Posted in Books, Feby Indirani, Gramedia Pustaka Utama, Life Stories, Memoir, Non Fiction, Review 2014, Self Help

Alien Itu Memilihku Review

 alien_itu_memilihku_by_feby_indirani

Title: Alien Itu Memilihku | Author: Feby Indirani | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2014 | Page: 301 pages |  Status: Owned book (bingkisan dari @bone_cancer) September,6th 2014 | My rating: 5 of 5 stars

Hari itu, tanggal 30 September 2014, saya membuka twitter dan dapat kabar gembira kalau review saya untuk buku Hero by Rhonda Bryne terpilih sebagai #ResensiPIlihan dari @Gramedia. Tidak lama kemudian, saya juga mendapat bingkisan dari @bone_cancer yang isinya buku Alien itu Memilihku. Belakangan baru saya ketahui kalau @bone_cancer adalah Mbak Indah Melati Setiawan yang kisahnya dituliskan di buku tersebut.

Thank God, saya dapat dua buku gratis dalam satu hari. Dan itu cukup membuat saya bawaannya pengen meloncat-loncat sepanjang minggu. *halah*.

Ehm, kembali ke Alien Itu Membunuhku. Sebelumnya, silakan dibaca dulu sinopsisnya yang saya ambil dari cover belakang buku:

Sinopsis:

“Pahaku yang sebesar pepaya mengkal terasa berdenyut-denyut. Aku membayangkan jari-jari alien itu tumbuh semakin besar dan bergerak aktif mencengkeram tulang. Makhluk asing yang menjadi kian kuat dari waktu ke waktu.

Aku bergidik ngeri membayangkan alien itu menelusup di balik kulit —  dalam diam namun sangat gesit — melancarkan peperangan dan upaya merebut kekuasaan atas tubuhku.”

Kehidupan Indah — seorang wanita profesional Jakarta yang aktif dan dinamis — tiba-tiba berubah 180 derajat. Paha kirinya membengkak dan semakin besar dari waktu ke waktu, seolah ada “alien” yang tumbuh dan bersarang di dalamnya. Kaki kirinya terancam diamputasi dari pangkal paha. Lebih dari itu, ancaman maut pun hadir persis di depan matanya.

Suram. Itulah kesan pertama saya setelah membaca buku ini. Bahkan sejak halaman pertama saya sudah punya firasat kalau buku ini bakalan membuat saya menangis. Yah, saya memang cengeng dan gampang sekali menitikkan air mata. Dan benar saja. Saya menangis hampir disepanjang buku. Bahkan saat menulis review ini mata saya masih bengkak. *sedot ingus*.

Buku ini ditulis oleh Feby Indirani, tapi dituliskan dengan cara seolah-olah Mbak Indah-lah yang menuliskan kisahnya sendiri.

Dan kutipan pertama yang saya tempeli bookmark adalah kutipan berikut:

Bhiksu Garbha menyarankanku mendengarkan sutra demi menenangkan pikiran. Karena penyakit bisa bersumber dari pikiran, maka dengan pikiran yang tenang dan terpusat dapat membantu penyembuhannya.

(hal 87)

Nah, pas sekali dengan masalah saya saat ini yang kalang kabut karena ada jerawat yang tumbuh tiba-tiba di saat ada acara penting. *apa coba*. Kutipan di atas, selaras dengan buku Hero yang baru-baru ini saya baca, bahwa dengan pikiran yang positif, kita dapat menyingkirkan hal negatif seperti penyakit. Thank God, jerawat itu akhirnya sembuh dengan cepat :D

Tapi kawan, masalah yang diceritakan dalam buku ini bukanlah penyakit sesepele jerawat yang tumbuh di saat yang tidak tepat. Ini adalah kisah nyata tentang penderita kanker tulang ganas yang berhasil bertahan hidup.

Kali ini, kanker yang harus dilawan oleh tokoh utama kita adalah kanker Ewing Sarcoma. Kanker yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Sama seperti semua kanker ganas lainnya, kanker ini juga menyerang orang-orang yang dipilihnya dan perlahan mengambil alih segalanya dari orang-orang tersebut. Kesehatan, kemandirian, kecantikan, harapan, bahkan kehidupan.

Ini bukan kisah nyata pertama yang saya baca. Tapi kisah ini, bagi saya, punya poinnya sendiri. Sebelumnya, setiap saya membaca buku tentang perjuangan seseorang melawan penyakit, yang jelas selalu membuat saya menangis, saya selalu bertanya kenapa sih harus dia, kenapa harus orang itu. Dan buku ini akhirnya memberikan jawabannya melalui kata-kata suster Ong berikut:

“Tapi sesungguhnya kamu harus bersyukur mengalami kanker. Tuhan bekerja dengan cara misterius….”

(hal 180)

Nah, reaksi pertama saya setelah membaca ini persis seperti reaksi Mbak Indah:

“Saya tahu Anda berniat baik, tapi saya rasa Anda belum pernah mengalami kanker. Jadi, tolong jangan mengatakan saya beruntung harus mengidap penyakit seperti ini.”

(hal 180)

Untungnya Suster Ong punya penjelasan yang bagus:

“Tidak, kamu tidak mengerti,” ia memotong kalimatku dengan cepat. “Saya bukan meremehkan penderitaanmu, tapi kadang kita tidak bisa mengerti cara-cara Tuhan mengangkat derajat seseorang.

(hal 180)

“Kamu tidak pernah tahu, mungkin Tuhan sedang menempamu untuk menjadi orang yang luar biasa dengan memberimu penyakit kanker ini… Jadi percayalah, kanker ini mesti kamu syukuri…”

(hal 183)

Nah, itu dia. Saya sebenarnya sudah sering membaca kalimat-kalimat seperti itu. Sebelumnya, saya rasa kalimat-kalimat penyemangat seperti yang diucapkan oleh Suster Ong ini sama sekali nonsense. Sebagus apapun maksudnya, helloooo, penderita kanker tetap menderita.

Tapi, somehow, lewat buku ini, kalimat itu terasa benar dan dapat saya terima. Terutama di bagian “kadang kita tidak mengerti cara-cara Tuhan mengangkat derajat seseorang”. Strike pertama yang langsung kena ke hati saya. *tsaaah*.

Saya jadi mengerti, kalau kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, memang, hanya orang-orang hebatlah yang terpilih untuk mengalami ujian seberat menderita penyakit kanker ganas. Kalau dia berhasil untuk bertahan dan sabar, well, tidak diragukan lagi, Tuhan memang punya cara sendiri untuk mengangkat derajat seseorang.

Tapi kisah ini tidak melulu suram kok. Ada juga beberapa bagian yang membuat saya tersenyum. Salah satunya adalah saat Mbak Indah mempertanyakan kenapa James Ewing mau-maunya memberikan namanya untuk dijadikan nama penyakit. Mbak Indah juga membandingkannya dengan Mbah Moedjair. Wow, saya baru tahu kalau Mbah Moedjair ini ternyata penemu spesies ikan mujair😀

Drama yang terjadi diantara Mbak Indah dengan pihak rumah sakit pra dan pasca operasi mirip seperti saya. Yeah, saya juga pernah dioperasi karena patah tulang paha akibat kecelakaan. Pengalaman dibius dan sebagainya memang seperti itu. Waktu itu saya sudah merasa malu sekali karena sempat bertingkah tidak mau minum obat yang diberikan oleh dokter. Tapi ternyata ada yang lebih bertingkah daripada saya ya, ahahaha. *dikeplak Mbak Indah*. Kasian para perawat yang harus menghadapi pasien-pasien seperti kami😀

Sedikit banyak, membaca chapter tersebut, membawa ingatan saya kembali kepada saat-saat saya juga harus terbaring di rumah sakit. Tidak bisa berjalan, tidak boleh makan sebelum operasi, tidak boleh minum, bagaimana rasanya dibawah pengaruh obat bius. Dan saat itu juga hanya ada mama yang selalu ada disamping saya. Huaaaah. Saya jadi pengen nangis lagi. *peluk mama*.

Waktu itu, saya merasa seperti orang yang paling menderita di seluruh dunia. Tapi setelah membaca kisah Mbak Indah, saya rasa penderitaan saya waktu itu sama sekali tidak ada apa-apanya. Haduh, jadi malu. *tutup muka pakai bantal*.

Saya suka ilustrasi-ilustrasi yang ada di buku ini. Somehow, ilustrasi-ilustrasi itu dapat mencerahkan suasana suram dari kisah ini. Tapi, saya sedikit tidak suka dengan kutipan-kutipan yang sengaja diperbesar dibeberapa halaman. Kutipan itu diambil dari halaman yang bersangkutan. Membacanya jadi berasa terulang-ulang. Tapi ini masalah selera saja sih sebenarnya.

Dibagian akhir juga ada gambar-gambar yang disisipkan. Termasuk gambar paha Mbak Indah yang membengkak karena kanker. Ya Tuhaaaan, ternyata memang benar seperti pepaya. Ada juga gambar tumornya setelah diangkat. Mengingatkan saya pada tumor tante saya yang tidak sengaja saya lihat waktu saya kecil. Padahal itu sudah lama sekali. Tapi bayangan alien itu memang tidak mudah dilupakan.

Saya sangat menyukai bagian ending buku ini. Strike terakhir. IMO, ditulis dengan bagus sehingga terasa sangat personal, seakan ditujukan langsung kepada saya. Bahkan saat saya membaca ulang halaman itu, air mata saya kembali mau menetes. Dan kalimat favorit saya adalah yang ini:

Buku ini dipersembahkan untukmu, sebagai tanda cinta. Karena kita tak bisa menjumpai pelangi, sebelum siap menyeberangi hujan.

(hal 283)

Sebenarnya masih banyak strike-strike dari buku ini yang ngena di hati. Tapi kalau dituliskan semuanya bakalan panjang sekali. So, silakan baca sendiri bukunya dan lihat apakah kalimat-kalimat tersebut juga berefek sama terhadapmu😉

At last, ini adalah buku tentang bagaimana bertahan melewati cobaan hidup. Ini adalah buku yang mengajarkan kita untuk bersyukur atas segala hal kecil yang mungkin kita lewatkan. Ini adalah buku yang mengingatkan kita, tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk membantu orang lain. Lakukan kewajiban kita sekarang. Dan seperti kata Mbak Indah:

Memberikan apa yang kita punya dengan cara apa pun yang kita bisa

(hal 280)

So, 5 dari 5 bintang untuk buku ini. Yeap, full rated. Terutama untuk strike-strike-nya yang tepat mengenai saya. Sangat menginspirasi. And it was amazing to me.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s