Posted in Adventure, Books, Gramedia Pustaka Utama, Yann Martel

LIFE OF PI REVIEW

life_of_pi

Title: Life of Pi: Kisah Pi |  Author: Yann Martel | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: 6th edition, December 2012 | Page: 448 pages | Status: Owned book | Purchase location: Gramedia Duta Mall Banjarmasin | Date purchased: 24 August 2013 | Price: Rp63.500,- | My rating: 4 of 5 stars

***

Pada tanggal 21 Juni 1977, kapal barang Tsimtsum berlayar dari Madras menuju Canada. Pada tanggal 2 Juli, kapal itu tenggelam di Samudera Pasifik. Hanya satu sekoci berhasil di…

Saya pertama kali membaca penggalan sinopsis di atas adalah di post giveaway-nya blog  Melihat Kembali. Waktu itu buku ini merupakan salah satu hadiah dari giveaway tersebut.

Awalnya, saya sama sekali tidak tertarik dengan buku ini. Tidak tertarik dengan covernya. Tidak tertarik  dengan sinopsisnya. Tidak tertarik pula untuk membaca reviewnya.

Lambat laun, saya sering melihat teman-teman banyak yang me-review buku ini. Yang saya lihat dari review mereka hanya judul dan sampulnya saja.

Lama-kelamaan cover buku ini sepertinya menempel di kepala saya.  Entah kenapa, saat pergi ke toko buku, buku ini langsung saya comot.

Syukurlah ternyata ceritanya bagus. Memang ceritanya tentang korban kapal tenggelam — yang merupakan alasan saya untuk tidak tertarik dengan buku ini — tapi kisah yang disampaikannya sangat unik. Ini adalah kisah korban kapal tenggelam yang menghabiskan waktu di sekoci dengan seekor harimau bengal.

Tidak tangung-tanggung, Pi terombang-ambing di dalam sekoci selama 227 hari. Selama itu, dia harus berjuang hidup di tengah segala keterbatasan. Selama itu pula hanya si harimau yang setia menemani (mengancam hidupnya) nya sampai akhir.

Di tengah lautan Pasifik, Pi menyaksikan fenomena-fenomena  mengagumkan yang mungkin tidak akan ditemui kalau kita tidak terjebak di dalam sekoci di tengah lautan bersama seekor harimau bengal.

Di kelilingi hiu, bertemu rombongan ikan paus, badai ganas, halilintar yang menghujam lautan, pulau ganggang misterius dan pertemuan singkatnya dengan seorang korban kapal karam lainnya di tengah luasnya samudera Pasifik. Singkatnya, fenomena-fenomena itu semakin meyakinkan Pi tentang keberadaan Tuhan.

Berhasilkah Pi menginjakkan kakinya ke daratan kembali? Ataukah dia harus bertahan hidup di tengah lautan, selamanya, sampai mati?

***

Salah satu buku yang hampir tidak bisa ditutup. Disampaikan dari sudut pandang pertama, melalui sudut pandang Pi. Kesannya seperti membaca buku harian Pi. Namun, ada beberapa bab yang diceritakan dari sudut pandang si penulis yang  menuliskan kisah Pi.

Gaya penceritaannya meninggalkan kesan yang kuat. Sampai-sampai langsung ingin menulis diary untuk mengabadikan momen itu. Ketika self talk, saya menemukan diri saya bicara seperti Pi bicara dengan Richard Parker.

Kalau begitu, apa gunanya punya akal Richard Parker? Apakah sekedar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sehari-hari — mencari makanan, pakaian, dan atap untuk berteduh? Kenapa akal tak bisa memberikan jawaban-jawaban yang lebih kompleks? Kenapa kita bisa menanyakan hal yang tak ada jawabannya? Buat apa punya jala begitu besar kalau sedikit sekali ikan yang bisa ditangkap?”

Kepala Richard Parker hanya sedikit berada di atas air. Dia menengadah, menatap langit untuk terakhir kali. Ada satu pelampung di dalam sekoci, terikat tali. Kusambar pelampung itu dan kulambaikan di udara.

“Kaulihat pelampung ini, Richard Parker? Kaulihat? Tangkaplah!  HUMPF! Akan kucoba lagi. HUMPF!”

Keluarga Pi memiliki sebuah kebun binatang. Jadi ceritanya mengandung banyak pengetahuan tentang binatang. Termasuk bagaimana menjinakkan seekor harimau.

Sebagian besar cerita mempunyai setting di sekoci di tengah lautan. Menceritakan tentang bagaimana Pi bertahan di tengah lautan bersama si harimau. Di tengah minimnya persediaan makanan dan air tawar. Dengan ancaman mematikan dari Lautan Pasifik.

Kisah Pi mengajarkan untuk tidak menyerah sampai titik darah penghabisan. Meskipun harapan datang dan pergi meninggalkan kebahagiaan dan kekecewaan. Dan satu-satunya tempat untuk berpaling hanyalah kepada Tuhan.

Langit membutuhkan bumi dan bumi membutuhkan langit. Seandainya kau mengalami situasi tanpa harapan seperti yang kualami, kau pun akan berusaha melambungkan pikiranmu.

Semakin kau jatuh dalam penderitaan, semakin tinggi pikiranmu ingin lepas. Wajarlah kalau dalam keadaan tanpa harapan dan putus ada, dalam terjangan penderitaan yang tak ada habisnya, aku jadi berpaling kepada Tuhan.

Si penulis, Yann Martel,  sepertinya ingin menyampaikan sebuah cerita yang dapat membuat kita percaya kepada Tuhan. Saya rasa dia berhasil. Hanya saja saya tidak setuju dengan caranya yang membuat tokoh “Pi” memeluk semua agama yang dikenalnya sekaligus. But, up to him-lah, setidaknya “Pi” percaya kepada Tuhan.

Satu lagi yang menjadi catatan saya adalah ketika Pi menemukan pulau ganggang misterius dan menguak rahasia di sebuah pohon di sana:

Bola itu mengecil dari seukuran jeruk menjadi seukuran jeruk mandarin. Pangkuanku dan cabang-cabang di bawahku penuh oleh kupasan daun yang tipis dan halus.

Sekarang bola itu tinggal seukuran rambutan.

Aku masih juga merinding kalau teringat peristiwa ini.

Seukuran buah ceri.

Lalu tampak olehku apa yang ada di bagian tengahnya, seperti mutiara di jantung tiram hijau.

Sebuah gigi manusia.

Jujur saja, saya berharap ada penjelasan supranatural dibalik fenomena ini. Semacam keajaiban khas cerita fantasi. Namun keajaiban yang ada hanyalah tentang keberadaan pulau ganggang itu sendiri — yang saya rasa —  kemungkinan bisa dijelaskan secara ilmiah, seperti bagaimana Pi menemukan penjelasan kenapa sampai ada gigi manusia di pulau tak berpenghuni yang mengambang di tengah lautan tersebut.

Jadi selamat menikmati ksiah Pi yang mengandung banyak pelajaran dan keajaiban. Selain itu ada selipan humornya juga,  dan karena si harimau bengal lumayan imut, saya kasih 4 dari 5 bintang. I really liked it.

Note: This is review for event New Authors Reading Challenge 2013

15db6-button-copy-3

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s