebut sebagian menunjuk orang lain sebagai kambing hitam, meski mereka tahu di sudut hatinya dialah yang bersalah.

    Saya pun kadang seperti itu, heheh. Bahkan tidak hanya orang tapi juga benda, dan kalau sedang ekstrem menyalahkan yang lain yang memiliki kekuasaan tak terbatas :p

    Like

  2. Hihi, sama, kemarin PAS selesai baca Adultery aku jg mengalami pertentangan batin yg kurang lebih mirip dgn karakter di buku itu. Maunya sih melarikan diri seperti yg dilakukan karakternya di awal2, tapi aku kan sudah selesai baca, jadi harusnya bisa mengambil langkah lebih bijak dong ya *ikutancurcol

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s