Posted in Books, Children, Fahrurraji Asmuni, GPM Amuntai, M. Hasbi Salim, Nailiya Noor Azizah, Short Stories

NYANYIAN KERBAU RAWA REVIEW

nyanyian_kerbau_rawa

Title: Antologi Cerpen Anak: Nyanyian Kerbau Rawa | Author: Edwin Yulisar, Hairun Nisa, Mahfuzh Amin, M. Hasbi Salim, Nurul Huda, Syarifah Ulfah, Arief Rahman Heriansyah, Fahruraji Asmuni, Gusti Indra Setyawan, Haderi Ideris, Nailiya Noor Azizah, Makmun, A. Zainudin, Eddy Yusuf, Leni Rahmida, Rahmah, Tsabita Addiena Azhari | Publisher: Grup Persahabatan Menulis Amuntai | Genre: Short Stories | Status: Owned book | Price: Rp30.000,- | Purchase location: Toko Sumber Amuntai | Date purchased: 20 August 2013 | My rating: 3 of 5 stars

***

1. Nyanyian Kerbau Rawa by Edwin Yulisar

Rian si penggembala kerbau rawa sedang sakit. Tugas menggembala kerbau unik yang suka berenang ini sementara diambil alih oleh pamannya. Tapi, kerbau-kerbau itu tidak mau menurut. Mereka berpencar kesana-kemari. Mereka hanya patuh pada Rian.

Wah, Rian memang hebat. Para kerbau rawa ini hanya mau digembala olehnya. Sssstt, sebenarnya Rian punya rahasia. Rahasianya adalah nyanyian kerbau rawa. Seperti apa ya nyanyian kerbau rawa ala Rian?

2. Boneka Barbie Luna by Hairun Nisa

Luna gemar memainkan boneka Barbie. Setiap ada kesempatan, Luna selalu membeli boneka Barbie. Koleksi boneka Barbie-nya sudah sangat banyak. Mama dan Papa bingung bagaimana caranya agar Luna tidak terus-teruan membeli boneka Barbie.

Untunglah di toko mainan, Luna melihat sebuah pelajaran berharga. Apa sih yang dilihat oleh Luna sampai-sampai dia akhirnya rela menyumbangkan boneka Barbie kesayangannya?

3. Permen by Mahfuzh Amin

Amin suka makan permen. Tapi Amin makan permennya sudah berlebihan. Ibu bilang kalau kebanyakan makan permen bisa sakit gigi. Amin bilang tidak apa-apa banyak makan permen asalkan rajin sikat gigi. Buktinya, Amin belum pernah sakit gigi meskipun banyak makan permen karena dia rajin sakit gigi.

Tapi, setelah pulang dari rumah sepupunya, Amin sakit gigi. Nah lo, kenapa pula gigi Amin jadi sakit? Bukankah dia rajin sikat gigi? Atau jangan-jangan???

4. Gaya Korea by M. Hasbi Salim

Rambut Haikal sudah cukup panjang. Sekarang Haikal sering berdiri di depan cermin. Menata-nata rambutnya ala penyanyi Korea.

Mama meminta papa mengajak Haikal ke salon. Rambut Haikal sudah gondrong kata mama. Pulang dari salon Haikal kesal karena rambutnya sudah di potong pendek.

Namun, setelah menonton pertandingan bola antara MU dan Barcelona, Haikal sadar bahwa rambut pendeknya cocok untuknya. Wah, ada apa dengan pertandingan bola ini ya?

5. Sang Pelukis Cilik by Nurul Huda

Rina tidak suka belajar. Rina juga tidak suka bermain. Rina hanya suka menggambar. Kalau pergi ke sekolah Rina selalu menggambar.

Rina jadi tidak pandai membaca dan menulis. Rina. Tapi, kegemarannya menggambar akhirnya membawanya meraih prestasi. Rina juga punya sesuatu yang bisa dibanggakan.

6. Dikejar Dinosaurus by Syarifah Ulfah

Hasil ulangan matematika Aldo tidak memuaskan. Meskipun kecewa, toh sepulang sekolah, Aldo tetap memilih bermain bola dengan teman-temannya. Mereka bermain sampai langit mulai menguning tanda senja sudah tiba.

Pulang ke rumah Aldo kecapekan dan langsung istirahat. Belum lama berbaring, Aldo merasa rumahnya bergetar. Whooaa, ternyata ada dinosaurus di luar rumah. Dinosaurus ini aneh. Dia bisa menyemburkan api. Bukan itu saja, dinosaurus ini juga mulai memakan orang-orang. Haduh, gawat nih.

7. Penantian Kembang Laras by Arief Rahman Heriansyah

Laras sudah bertekad menemukan bapaknya. Bapak Laras sudah lama tidak pulang ke rumah. Orang bilang bapaknya Laras sekarang jadi pencuri. Namun, ibu dan Laras tidak percaya.

Sampai akhirnya Laras melihat seorang pencuri yang dikeroyok warga. Sepertinya Laras kenal pencuri itu. Betulkah dia bapaknya Laras? Kalau iya, bagaimana Laras dan ibu harus menerima kenyataan itu? Karena mereka selama ini percaya kalau bapak bukan pencuri.

8. Terima Kasih Mama by Fahruraji Asmuni

Hari ini Dina ulang tahun. Sepulang sekolah, Dina menemukan kado ulang tahun cantik di kamarnya. Sayang tidak ada nama pengirimnya. Siapa yang memberikan kado untuk Dina ya? Yang pasti bukan Yaya temannya. Bukan pula dari Reza.

Dina mengamati tulisan ucapan ultah di kado itu. Hmm, tulisan ini seperti tulisan mama tiri Dina. Ah, tidak mungkin mama tiri yang pemarah itu memberikan kado untuk Dina. Jadi, siapa ya?

9. Senyum Terakhir dari Mama by Gusti Indra Setiawan

Ica sangat menyayangi mama. Ica berusaha menjadi anak yang rajin dan pintar demi mama. Mama sudah bersusah payah untuk membiayai kehidupan mereka berdua. Mama selalu tersenyum untuk Ica. Hanya mama yang Ica punya.

Namun, seperti papa, mama juga pergi meninggalkan Ica sendiri. Ica berjanji untuk selalu mengingat pesan dan senyum mama. Hingga akhirnya, Ica berhasil mewujudkan impian mama.

10. Kado untuk Mama by Haderi Ideris

Nabella tidak sengaja menemukan gubuk tua di ujung jalan setapak di belakang rumahnya. Di sana dia menemukan seorang nenek tua. Nenek itu minum dengan tempurung kepala.

Nabella kira semua orang tua memang minum dengan tempurung kelapa. Nabella pun memberikan hadiah itu untuk mama-nya. Biar nanti kalau mama sudah tua, mama punya termpurung kelapa sendiri.

Tidak disangka hadiah itu akhirnya menguak sebuah rahasia. Rahasia tentang seorang anak yang durhaka terhadap orang tuanya.

11. Aku dan Harapanku by Nailiya Noor Azizah

Ya, aku memang ingin memiliki adik. Tapi bukan adik menyebalkan seperti Ibnu. Kalau begini, aku berharap aku tidak punya adik.

Aku tidak menyangka harapan ku terkabul. Ibnu hilang. Akhirnya aku tidak punya adik. Tapi betulkah ini yang kuharapkan. Aku sekarang sadar bahwa aku sangat menyanyangi Ibnu. Ibnu, dimana kamu sekarang?

12. Teman Berbagi Telur by Makmun

Makmun dan Ahmad belajar memasak. Mereka memasak nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan telur mata sapi. Masalah terjadi ketika mereka ingin membagi rata telur mata sapi yang setengah matang itu. Bagaimana ya cara membaginya supaya adil? Untunglah kakaknya Makmun datang dan menemukan cara untuk menyelesaikan masalah mereka.

13. Misteri Rumah Kosong by A. Zainudin

Rumah itu seharusnya kosong. Tapi ketika Andra dan Hengki iseng menelepon ke sana, tiba-tiba ada yang menjawab telepon.

Bukan hanya itu, Amin pun menceritakan bahwa ayahnya pernah melihat cahaya di dalam rumah tersebut. Wah, tampaknya ada misteri yang harus dipecahkan nih.

14. Kado Rahasia by Eddy Yusuf

Hari ini aku ulang tahun. Royan dan Upik sahabatku memberikan kejutan kado ulang tahun saat pulang sekolah.

Firman juga punya kado. Tapi katanya kado itu kado titipan dari seseorang. Orang tersebut berpesan agar kado tersebut jangan diberikan dulu sampai seminggu setelah hari ulang tahunku.

Haduh, penasaran deh. Siapa sih yang lagi main kado rahasia denganku?

15. Sumur Kutukan by Leni Rahmida

Kata orang sumur itu ada kutukannya. Kami para anak-anak dilarang main ke sana. Tapi yang ada, kami malah makin penasaran.

Melanggar perintah orang tua, kami nekat pergi ke sumur itu. Hingga akhirnya salah satu dari kami hampir celaka. Dan kami pun akhirnya tahu, kutukan apa yang ada di sumur itu.

16. Marwan, Sang Detektif Dadakan by Rahmah

Mirza akhir-akhir aneh. Dia awalnya tidak suka berteman. Tapi sekarang, setiap hari dia pergi bermain ke rumah kawan-kawannya. Kadang-kadang bermainnya lama sekali.

Marwan dan teman-temannya jadi curiga. Akhirnya Marwan pun didaulat jadi detektif dadakan untuk menyelidiki Mirza.

17. Misteri Kehidupan Reyhana by Tsabita Addiena Azhari

Balqis heran melihat Reyhana yang begitu tegar dan pendiam. Padahal dia sering dibentak-bentak oleh Gea, si Miss Cerewet.

Balqis sampai pusing memikirkan sikap Reyhana. Hingga akhirnya, lewat sebuah surat, Reyhana menceritakan segalanya kepada Balqis. Namun saat itu semuanya sudah terlambat. Reyhana telah pergi.

***My Thougts***

Yap, itulah sinopsis dari ketujuh belas cerpen yang ada di antologi ini. Cerpen favorit saya adalah Aku dan Harapanku by Nailiya Noor Azizah. Ceritanya seperti punya nyawa. Sampai ikut terharu dibuatnya.

Cerpen ke-dua terfavorit adalah Nyanyian Kerbau Rawa by Edwin Yulisar. Lebih favorit ke ide ceritanya sih. Tema lokalnya kena. Menceritakan tentang penggembalaan kerbau rawa, fauna unik dari Kalimantan Selatan, lengkap dengan penggalan lagu-lagu daerahnya.

Saya anak daerah, tapi cuma sekali pernah melihat kerbau rawa waktu mata kuliah Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah. Kami mengadakan trip ke daerah Nagara.

Kerbaunya unyu banget waktu berenang di rawa. Yang kelihatan cuma kepalanya doang. Yang bikin gemes sih mukanya itu lo gaya sok imut. Gaya menengadah sombong, seakan-akan pamer sama kami-kami yang melongo-longo kagum karena berada di tengah rawa yang luasnya minta ampun sambil dikelilingi kerbau rawa yang asyik berenang. Saya sempat memfoto si kerbau. Silakan klik di sini untuk melihatnya.

Nah, yang penasaran sama cerita si kerbau rawa unyu, strong recommended  baca kumpulan cerpen ini ya *promosi* ^_^

***About The Authors***

Saya baru tahu tentang Grup Persahabatan Menulis Amuntai dari buku ini. Dari ketujubelas pengarang daerah tersebut, saya hanya kenal 4 orang diantaranya, yang mungkin tidak kenal dengan saya ^_^.

Yang pertama adalah Fahruraji Asmuni, author cerita Terima Kasih Mama. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia saya waktu SMA. Waktu SMA, bahkan mungkin sampai sekarang, kemampuan Bahasa Indonesia saya parah sekali. Yang paling memalukan adalah ketika tugas mengarang cerpen. Waktu itu saya habis membaca buku horor The Ring by Kozi Suzuki. Saking seremnya itu cerita jadi terngiang-ngiang terus. Sampai akhirnya saya bikin cerpen tentang anak SMA yang jatuh ke sumur di samping kelas. Haduh, ceritanya konyol sekali. Jadi malu kalau ketemu Bapak nya *hening*. You can see more information about him at http://fahrurraji.wordpress.com/ or his Facebook at Raji Leonada

Yang ke-2 adalah M. Hasbi Salim author cerita Gaya Korea . Beliau adalah guru bahasa Inggris saya waktu kelas XII SMA. Sama seperti ilmu non MIPA lain, saya juga parah dalam Bahasa Inggris. Satu-satunya prestasi saya adalah ketika dapat tugas menulis surat ke kedutaan asing pakai Bahasa Inggris. Waktu itu saya menulis ke kedutaan Austria dan Belanda. Saya menjadi orang pertama di kelas yang suratnya dibalas. Dengan bangga saya menunjukkan paket balasan tersebut di depan kelas. Hanya itu, sisanya…., *silent*. You can see more information about him at http://hasbisalim.wordpress.com/ or contact his email at hasbi.salim@yahoo.co.id

Yang ke-3 adalah kak Nailiya Noor Azizah. Ketemunya waktu follow up anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Kalimantan Selatan di Banjarmasin. Ka Nailiya adalah ketua FLP Kalimantan Selatan. Waktu itu saya terdaftar sebagai anggota FLP Banjarbaru sebagai anggota yang paling tidak aktif dan paling pendek masa keanggotannya. Usut punya usut ternyata kak Nailiya ini adalah teman sekelas kakak saya waktu SMA. You can contact her email at nailiyanoor.azizah@yahoo.co.id

Yang terakhir adalah Kak Rahmah, author cerita Marwan, Sang Detektif Dadakan. Waktu saya ke perpustakaan daerah di kota Amuntai, saya sengaja memakai baju FLP kota Banjarbaru. Niatnya mau kenalan sama anggota FLP Amuntai. Kali saja ada anggota FLP Amuntai yang berkunjung ke perpustakaan. Eh, betul ada. Bukan anggotanya lagi, tapi ketuanya langsung, hehehe.

Kak Rahmah inilah ketua FLP kota Amuntai. Kak Rahmah sama seperti saya, suka berburu dan menimbun buku #eh. Karena Kak Rahmah, saya sering dapat info tentang bazar buku di daerah Kalimantan Selatan. Pernah kami pergi sama-sama ke Mizan Book Fair di kota Amuntai. Setelah berkeliling-keliling sebentar, masing-masing membawa satu tumpuk besar buku ke kasir. Lucunya, kami sama-sama bawa ransel ke sana. Seakan-akan sudah punya rencana mau bawa buku sebanyak itu. Hohoho. You can see more information about her at http://dunialiterasirahmah.wordpress.com/

***So…***

Eh, kok reviewnya jadi ajang curcol ya? Hehehe. Oh ya, ngomong-ngomong tentang kumpulan cerpen,  sebenarnya it’s not really my cup of tea. Tapi kalau temanya tentang anak-anak dan daerah, saya jadi suka. So, 3 dari 5 bintang untuk kumpulan cerpen ini. I liked it ♪(´ε` )

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s