Posted in Balai Pustaka, Books, Classic, Soetomo Djauhar Arifin

ANDANG TERUNA REVIEW

andang_terunaTitle: Andang Teruna |  Author: Soetomo Djauhar Arifin | Edition language: Indonesian | Publisher: Balai Pustaka | Edition: 3rd edition, 2000 | Firs Published: 1934 | Page: 218 pages | Status: Pinjem dari perpus | My rating: 3 of 5 stars

***

Sebuah cerita tentang kisah cinta seorang pemuda bernama Gunadi. Gunadi adalah anak pribumi. Ayahnya sudah meninggal saat dia berusia sembilan bulan. Ibunya kemudian menikah dengan seorang Belanda bernama Tuan van der Heyden.

Ketika Tuan van der Heyden ingin pulang ke Belanda, beliau bermaksud membawa Gunadi ikut serta. Namun ibu Gunadi menolak. Tuan van der Heyden pun meninggalkan sejumlah uang untuk kedua ibu anak itu.

Dengan uang pemberian ayah tirinya, Gunadi bisa bersekolah hingga tamat sekolah menengah. Saat itulah dia berkenalan dengan keluarga Hartasanjaya di Semarang.

Keluarga Hartasanjaya sangat baik hati. Keluarga Hartasanjaya hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Hartini. Mereka sangat ingin mempunyai anak laki-laki. Mereka pun menganggap Gunadi sebagai anak mereka sendiri. Hartini dan Gunadi pun sangat dekat bagaikan kakak beradik.

Kisah cinta Gunadi dimulai ketika dia bertunangan dengan teman sekolahnya, Sri Suasih. Namun malangnya, Sri Suasih memutuskan pertunangan itu melalui sebuah surat. Surat itu mengabarkan bahwa atas kehendak orang tuanya, dirinya disuruh menikah dengan seorang dokter.

Gunadi pun patah hati. Namun, patah hatinya tidak berlangsung lama. Hartini selalu dapat menghibur hati Gunadi.

Tidak lama kemudian, ibu Gunadi yang tinggal di Madiun menyuruh anaknya pulang. Ada kenalan ibunya yang menawari Gunadi pekerjaan. Dalam perjalanan pulang, Gunadi berkenalan dengan teman Hartini yang bernama Endah Suwarni. Kebetulan orang tua Endah Suwarni juga tinggal di Madiun. Benih cinta pun tumbuh diantara mereka.

Gunadi meminta pendapat Hartini tentang hubungannya dengan Endah Suwarni. Demi kebahagiaan Gunadi, Hartini mendukung hubungan mereka. Setelah mendengar pendapat Hartini, Gunadi semakin yakin bahwa Endah Suwarni adalah jodoh yang tepat untuknya.

Namun lagi-lagi Gunadi harus merasakan sakitnya patah hati. Pertunangannya dengan Endah Suwarni kembali putus. Lagi-lagi gara-gara orang ketiga. Kali ini disebabkan oleh tetangga Endah Suwarni yang sekaligus teman sekolah Gunadi sendiri. Hartini dan keluarganya pun menyusul ke Madiun untuk menghibur Gunadi.

Melihat keadaan anaknya yang sudah dua kali putus cinta, ibu Gunadi jatuh sakit. Diakhir hayatnya, ibu Gunadi menceritakan sebuah kisah. Kisah tentang Palgunadi dan Dewi Anggraini.

Sebenarnya ayah Gunadi mengambil nama anaknya dari nama Palgunadi. Palgunadi diciptakan bersama-sama dengan Dewi Anggraini. Bersama-sama dengan Dewi Anggraini pula dia akhrinya harus kembali ke asalnya. Kalau tidak begitu, tidak sah dan tidak sempurna namanya. Sebagaimana cinta Palgunadi dan Dewi Anggraini, begitulah cinta yang sebenarnya.

Kalau Gunadi adalah Palgunadi, maka Gunadi harus menemukan Dewi Anggraininya. Kalau Gunadi tidak dapat menemukannya, maka Gunadi harus menanyakan siapa Anggraini kepada Hartini.

“Sampaikan salamku pada tuanmu, pada ayah ibumu, Tuan dan Nyonya Hartasanjaya. Tanyakan pada Hartini, siapa Anggraini…!”

***

Cerita yang manis. Meskipun akhir kisahnya sudah bisa ditebak dan semua konflik tampaknya bisa selesaikan dengan cara yang terlalu mudah, tapi jalan ceritanya tetap penuh dengan kejutan.

Andang artinya suluh atau obor. Sedangkan teruna artinya pemuda. Kisah Andang Teruna mengandung pesan orang tua kepada anaknya agar berhati-hati dalam memilih jodoh. Jangan keliru menafsirkan rasa cinta. Mana yang hanya nafsu belaka dan mana yang merupakan cinta sebenarnya.

Andang Teruna merupakan sebuah novel yang ditulis oleh Soetomo Djauhar Arifin (1916 – 1959). Ia aktif di berbagai majalah dan juga aktif sebagai pejuang kemerdekaan. Ia sering memasuki berbagai penjara karena kegiatan politiknya yang anti Hindia-Belanda. Novel ini ditulis saat ia berada di dalam penjara di Surabaya.

At last, seperti novel-novel lawas Indonesia lainnya, saya suka dengan gaya bahasa nya yang tempo dulu banget. Bergaya pujangga tapi somehow bagi saya tidak terasa hiperbola. So, 3 dari 5 bintang untuk Andang Teruna. I liked it.

Note: Review ini untuk even Baca Bareng BBI Agustus 2013 untuk tema Sastra Indonesia dan untuk even New Authors RC 2013

New Authors RC 2013

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

4 thoughts on “ANDANG TERUNA REVIEW

    1. Aku dulunya malah mengira bukunya BP memang ga ada lagi di toko buku saking ga pernah liatnya. Jadinya agak kaget juga pas baru2 ini liat beberapa novel terbitan BP ada di toko buku (‘▽’ʃƪ) ♥

      Sama, bahkan dulu di perpustakaan sekolah yg didominasi buku klasik pun ga pernah liat buku ini. Ketemunya pas ‘melototin’ rak buku di perpustakaan daerah buat nyari buku klasik Indonesia yg belum pernah ku baca ^_^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s