Posted in Books, Memoir, Mizania, Non Fiction, Oki Setiana Dewi

CAHAYA DI ATAS CAHAYA REVIEW

cahayadiatascahaya

Judul: Cahaya di Atas Cahaya | Pengarang: Oki Setiana Dewi | Genre:  Memoar | Edisi: Cetakan pertama, Juni 2012 | Penerbit: Mizania | Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Hulu Sungai Utara | Rating saya: 3,5 of 5 stars

***

Catatan perjalanan Oki ke kota Mekah. Ada banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik di buku ini. Saya sampai sering berhenti sejenak untuk menyerapnya. Sering juga berhenti untuk mengkhayal seandainya saya bisa ke sana juga.

Oki juga menjelaskan latar belakang sejarah setiap tempat yang dikunjunginya. Bagus buat menambah pengetahuan dan sekaligus  menambah panjang daftar tempat yang ingin saya kunjungi ^_^

Oki juga menceritakan pengalamannya belajar di Ummul Qura University. Whoaaaa, yang ini keren banget deh. Ssttt… ada cerita unik tentang para wanita yang menimba ilmu di sini lo😀

Oki juga menuliskan kalau ibadah haji dan umrah membutuhkan semua kekuatan tubuh. Semakin muda umur kita, semakin baik dan mudah pelaksanaannya. Maka bagi para muda-mudi, sebelum bermimpi untuk bepergian ke luar negeri, Makkah-lah yang harusnya menjadi prioritas utama.

Hehehe, kena deh saya. Beda sekali dengan Oki yang pergi ke Makkah untuk belajar bahasa Arab dan mendekatkan diri kepada Allah. Prioritas utama saya malah pengen melanjutkan kuliah Computer Science ke Belanda. Haduh, jadi *ngesotminder*.

Oke, kembali ke Cahaya di Atas Cahaya, bagian favorit saya ada di chapter “Bertemu Rasulullah”. Saya sampai ikut menangis dibuatnya. Terutama pas di bagian ini

Aku berlari … berlari … dengan terengah-engah.

Ayo Oki, teruskan…

Para wanita di sekelilingku juga berlari. Mereka saling mendahului dan saling desak karena ingin buru-buru masuk ke Raudhah. Suara kaki yang berlari di lantai, terdengar gaduh, juga suara desahan napas kelelahan, atau tangisan haru.

“Assalamu’alaikum, ya Rasulullah…,” aku mengucapkan salam itu, begitu berhasil memasuki Raudhah.

Ku ucapkan pula salam kepada dua sahabatnya.

Air mata tak terbendung lagi. Aku masih tak percaya bisa berada “sedekat” ini dengan manusia agung pilihan Allah itu. Lagi! Aku tenggelam dalam isak tangisku sendiri. Ada damai, ada perasaan yang entah apa itu. Sulit kujabarkan apakah ini perasaan rindu dan cinta yang begitu menggebu?

Ya Rasul, andai bisa kutatap wajahmu…

Andai bisa kutatap sosokmu…

Anda bisa kuucapkan salam di hadapanmu langsung…

Segala hal yang berkaitan dengan Rasulullah memang selalu membuat terharu dan menimbulkan rasa rindu dan ingin bertemu.

Ada banyak bagian di buku ini yang begitu berkesan dan membekas. IMO, ada juga sih beberapa bagian membuat perasaan membaca ingin di skip saja. 

Tapi buku ini sukses membuat saya pengen pergi ke Mekah, ke Madinah, pengen belajar bahasa Arab dan pengen  menghapal Al-Quran juga.

Apalagi ya? Haduh, saya jadi speechless nih. Memang selalu begitu kalau habis membaca buku yang habis bikin nangis. Padahal banyak sekali yang pengen diceritakan.

Ehm, kesimpulannya, buku ini menginspirasi sekali. 3,5 bintang untuk buku  ini. I really liked it.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s