Posted in Books, Non Fiction, Review 2014

DIMENSI REVIEW

Baca dan Posting Bareng BBI 2014

Baca Bareng BBI Maret Tema Puisi

 photo dimensi_zpse89b1451.jpg

Judul: Dimensi Antologi Puisi 10 Penyair Banjarbaru | Pengarang: Ali Syamsudin Arsi, Arsyad Indradi, Eza Thabry Husano, Hamami Adaby, Hudan Nur, Isuur Loeweng S, Fatimah Adam, Harie Insani Putra, Nina Idhiana, Samsuri Barak  | Penerbit: Kelompok Studi Sastra Banjarbaru | Edisi: Cetakan pertama, September 2005 |  Status: Pinjam dari Perpustakaan Kota Banjarbaru| Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Buku antologi puisi yang ditulis oleh pengarang lokal dari kota Banjarbaru. FYI, Banjarbaru adalah sebuah kota yang terletak kurang lebih 1 jam perjalanan dari ibukota provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin. 

Buku antologi puisi yang saya baca ini adalah terbitan tahun 2005. Sebetulnya ada antologi puisi sejenis terbitan terbaru, tapi saya setelah baca-baca sekilas, saya lebih suka puisi-puisi yang ada di buku ini.

Masing-masing dari kesepuluh penyair ini menuliskan lebih dari satu puisi. Satu diantaranya pasti ada puisi tentang kota Banjarbaru. Sepertinya hal ini merupakan syarat wajib ^_^

Ngomong-ngomong, saya bingung mau menulis apa. Saya belum pernah me-review puisi. Boro-boro mau me-review, memahaminya pun saya bebal sekali😀

Meskipun begitu saya cukup suka kok membaca puisi. Soalnya kata-katanya indah dan cenderung pendek.

Dan dari kumpulan puisi yang ada di buku ini, ada satu puisi yang paling berkesan bagi saya. Puisi tersebut adalah puisi karya Ali Syamsudin Arsi yang berjudul Sebab Aku Bukan Orang Bukit. Berikut puisinya:

Bila ada yang mempertanyakan siapa aku sebenarnya 
maka jawablah 
sebab dengan jawaban itu membuka mata dan pikiran
siapa saja, sebab aku bukan orang bukit 

aku bukan orang yang tepat untuk melestarikan
hening aku bukan 

aku bukan orang yang tepat untuk menjaga adat
leluhur aku bukan 

aku bukan orang yang tepat untuk menjernihkan
keruh aku bukan 

sebab dengan semua itu semua akan membuka mata dan pikiran
siapa saja, sebab aku bukan orang bukit

bila ada sesuatu yang harus dipertahankan
tentang apa saja, segala sesuatu yang sudah ada,
bahkan turun temurun 

biasanya aku tidak akan pernah tahu 
dan memang tidak akan pernah mau tahu 
itu adalah urusanmu; 
siapa saja, sebab aku bukan orang bukit

rotan mengecil dan terpencil
damar tak ada lagi di ketika dahan
ulin hanya menyisakan nama-nama gedung dan jalan
jejak kijang hilang disapu amarah sungai
jantung unggas tercemar karena racun mesiu
serat daging ikan tak lagi terasa manis
gemeretak daun kering di ranting-ranting lapuk

apabila harus ada yang menyusun kembali tulang-tulang
masa silam
agar peradaban mempunyai daya untuk bicara
sebab dengan semua akan membuka mata dan pikiran
siapa saja, sebab aku bukan orang bukit

aku orang kiriman
akulah yang membuat pasar di tengah hutan
akulah yang meletakan harga sebiji gunung
dengan segala isinya
bahkan kepadakulah semua tawaran
akulah yang akan membangun istana digelisahnya rumputan
dan kerajaan tulang belulang
siapa saja sebab aku bukan orang bukit
dan aku orang kiriman, datang sebagai mesin

Sepengetahuan saya, orang bukit adalah sebutan untuk suku dayak yang tinggal di pegunungan Meratus. Meskipun yang disebut disini adalah orang bukit, saya rasa kata tersebut juga mengacu kepada semua penduduk asli Kalimantan Selatan *soktau*. Dan meskipun yang disebut merusak disini adalah “orang kiriman”, saya rasa itu juga berlaku bagi siapapun penduduk KalSel yang seenaknya merusak lingkungan, baik yang pendatang ataupun tidak. *soktaupart2*.

Kena banget deh saya. Sebagai orang yang mengaku penduduk asli KalSel, jujur saya tidak terlalu peduli dengan masalah-masalah yang disebutkan di puisi atas. Kalaupun peduli, paling cuma sekenanya. Alasannya sama seperti yang disebutkan oleh puisi itu, “karena aku bukan”.  Terserah “bukan” apa. Bukan pemerintah yang berwenang, bukan anggota pecinta lingkungan, bukan budayawan dan sebagainya.

Dan diantara  bait-bait puisi ini, yang paling kena adalah bait yang ini:

bila ada sesuatu yang harus dipertahankan
tentang apa saja, segala sesuatu yang sudah ada,
bahkan turun temurun 

biasanya aku tidak akan pernah tahu 
dan memang tidak akan pernah mau tahu 
itu adalah urusanmu; 

Soal adat istiadat, saya jauh lebih bebal lagi. Budaya nenek moyang di daerah kami tidak melekat kuat karena perbedaan keyakinan. Selain itu, kurangnya literatur serta dokumentasi tentang kebudayaan daerah  juga menjadi salah satu penyebab. Dan khusus untuk saya, biasanya kalau ada acara-acara yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebudayaan, saya malas hadir *dikeplak*

Tapi untungnya sekarang sudah ada pengarang daerah yang menulis tentang adat istiadat nenek moyang. Walaupun masih sedikit. Yah, semoga nanti lebih banyak lagi.

So, kesimpulannya, 3 dari 5 bintang untuk buku ini. Terutama untuk puisi di atas yang membuat saya sadar untuk lebih mengenal dan menjaga daerah dan budaya sendiri  (ง’̀⌣’́)ง

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

4 thoughts on “DIMENSI REVIEW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s