Posted in Non Review

#5BukuDalamHidupku | SURE LOF, IT’S EDENSOR

Edensor

Judul: Edensor | Pengarang: Andrea Hirata | Penerbit: Bentang | Genre: Travel | Edisi: Cetakan Kedua belas, Maret 2008 | Jumlah halaman: xii + 290 halaman 

Sure lof, it’s Edensor adalah kalimat terakhir di dalam cerita Edensor. Bagi yang sudah pernah membaca bukunya mungkin sudah tahu bagaimana Andrea Hirata membuat kita terpesona dengan gaya ceritanya yang — menurut saya — cerdas dan menggelitik.

Tapi saya tidak akan membahas tentang gaya cerita Edensor di sini. Saya hanya akan menulis salah satu bagian yang sangat berkesan bagi saya. Tentang  Sure lof, it’s Edensor.

Bulan September tahun 2007, saya berada dalam masa penyembuhan pasca operasi. Saya mengalami patah tulang karena kecelakaan lalu lintas tunggal. Selama kurang lebih 8 bulan saya hanya bisa berjalan dengan bantuan tongkat.

Saya jadi terlambat satu tahun untuk kuliah. Sementara teman-teman saya pastinya sudah menikmati masa-masa menjadi mahasiswa baru. Ya tahun itu seharusnya adalah tahun pertama saya untuk kuliah.  Tapi alih-alih cuti kuliah, kecelakaan itu membuat saya keluar dari kampus pertama yang jauh di luar kota. Sayang sekali saya hanya sempat merasakan masa orientasinya saja.

Keluarga, tetangga sampai bapak guru  sampai khawatir.  Takut musibah ini membuat saya drop. Tapi tidak. Saya baik-baik saja. Selama ada buku-buku yang menemani saya, saya baik-baik saja.

Sampai bulan Mei tahun 2008 saya tidak pernah keluar rumah. Saya jadi tampak seperti pemalas. Saya yang memang sudah pendiam jadi semakin pendiam. Saya hampir menghabiskan seluruh waktu dengan membaca buku. Saya begitu tenggelam di dalam sana. Memangnya apa lagi yang akan dilakukan pecinta buku kalau kakinya patah? Yah setidaknya itulah yang ada dipikiran saya😀

Sampai akhirnya saya membaca Edensor. Saya sangat menikmati membaca lembar demi lembarnya. Hingga sampai di bagian di mana Ikal akhirnya menemukan Edensornya. Lucunya, Ikal yang menemukan desa impiannya, tapi malah saya yang bahagia. Rasanya seperti ada perasaan aneh yang mendorong saya untuk bangkit keluar dan ikut melihat Edensor juga.

Dan memang seperti itu. Saya betul-betul bangkit dari tempat tidur. Untuk pertama kalinya setelah 8 bulan saya keluar rumah. Tapi alih-alih menemukan pohon willow seperti yang ada di Edensor, saya malah melihat pohon rambutan yang ada di halaman rumah saya. Saat itu saya merasa malu sekali. Orang-orang memandang saya berdiri dengan memakai tongkat sambil melongo di depan rumah.

Tapi itulah momen yang membangkitkan semangat saya untuk sembuh dan mulai belajar berjalan lagi. Asyiknya, saya belajar berjalan berbarengan dengan keponakan balita saya yang juga sedang belajar jalan. Sampai saat ini ibunya masih sering tertawa kalau mengenang bagaimana kami belajar jalan bersama.

Sekarang saya bisa berjalan normal. Saya bahkan ikut karate beberapa bulan setelahnya untuk meyakinkan diri sendiri bahwa saya sudah benar-benar sembuh.

Rasanya konyol sekali kalau mengingat bagaimana dulu saya mengira tidak bisa berjalan normal lagi. Bangkit dan berjalan tanpa tongkat rasanya takut sekali. Dan yang aneh adalah kalau saya mengingat kata Sure lof, it’s Edensor, saya jadi teringat deskripsi Ikal mengenai Edensor dan tiba-tiba saya jadi ingin bisa berjalan lagi untuk melihat dunia luar dan menemukan Edensor saya sendiri.

Dan ini dia bagian paling favorit saya di Edensor. Bagian dimana Ikal akhirnya menemukan Edensornya. I love it.

Bus merayap, aku makin dekat dengan desa yang dipagari tumpukan batu bulat berwarna hitam. Aku bergetar menyaksikan nun di bawah sana, rumah-rumah penduduk berselang-seling di antara jerejak anggur yang telantar dan jalan setapak yang berkelok-kelok. Aku terpana dilanda dѐjá vu melihat hamparan desa yang menawan. Aku merasa kenal dengan gerbang desa berukir ayam jantan itu, dengan pohon-pohon willow di pekarangan itu, dengan bangku-bangku batu itu, dengan jajaran bunga daffodil dan astuaria di pagar peternakan itu. Aku seakan menembus lorong waktu dan terlempar ke sebuah negeri khayalan yang telah lama hidup dalam kalbuku.

Aku bergegas meminta sopir dan menghambur keluar. Ribuan fragmen ingatan akan keindahan tempat ini selama belasan tahun, tiba-tiba tersintesa persis di depan mataku, indah tak terperi.

Kepada seorang ibu yang lewat aku bertanya, “Ibu, dapatkah memberi tahuku nama tempat ini?”

Ia menatapku lembut, lalu menjawab.

Sure lof, it’s Edensor ….”

Note: Tulisan ini dibuat untuk event #5BukuDalamHidupku hari kedua. Baca juga hari pertama #5BukuDalamHidupku | SEBUAH SURAT CINTA KEPADA BUKU

#5BukuDalamHidupku

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

2 thoughts on “#5BukuDalamHidupku | SURE LOF, IT’S EDENSOR

  1. proyek yg keren, dan tulisan mbak Ira juga kereen😀 aku pengen ikutan tapi eheemm..sepertinya gak akan bisa ngejar deadline deh, jadi cukup menyimak dan menikmati tulisan dari peserta2 BBI aja deh hahaha. Ditunggu 3 tulisan berikutnya mbak, semoga sukseees😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s