Posted in Angie Sage, Books, Fantasy, Matahati

MAGYK REVIEW

magyk

Judul: Magyk | Seri: Septimus Heap #1 | Pengarang: Angie Sage | Penerbit: Matahati | Penerjemah: Febri Elviria | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Ketiga, Februari 2008, 687 halaman | Status: Owned book | Tanggal beli: 15 Februari 2008 | Tempat beli: Gramedia Veteran Banjarmasin | Harga: Rp79.000 | Rating saya: 5 dari 5 bintang

***

Baca ulang Magyk.

Awal kisah Septimus, namun hanya ada sedikit nama Septimus disebut-sebut di sini. Karena putra ketujuh dari Silas dan Sarah Heap ini dinyatakan mati dihari kelahirannya. Sayang sekali. Padahal putra ketujuh dari putra ketujuh selalu ditakdirkan untuk menjadi penyihir hebat.

Dihari yang sama, Silas menemukan bayi perempuan bermata violet. Keberadaan Septimus di keluarga Heap digantikan oleh si bayi perempuan yang diberi nama Jenna.

Sementara itu, perubahan besar terjadi di Kastil. Ratu dan Penyihir LuarBiasa dibunuh.

Marcia Overstrand, murid Penyihir LuarBiasa, menggantikan posisi gurunya dan berusaha menyelematkan satu-satunya pewaris sang Ratu yang baru dilahirkan.

Sepuluh tahun berlalu. Selama itu, pewaris sang Ratu  hidup dengan aman, tanpa tahu sama sekali kalau dia adalah Ratu.

Namun, tepat dihari ulang tahunnya yang kesepuluh, keberadaannya diketahui oleh Wali Utama. Pria jahat yang berkuasa di Kastil selama sang Ratu tidak ada.

Untuk keperluan tuannya, Ratu harus segera disingkirkan. Wali Utama segera memerintahkan untuk membunuh sang Ratu. Wali Utama segera memanggil sang tuan yang merupakan mantan Penyihir LuarBiasa yang berubah menjadi Necromancer jahat, DomDaniel.

Marcia yang selama ini mengetahui dimana Ratu berada segera bertindak untuk  menyelematkan sang Ratu. Ditengah perjalanannya, Marcia menemukan prajurit kecil yang bertugas menjaga (atau memata-matai) Menara Penyihir, hampir mati tertimbun salju. Meskipun sedang tergesa-gesa dan menggerutu, Marcia menyelamatkan si prajurit.

Setelah sadar dari kebekuan yang hampir membunuhnya, si prajurit kecil cemas karena dia tiba-tiba berada bersama Penyihir LuarBiasa, gadis kecil yang dipanggil Ratu, Silas Heap dan salah satu putranya, Nicko, yang juga penyihir. Di Laskar Pemuda, si prajurit sudah dilatih untuk menganggap setiap penyihir sebagai musuh.

Bersama mereka, bocah 412, begitu si prajurit dipanggil di Laskar Pemuda, terpaksa ikut dalam misi penyelamatan sang Ratu. Terbukti keberadaan bocah 412 ternyata banyak membantu dengan kemampuan Magyk-nya yang sama sekali tidak terduga.

Setelah kejar-kejaran yang menegangkan, yang melibatkan banyak Magyk dan persembunyian di Rawa-Rawa Marram, bocah 412 dan kawan-kawan akhirnya berhadapan dengan DomDaniel dan muridnya, yang mengaku bernama Septimus Heap.

***

Mengingat kembali kenapa dulu saya rasa Magyk tidak terlalu seru.

Kemungkinan karena ilustrasi yang bagus tapi seram.

Kemungkinan karena sebelumnya saya baru membaca Harry Potter #7 yang dunia magic-nya tampak begitu sempurna dibandingkan dunia Magyk-nya Septimus Heap yang begitu suram.

Kemungkinan karena saat itu saya sangat berterima kasih sekaligus sebel dengan kakak saya yg membelikan saya buku Magyk saat saya sedang sakit dan dia katanya sama sekali tidak sempat untuk membacanya sampai sekarang (dia membelikan buku ini di awal tahun 2008) dan sama sekali tidak peduli kalau buku ini berseri dan menyerahkan tanggung jawab secara sepihak  untuk membeli lanjutan seri ini kepada saya dan karena selain membelikan Magyk saat itu dia juga membelikan saya Eragorn yang sayangnya juga termasuk ke dalam kategori buku berseri yang tebalnya amit-amit #curcoldalamsatunapas.

Dan kemungkinan yang paling besar adalah karena dulu saya masih merasa asing dengan dunianya. Beda dengan sekarang dimana saya sudah membaca seri-nya sampai ke buku 5 dan sudah familiar dengan suasananya.

Yang pasti, rating saya untuk buku ini naik menjadi 5 dari 5 bintang. Ceritanya seru sekali, meskipun dunia dan ilustrasinya yang suram dan seram masih mengganggu saya sampai sekarang.

Sihir, yang di dalam dunia Septimus disebut dengan Magyk, dilakukan dengan cara yang sangat berbeda dengan yang ada di dunia Harry Potter.

Di sini Magyk dilafalkan seperti puisi. Beberapa Magyk memerlukan sebuah jimat agar bisa bekerja. Magyk ini membuat mata para penyihir yang menggunakannya berubah menjadi hijau.

Dunia Septimus banyak bersinggungan dengan air. Dari laut, sungai sampai ke rawa. Lengkap dengan perahu dan kapal dari berbagai jenis.

Rawa sangat dominan dan memegang peranan penting. Yang mungkin juga menjadi alasan kenapa awalnya saya tidak terlalu suka dengan cerita ini.

Yah, karena tempat tinggal saya dekat dengan rawa, cerita seram mengenai rawa yang punya banyak makhluk mematikan, termasuk diantaranya ular piton rawa, yang memang benar ada, membuat saya ngeri sendiri.

Ngomong-ngomong, meskipun tidak disebutkan, namun suasana dicerita ini membuat saya merasa kalau cerita ini sepertinya terjadi di abad ke-16.

Rasanya sudah lama sekali sejak saya membaca Magyk untuk pertama kalinya. Saya lupa kalau Magyk katanya mau difilmkan. Tapi setelah cari-cari info, sepertinya film ini belum rilis ya?

Buku ini tebal sekali sampai membuat lengan saya pegal. Tapi sampulnya yang keren dan ukuran bukunya yang unik menjadi nilai plus untuk buku ini.

Jadi tidak sabar mau membaca lanjutannya dan masuk lagi ke dunia Septimus yang suram tapi seru.

So, let’s go to Flyte ^_^

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s