Posted in Books, Classic, Orhan Pamuk, Serambi

THE WHITE CASTLE REVIEW

The White Castle by Orhan PamukTitle: The White Castle | Author: Orhan Pamuk | Edition language: Indonesian | Publisher: Serambi | Edition: 1st edition, April 2007 | Page: 297 pages | My rating: 3 of 5 stars

***

KEMIRIPAN ANTARA diriku dan lelaki yang baru masuk ke dalam ruangan itu luar biasa! Akulah yang sedang berdiri di sana … pada pandangan pertama, itulah hal yang melintas di kepalaku. Seakan-akan seseorang sedang mempermainkanku dan membawaku untuk kedua kalinya melewati sebuah pintu yang berlawanan dengan pintu yang kumasuki sebelumnya, dan mengatakan, lihatlah, kamu seharusnya tampak seperti ini, kamu seharusnya melangkah melewati pintu seperti ini.

Kisah seorang Italia yang tertangkap oleh bangsa Turki di tengah pelayarannya dari Venesia ke Napoli. Karena kepintarannya dalam menyembuhkan penyakit, dia dianggap sebagai dokter dan mendapat perlakuan istimewa.

Karena kepintarannya pula, Pasha, penguasa setempat, mengeluarkannya dari penjara dan memberikannya kepada Hoja, cendekiawan yang dihormati oleh Pasha. Hoja berencana mempelajari segala pengetahuan yang dimiliki oleh budaknya.

Anehnya, wajah budak Italia dan Hoja sangat mirip. Mereka juga memiliki ketertarikan yang sama terhadap buku-buku dan ilmu pengetahuan. Lambat laun, bukan hanya wajah mereka yang mirip. Namun, segala tingkah laku dan pemikiran mereka juga sama.

Awalnya mereka berusaha mencari tahu siapa diri mereka. Melihat ke dalam diri mereka masing-masing. Diantaranya adalah dengan cara menulis kisah masa kecil dan dosa-dosa yang telah mereka lakukan.

Mereka duduk berhadapan di sebuah meja dan menuliskan kisah mereka masing-masing. Si budak tampaknya sangat menikmati proses pengenalan diri ini. Dia bisa melihat bagaimana Hoja tampak tertekan atas pengungkapan kehidupan dan dosa-dosanya. Si budak awalnya ingin menggunakan cara ini untuk membalas Hoja yang telah menjadikannya budak. Syukur-syukur kalau dia bisa menggunakan cara ini untuk bebas.

Namun alih-alih saling mengenali diri sendiri dan berusaha membuktikan kalau mereka berbeda, mereka malah semakin satu. Kemiripan ini berhasil ditangkap oleh Sultan. Sultan memberitahu mereka bahwa mereka tampak makin sama setiap hari.

Puncaknya adalah ketika Sultan berusaha menaklukkan Istana Putih. Hoja dan budaknya membuat senjata hebat yang dapat membantu Sultan meraih kemenangan. Namun, rawa-rawa yang di sekitar Istana Putih membuat senjata tersebut tidak berkutik.

Kegagalan itu membuat Hoja dan si budak dijadikan kambing hitam. Terlebih kepada si budak. Nyawanya terancam karena dia kafir.

Namun, hubungan Hoja dan sang budak bukan lagi sebagai tuan dan budaknya. Mereka satu. Mereka berdua saling menyelamatkan. Dengan cara bertukar kehidupan.

***

Yap itulah sinopsis yang berhasil saya tangkap setelah membaca buku ini. Gaya bahasanya membuat bingung. Diceritakan dari sudut pandang si budak sebagai “aku”.

Saking bingungnya, sepanjang cerita saya tidak ngeh kalau si budak ternyata orang Italia. Saya kira dia orang Spanyol. Rupanya saya salah mengira Venesia (Italia) sebagai Valencia (Spanyol). *LOL*

Meskipun membingungkan, namun seperti buku klasik lain, ceritanya sangat memikat.

Satu yang berhasil saya tangkap dari cerita ini adalah bagaimana sulitnya mengakui dosa-dosa diri sendiri. Jauh lebih mudah melihat dan mengejek dosa-dosa yang dilakukan oleh orang lain. Dan salah satu cara agar kita bisa melihat dosa kita adalah dengan menjadi orang lain.

Oleh karena itu, semakin banyak kita dapat melihat ke dalam diri kita, semakin banyak dosa yang kita akui, maka kita akan semakin menjadi orang lain.

Setidaknya itulah yang saya tangkap dari adegan berikut:

Tetapi kita harus mencari berbagai hal aneh dan mengejutkan di dunia ini, bukan yang ada di dalam diri kita sendiri! Jika kita hanya mencari ke dalam diri sendiri, menghabiskan waktu lama dan bekerja keras memikirkan diri sendiri kita tidak akan pernah bahagia. Inilah yang terjadi pada berbagai tokoh dalam ceritaku: karena inilah para pahlawan tidak pernah puas menjadi dirinya sendiri, karena inilah mereka selalu ingin menjadi orang lain. Marilah kita berandai-andai bahwa ceritaku itu memang nyata. Apakah aku yakin bahwa kedua lelaki yang saling menjalani kehidupan kembarannya itu bisa hidup bahagia dalam kehidupan barunya? Aku terdiam. Lalu, entah karena alasan apa, dia mengingatkanku tentang satu hal dalam ceritaku: kami tidak boleh membiarkan diri kami dibuai dengan harapan seorang budak Spanyol bertangan satu! Bila kami membiarkannya, maka sedikit demi sedikit, dengan menulikan berbagai dongeng tersebut, dengan mencari-cari keanehan dalam diri kami, maka kami akan menjadi orang lain, dan amit-amit, para pembaca cerita ini pun akan mengalami hal yang sama. Dia bahkan tidak mau memikirkan tentang betapa mengerikannya dunia ini bila orang selalu membicarakan dirinya sendiri, membicarakan keunikan dirinya sendiri, bila semua buku dan cerita mereka selalu menceritakan hal ini. Tetapi, aku ingin begitu! 

Terasa tidak bingungnya? Saya sudah membaca adegan ini berkali-kali tapi tetap saja bingung. Kira-kira benar tidak ya apa yang saya tangkap di atas (┌’,’┐) 

At last,  3 dari 5 bintang untuk The White Castle. Membingungkan tapi somehow membuat saya terpikat. I liked it.

Note: Review ini diikutkan untuk even New Authors RC 2013

New Authors RC 2013

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

2 thoughts on “THE WHITE CASTLE REVIEW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s