Posted in L. M. Montgomerry, Non Review

#5BukuDalamHidupku | MY GOLDEN ROAD

TheGoldenRoadJudul: The Golden Road | Pengarang: L. M. Montgomerry | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Cetakan I, 2010 | Jumlah halaman: 352 halaman

“Lama berselang, kita semua pernah menapakkan kaki di sebuah jalan indah keemasan. Jalanan lebar penuh kenangan, bersaput bayang-bayang dan bermandikan sinar mentari; setiap kelokan dan turunan menyajikan pesona segar dan keindahan baru bagi hati yang penuh semangat dan mata yang belum banyak melihat.

Mungkin jalan keemasan itu telah lama kita tinggalkan, akan tetapi kenang-kenangannya adalah yang paling berharga di antara harta milik kita yang abadi; …”

Bagus ya kata-katanya. Paragraf di atas saya ambil dari bagian pembuka buku ini.

Membaca buku ini membuat saya kena book hangover. Buku ini juga membuat saya mengenang masa kecil sampai sebegitunya. Sampai tersenyum bahkan tertawa sendiri😀

Masa kanak-kanak tokoh-tokoh di buku ini yang terjadi di sebuah tempat bernama Carlisle. Di mana mereka melewatkan musim dingin dan musim-musim berikutnya dengan melakukan beragam kegiatan. Membuat majalah yang diberi nama Majalah Kita, memetik apel, membuat pai, berjalan di antara pohon willow dan yang paling penting mendengarkan cerita dari Gadis Pendongeng di segalur tanah berumput hijau di padang rumput landai yang putih oleh bunga-bunga daisy.

Ya masa kanak-kanak saya memang berbeda dengan masa kanak-kanak para tokoh di cerita ini yang terjadi di sebuah tempat bernama Carlisle di Pulau Prince Edward. Alih-alih berjalan di antara pohon willow, saya dan teman-teman masa kecil malah berjalan di sepanjang dataran di pinggir sungai dan berpura-pura kalau itu adalah pantai.

Meskipun demikian masa kanak-kanak selalu memiliki persamaan. Kita berkhayal, kita bermimpi, kita saling bertengkar dan saling memaafkan beberapa detik kemudian. Tahun-tahun yang menanti terasa panjang dan penuh dengan harapan.

Dulu kami berkhayal saat berenang di sungai. Berlomba siapa yang cepat mencapai sisi seberang. Kami pernah sengaja berjalan memutar sepulang sekolah, untuk berbasah-basahan melewati jalan-jalan yang banjir karena luapan air sungai.

Dulu kami pernah dengan senang hati membantu orang yang tinggal di sebelah sekolah untuk panen buah kalangkala (Litsea angulata).  Seru sekali rame-rame memungut buah yang dijatuhkan si empunya dari atas pohon dan menertawakan teman yang kepalanya kejatuhan buah.

Kami pernah duduk di pohon rambutan tetangga sebelah dan saling menceritakan cerita seram. Kami pernah berpetualang di bawah rumah panggung yang di bangun di atas rawa. Memanjat palang-palang di bawah rumah. Saya ingat pernah tidak sengaja mencengkram telur keong emas yang kebetulan menempel di salah satu palang. Hiiiii.

Menurut saya, buku ini menggambarkan masa kanak-kanak dengan sangat indah. Masa kanak-kanak disini bahkan disebut dengan The Golden Road.

Yang membuatnya paling berkesan adalah bagian akhir dari kisah ini. Sebuah analogi yang tepat untuk menggambarkan bahwa–meskipun indah–jalan keemasan ini pasti berlalu. Seiring berlalunya masa kanak-kanak tokoh ini dengan kepergian si Gadis Pendongeng.

Tidak ada ucapan selamat tinggal, seperti diinginkannya. Kami semua tersenyum tabah dan melambaikan tangan ketika kereta mulai bergerak di jalan setapak, menyusuri jalanan yang merah dan basah dan memasuki bayang-bayang hutan cemara di lembah. Tetapi kami masih terus berdiri di sana, sebab kami tahu aka melihat si Gadis Pendongeng sekali lagi. Di balik hutan cemara ada kelokan terbuka di jalan, dan dia sudah berjanji akan melambaikan tangan untuk terakhir kali pada saat kereta melewati kelokan itu.

Kami mengamati kelokan itu dalam diam, kelompok kecil kami berdiri sedih dalam cahaya matahari pagi musim gugur. Hari-hari bahagia pernah menjadi milik ami di masa kanak-kanak yang indah ini. Memikat kami dengan mawar-mawar. Kuncup-kuncup dan puisi siap memenuhi harapan kami. Pikiran-pikiran manis dan ceria telah menyambangi kami. Tawa gembira menjadi teman setia kami dan Harapan tak kenal takut menjadi pembimbing kami. Tetapi kini bayang-bayang perubahan telah menanti.

“Itu dia di sana,” seru Felicity.

Si Gadis Pendongeng berdiri dan melambaikan bunga-bunga krisantemumnya pada kami. Kami balas melambai-lambai penuh semangat sampai kereta itu lenyap di belokan jalan. Kemudian perlahan-lahan kami berjalan ke rumah dalam diam. Si Gadis Pendongeng sudah pergi.

(halaman 349-350)

Indah dan sedih. Saya dulu juga pernah merasakan yang seperti ini. Hampir menangis ketika melihat sepupu-sepupu saya harus kembali ke rumahnya masing-masing di kota besar setelah liburan lebaran yang menyenangkan usai.

Selain mengenang masa kecil, ada satu lagi kesan yang ditinggalkan buku ini bagi saya. Membuat saya berpikir tentang jalan mana yang akan diambil berikutnya setelah jalan keemasan berlalu.

Apakah  jalan untuk berpetualang di tempat baru seperti si Gadis Pendongeng?  Meraih mimpi yang memang tidak bisa diberikan oleh kampung halaman. Atau memilih jalan untuk tetap tinggal di kampung halaman seperti Felicity? Dengan rasa aman dan nyaman dan dikelilingi oleh keluarga yang mencintai kita.

IMO, menurut buku ini, jalan mana pun yang kita ambil, sama-sama berpeluang untuk menjadi jalan emas kita berikutnya. Keduanya sama-sama membutuhkan keberanian untuk mengambilnya dan juga membutuhkan keberanian untuk melepaskan yang satunya.

Anyway, seperti yang dituliskan kata pembuka di atas,  jalan keemasan masa kanak-kanak adalah sebuah kenangan yang berharga.

Di jalan itu kita mendengar lagu bintang-bintang pagi, dan kita hirup keharuman bulan Mei yang semanis kabut; kita menyimpan khayalan sedalam lautan dan harapan setinggi bintang; hati kita mencari dan menemukan berkah mimpi-mimpi; sungguh indah terlihat tahun-tahun yang menanti; kehidupan bagaikan teman seperjalanan berbibir merah, dan bunga-bunga ungu berjatuhan dari jemarinya.

So, ayo mengenang masa kanak-kanak dan rasakan kembali senyum dan tawa saat kita menjadi pengalana di  jalan keemasan yang telah berlalu ^_^

Note: Tulisan ini dibuat untuk event #5BukuDalamHidupku hari keempat. Baca juga, hari ketiga #5BukuDalamHidupku | SIHIR DI TAMAN RAHASIA, hari kedua #5BukuDalamHidupku | SURE LOF, IT’S EDENSOR dan hari pertama #5BukuDalamHidupku | SEBUAH SURAT CINTA KEPADA BUKU

#5BukuDalamHidupku

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s