Posted in Bagin, Balai Pustaka, Books, Classic, War

DERAP KAKI DENDAM HATI REVIEW

Derap Kaki Dendam HatiTitle: Derap Kaki Dendam Hati |  Author: Bagin | Edition language: Indonesian | Publisher: Balai Pustaka | Edition: 4th edition, 2002 | First Published: 1980 | Page: 159 pages | Status: Pinjem dari perpus | My rating: 2 of 5 stars

***

Sebuah cerita tentang seorang pemuda berusia 16 tahun yang bernama Setiawan dalam melawan penjajah pasca kemerdekaan di tengah agresi militer Belanda tahun 1949. Setiawan duduk di kelas tiga IMS (Indonesische Middlebare School) Rantau Parapat, yang termasuk daerah Negara Sumatera Timur (NST). Ayahnya, Agus Sudarman, adalah seorang kepala penjara yang bekerja untuk kerajaan Belanda. Meskipun begitu, keluarga Agus Sudarman semuanya republikein yang setia kepada Republik.

Sebagai anak kepala penjara, Setiawan bebas keluar masuk lingkungan penjara. Hal ini dimanfaatkan pasukan gerilya TNI yang tinggal di gunung untuk tetap berkomunikasi dengan sesama pejuang yang telah tertangkap. Sudah beberapa kali Setiawan mengantarkan surat rahasia dari tempat gerilya ke penjara dan sebaliknya.

Suatu hari Direktur IMS, meneer Bidin, mengumumkan bahwa walinegara NST akan berkunjung ke IMS. Seluruh murid IMS diharuskan mengelu-elukan walinegara tersebut.  Setiawan dan teman-temannya sepakat untuk memboikot acara itu. Dia dan teman-temannya tidak hadir ke sekolah pada hari tersebut.

Meneer Bidin yang pro-Belanda sangat marah. Dia berusaha mencari siapa dalang dibalik pemboikotan itu. Akhirnya ketahuan bahwa Setiawan lah pencetus ide tersebut. Setiawan pun ditangkap dan dikurung di kantor Nefis

Kabar Setiawan yang tertangkap sampai ke pasukan gerilya lewat Zen, teman sekolah Setiawan. Untunglah saat itu pasukan gerilya memang berencana membobol penjara dan membebaskan para pejuang. Mereka pun sepakat untuk meluaskan aksi mereka dengan membobol kantor Nefis dan membebaskan Setiawan.

Peristiwa pembobolan penjara dan kantor Nefis sangat membuat marah kapten Maas, komandan batalyon Rantau Parapat. Dia yakin ada pengkhianat di dalam lingkungan penjara sendiri. Dia mencurigai Agus Sudarman.

Rumah Agus Sudarman digeledah. Di tengah penggeladahan, Agus Sudarman melawan tentara Belanda dan akhirnya dia tertembak. Setiawan yang baru pulang setelah dibebaskan oleh pasukan gerilya sangat terpukul ketika melihat ayahnya sudah tidak bernyawa. Kebenciannya kepada Belanda pun bertambah besar.

Setiawan memutuskan untuk bergabung dengan pasukan gerilya di gunung. Namun, Marzuki, salah satu gerilyawan menolak. Dia mengatakan kalau selama ini mereka sudah menganggap Setiawan adalah bagian dari pasukan gerilya. Mereka harus selalu membutuhkan informasi dari kota dan Setiawan lah yang sudah berjasa membantu mereka selama ini. Marzuki membujuk Setiawan agar tetap menjalankan tugasnya sebagai gerilyawan kota.

Bersama teman-temannya, Setiawan pun menjalankan aksinya untuk melawan penjajah Belanda berdasarkan instruksi dari gerilyawan gunung. Tugas utama mereka adalah membuat kepanikan terhadap serdadu Belanda di kota.

Mereka menempel plakat-plakat di seluruh kota yang menyampaikan semangat Republik. Mereka juga bertugas merampas senjata dari markas-markas Belanda yang sudah dilumpuhkan oleh pasukan gerilyawan.

Puncaknya adalah ketika Setiawan dan kawan-kawan menembak kendaraan militer Belanda untuk menimbulkan goncangan di pihak lawan. Di tengah baku tembak, salah satu kawan Setiawan yang bernama Pardi tewas.

Setelah satu tahun bergabung dengan gerilyawan, pada tahun 1950, pasca Konfrensi Meja Bundar, keadaan berubah. Dengan alasan rasionalisasi, kapten Manap, pemimpin pasukan gerilya, meminta dengan berat hati agar para pemuda itu melanjutkan sekolahnya.

Setiawan pun kembali ke sekolahnya yang sekarang namanya sudah berubah menjadi SMP Negeri. Panggilan Meneer Bidin berubah menjadi Bapak Bidin sebagai pegawai tinggi di Perwakilan PDK Sumatera Utara. Betapa kagetnya Setiawan melihat orang yang selama ini jelas-jelas mendukung Belanda sekarang tampil sebagai pegawai tinggi Republik Indonesia dan memberi nasihat kepada para murid supaya mereka belajar dengan tekun.

Kembalinya Setiawan ke sekolah di manfaaatkan oleh  Bapak Bidin untuk menjelek-jelekan pelajar mantan tentara itu dengan mengatakan bahwa ilmu adalah segalanya. Pelajar harus memusatkan pikiran terhadap pelajaran. Jangan ikut-ikutan dengan pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Tidak ada lagi yang menyebut Setiawan adalah seorang pahlawan. Ditambah lagi tidak ada seorang pun temannya sesama pejuang yang kembali ke sekolah tersebut. Setiawan merasa sendirian.

Namun, ketika membaca sebuah berita di koran yang berjudul “Rakyat tuntut NST bubar”, Setiawan tahu kalau dia masih punya teman seperjuangan yang tidak setuju dengan negara federal ciptaan van Mook. Setiawan pun berjanji bahwa dia tidak akan menyerah walaupu sekarang kalah.

***

Derap Kaki Dendam Hati meceritakan tentang seorang remaja yang memimpikan kemerdekaan yang mutlak. Bergabung dengan pasukan gerilya untuk melawan penjajah. Dipicu oleh dendamnya terhadap penjajah Belanda yang telah membunuh ayahnya.

Yang paling saya rasa dari novel ini adalah sifat dari para tokoh-tokohnya yang tampaknya sangat peka dalam membaca bahasa tubuh lawan bicaranya. Selain itu, saya juga merasa kalau tokoh-tokohnya mudah sekali diyakinkan. Mungkin karena kemampuan mereka yang bisa membaca bahasa tubuh dengan baik.

Terbayang wajah sayu kapten yang sudah menjadi agak tua itu, yang menunjukkan suatu pertarungan batin, ketika ia menyampaikan saran itu dengan gerak bibir yang bergetar kaku, disertai air yang berkaca-kaca di pelupuk matanya. Mengertilah Setiawan, betapa beratnya hari orang tua itu melepaskan anak buahnya yang telah bergaul dalam berbagai penderitaan selama bertahun-tahun, hingga bagi dia sendiri yang baru mencapai setahun masa pengabdian di lingkungan TNI mengambil sikap secara ikhlas untuk juga meninggalkan pasukan, sesuai dengan saran komandannya.

Derap Kaki Dendam Hati merupakan sebuah novel yang ditulis oleh Bagin, yang lahir pada tahun 1927 di Binjai, Sumatera Utara. Ia banyak menulis di majalah dan juga aktif sebagai wartawan di Medan. Ia pernah bergabung sebagai barisan Bersenjata Republik Waktu itu. Novel ini ditulis sebagai pengungkapan partisipasi kaum remaja pada periode revolusi fisik yang sangat berkesan baginya.

At last, saya suka dengan semangat perjuangan para remaja. Saya juga suka ketika para remaja ini diberi kesempatan untuk berjuang bersama TNI. Tapi saya kurang suka dengan sifat Setiawan yang mudah sekali diyakinkan. Dia kan pahlawannya di sini, keras kepala sedikit tidak apa-apa kok (⌒˛⌒). Saya juga kurang suka dengan ending nya yang seakan-akan mengatakan kalau perjuangan para remaja ini salah dan kalah tanpa alasan jelas So, 2 dari 5 bintang untuk buku ini. It was ok.

Note: Review ini untuk even Baca Bareng BBI Agustus 2013 untuk tema “Perang”.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

2 thoughts on “DERAP KAKI DENDAM HATI REVIEW

  1. trima kasih sudah mnceritakannya kembali..
    ini novel pertama yg saya baca, waktu itu saya masih SD, era 90an..
    mungkin sudah puluhan kali saya mmbacanya

    tiba2 saya teringat kata2, “tiada perjuangan tanpa pengorbanan” yg mnjadi moto hidup saya prtama kali, berasal dari novel ini..
    tiba2 rindu kisahnya, coba gugling, dan nyasarlah saya disini😀

    thanks a lot..🙂
    you may reply me via email fari.fairis[at]gmail.com

    Like

    1. Wah, keren❤

      Itu lah hebatnya sebuah buku ya, bisa memberi kita moto hidup yang bisa membuat kita tambah semangat🙂

      Sama-sama. Terima kasih sudah berkunjung kemari ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s