Posted in Books, Historical Fiction, Sue Monk Kidd, TransMedia

THE SECRET LIFE OF BEES REVIEW

TheSecretLifeofBees

Judul: The Secret Life of Bees | Pengarang: Sue Monk Kidd | Genre:  Historical Fiction | Edisi bahasa : Indonesia | Penerbit: Trans Media | Edisi: Cetakan ketiga, 2008 | Status: Pinjam di Perpustakaan | Rating saya: 3 of 5 stars

***

Lily Owens, seorang gadis berusia 14 tahun, tahu ibunya sudah meninggal. Dia ingat peristiwa ketika ibunya meninggal. Dia ingat ada pertengkaran dan letusan senapan. Tapi dia tidak ingat atau tidak mau mengingat siapa yang memegang senapan.

Lily sekarang harus hidup hanya berdua dengan ayahnya. Tapi Lily tidak mau memanggilnya ayah. Karena menurut Lily, T. Ray  tidak pantas menjadi seorang ayah. Dia pemarah, kejam dan tidak mencintai Lily.

Lily terus merindukan ibunya. Dia tidak sengaja menemukan barang-barang ibunya dan menyimpannya sebagai harta berharga. Ada sepasang sarung tangan dan sebuah foto kecil Maria berkulit hitam. Di belakan foto itu ada tulisan tangan ibunya, “Tiburon, S.C.”

Lily punya pengasuh bernama Rosaleen. Seorang wanita berkulit hitam yang arogan namun baik hati. Suatu hari Rosaleen kena masalah yang membuatnya di penjara. Ya mereka hidup di zaman dimana perbedaan warna kulit menjadi sesuatu yang dipermasalahkan.

Suatu hari T. Ray mengatakan sesuatu yang tidak termaafkan bagi Lily. Lily marah dan nekat membawa kabur Rosaleen. Lily hanya tahu tujuan pelarian mereka adalah Tiburon.

Botol madu di sebuah toko akhirnya membawa mereka ke rumah “Calender Sisters”, si pembuat madu berkulit hitam. Di sana ada August yang bijaksana, June yang pemarah dan May yang rapuh.

Di sana Lily belajar menjadi peternak lebah. Di sana Lily belajar untuk menjadi dewasa. Dan di sana juga Lily akhirnya menemukan “ibu”-nya.

***

“Hal tersulit di dunia adalah memilih mana yang penting”. Itu yang dikatakan August kepada Lily. “Masalahnya yang ada dalam orang-orang adalah mereka tahu mana yang penting, tapi mereka tidak memilihnya”.

Benar sekali. Terkadang mana yang penting terlewatkan dan kita malah memilih hal yang tidak penting yang mungkin nanti akan kita sesali. Pelajaran pertama yang saya dapat di buku ini.

Untuk beberapa saat, kemarahan seperti yang aku rasakan semalam meluap kembali, terlintas di benakku untuk melemparkan kerang laut itu ke bak kamar mandi, tetapi yang kulakukan justru menarik napas. Melemparkan segala sesuatu ternyata tidak melegakanku, aku menyadarinya.

Yaah, saya juga menyadarinya. Jauh sebelumnya. Saat saya masih SMP. Saya marah kepada beberapa teman saya. Hanya karena masalah yang sepele. Kurang lebih seperti Lily, saya juga meluapkannya dengan “melemparkan” segala sesuatu. Melegakankah? Sama sekali tidak. Saya hanya merasa konyol dan bodoh. Menarik napas dan memaafkan jauh lebih efektif. Kekurangannya hanya satu. Melakukannya sulit sekali. Pelajaran kedua yang saya dapat dari buku ini.

Masih banyak lagi sebetulnya. Tentang cinta dan maaf. Tentang rahasia yang ada di dalam kehidupan lebah. Tentang di mana kita bisa menemukan sosok ibu. Disaat kita kehilangannya bahkan disaat kita sudah memilikinya. Ditulis dengan latar belakang di masa di mana warna kulit bisa menimbulkan masalah serius. Cerita yang mengharukan. I liked it. 3 dari 5 bintang untuk buku ini.

***

Note: Tulisan ini untuk ditulis untuk event New Authors RC

New Authors RC by Ren's Little Corner

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s