Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, History, Non Fiction, Review 2015, Winny Gunarti

Putri Ong Tien Review

wpid-img_20150206_182534.jpg

***

Hmmm…

Sebenarnya, saya tidak suka pelajaran sejarah. Membeli buku ini juga diluar rencana. Kebetulan saja buku ini kena diskon di stand Gramedia Banjarmasin pas acara Banjarbaru Book Fair 2015. Selain itu, covernya juga cantik. Dan biasanya cerita-cerita yang berlatar belakang negeri China ini mengandung pesan-pesan moral yang disampaikan dengan indah. Plusnya lagi, buku ini bisa menjadi tiket saya untuk ikut Asia Pacific History Reading Challenge-nya Bang Helvry.

Jujur saya masih bingung apakah buku ini termasuk buku non fiksi atau tidak. Menurut penulisnya sih, buku ini adalah sebuah faksi, fakta sejarah yang dibalut fantasi. Fantasinya sengaja dimasukkan agar fakta sejarahnya menjadi lebih ringan. Tapi untuk saya, tetap saja tidak mempan, huehehehe, maaf. Saya tetap bosan membaca buku ini, karena menurut saya, meskipun ada unsur fantasinya, buku ini tetap lebih berat ke bagian fakta sejarahnya.

Untungnya penampilan fisik buku ini banyak membantu. Covernya indah dan ilustrasi bagian dalamnya keren. Kalau saya mulai bosan, saya akan mengelus-ngelus covernya dan membolak-balik ilustrasi halaman-halamannya biar kembali semangat ūüėÄ

Ceritanya sendiri mengisahkan tentang Putri Ong Tien, putri dari Kerajaan Tiongkok yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Nah, saya belum pernah membaca atau mendengar sekalipun tentang putri ini. Saya bahkan tidak terlalu banyak tahu tentang Sunan Gunung Jati. Jadi saya menelan bulat-bulat saja informasi yang ada di buku ini, tidak yakin yang mana yang fantasi dan yang mana yang fakta.

Tapi dari analisis sementara saya, halah analisis ūüėÄ , saya rasa hampir semua informasi di buku ini adalah fakta kecuali bagian-bagian yang tampaknya sengaja didramatisir.

Saya baru tahu kalau Sunan Gunung Jati ternyata mempunyai darah Mesir, bahwa nama beliau adalah Syarif Hidayatullah, dan beliau pernah tinggal di Tiongkok dan menjadi tabib ternama.

Karena ketenarannya sebagai tabib inilah, maka Kaisar yang berkuasa saat itu memanggil beliau ke istana. Disanalah beliau bertemu dengan Putri Ong Tien yang sengaja disuruhnya ayahandanya untuk berpura-pura hamil dengan mengikat bokor kuningan di perutnya. Hal itu dilakukan untuk menguji kesaktian sang tabib.

Tapi yang terjadi adalah bokor kuningan sang putri tiba-tiba menghilang dan sang putri jadi hamil betulan. Kaisar murka dan Syarif Hidayatullah pun diusir dari Tiongkok.

Namun, sang putri sudah terlanjur jatuh cinta dengan sang ulama. Belum lagi dengan keadaannya yang hamil bokor kuningan. Hal ini membuat sang putri bertekad untuk menyusul sang ulama ke tanah Jawa. Maka perjalanan laut yang berbahaya pun ditempuh sang putri. Setelah mengalami banyak perpisahan dan pengorbanan, sang putri akhirnya berhasil sampai ke tanah Jawa dan bertemu dengan Sunan Gunung Jati. Mereka akhirnya menikah dan sang putri masuk dalam keluarga besar Kesultanan Cirebon. Lalu bagaimana dengan bokor kuningannya? Yah silahkan baca sendiri bukunya ūüėÄ

Ngomong-ngomong, sayang sekali di buku ini ada beberapa paragraf yang tidak lengkap. Ada beberapa kata atau kalimat dari paragraf tersebut yang seolah hilang. Salah satunya adalah ini:

‚ÄĚ …Kemudian, setelah tiga hari menikah, pengantin perempuan akan d

bunyikan berbagai alat musik,….‚ÄĚ

(hal 30)

Nah itu “d” apa sambungannya ya? Kalimatnya jadi terasa janggal. Sayangnya, bukan hanya satu, tapi ada beberapa kalimat putus seperti itu di buku ini.

Oke, lupakan saja kesalahan ketiknya. Yang paling penting dari buku ini adalah pelajaran yang bisa saya ambil dari peristiwa sejarah Putri Ong Tien. *sok bijak*. Setelah membaca kisah sang putri, terutama di bagian saat Kaisar ingin menguji kesaktian Syarif Hidayatullah, saya jadi menyadari bahwa jangan pernah sekalipun mencoba membohongi orang lain dengan maksud mempermalukan. Ujung-ujungnya kita sendiri yang akan malu.*catet*.

Kemudian saya juga terkesan sekali dengan tekad kuat yang dimiliki oleh putri dari Kaisar China ini. Bayangkan saja sang putri rela meninggalkan tanah kelahirannya untuk menuju sebuah negeri yang sama sekali asing. Perjalanan yang ditempuh selain sangat jauh, juga sangat berbahaya. Jujur saja, keberanian sang putri untuk mengikuti kata hatinya membuat saya iri.

Terus cerita ini juga mengingatkan saya kalau hubungan negeri kita dengan negeri China sudah berlangsung sejak jaman dulu kala. Mengingat ini saya jadi pusing sendiri. Memikirkan bagaimana orang-orang tempo dulu saling berinteraksi dengan penampilan dan bahasa yang jauh berbeda. Bagaimana mereka menemukan daerah-daerah asing lewat jalur pelayaran yang bukan saja memakan waktu berbulan-bulan tapi juga harus berhadapan dengan para perompak. Orang-orang tempo dulu ini gigih sekali ya.

At last, saya suka dengan pesan-pesan moral yang disampaikan oleh cerita ini. 3 dari 5 bintang deh. I liked it ^_^ 

***

Judul: Putri Ong Tien: Kisah Perjalanan Putri China Menjadi Istri Ulama Besar Tanah Jawa | Pengarang: Winny Gunarti | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, 2010 |  Jumlah halaman: 200 halaman | Status: Owned book | Tanggal beli: 31 Januari 2015 | Tempat beli: Stand Gramedia Banjarmasin @ 3rd Banjarbaru Book Fair 2015 | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Submitted for New Authors RC 2015, Lucky No. 15 RC Category Who Are You Again? and Asia Pacific RC 2015

narc2015

lucky-no15

logo asia pacific reading challenge

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s