Posted in Non Review

SCENE ON THREE #5, TELL ME YOUR DREAMS BY SIDNEY SHELDON

Wanita itu berkata penuh terima kasih, “Sayang, kalau aku punya anak perempuan, aku ingin sekali punya anak seperti kau.”

Alette meremas tangannya. “Itu pujian yang luar biasa. Terima kasih.” Dan hati kecilnya berkata, Kalau kau punya anak perempuan, ia akan bertampang jelek persis kau. Dan Alette ngeri sendiri punya pikiran seperti itu. Seakan ada orang lain dalam dirinya yang mengucapkan kata-kata itu. Hal semacam itu sering terjadi.

Ia sedang berbelanja dengan Betty Hardy, sesama anggota gerejanya. Mereka berhenti di depan toko serba ada. Betty mengagumi gaun yang terpajang di etalase.  “Bagus, ya?” 

“Cantik,” kata Alette. Itu gaun paling buruk yang pernah kulihat. Cocok untukmu.

Suatu malam, Alette makan malam dengan Ronald, pengurus gerejanya. Aku benar-benar senang bersamamu, Alette. Bagaimana kalau kita lebih sering lagi keluar bersama?”

Alette tersenyum malu-malu. “Baiklah.” Dan ia berpikir, Non faccia, lo stupido–sudah jelek, bego lagi. Mungkin dikehidupan lain, bangsat. Dan lagi-lagi ia kaget sendiri. Kenapa sih aku ini? Dan ia tak punya jawaban.

Kalau ada yang meremehkannya sedikit saja, disengaja atau tidak, Alette akan marah besar. Suatu hari waktu ia bermobil ke kantor, ada mobil yang memotong jalannya. Ia menggertakkan gigi dan berpikir, Ku bunuh kau, bangsat. Pria pengemudi mobil itu melambai penuh permohonan maaf dan Alette tersenyum manis. Tapi hatinya masih membara.

Scene  ini saya ambil dari buku yang beberapa waktu lalu selesai saya baca. Tell Me Your Dreams by Sidney Sheldon.

Lain di hati lain di mulut. Meskipun tidak se-ekstrem pikiran Alette, kadang saya juga sering mengalami ini. Khususnya kalau ada yang memarahi saya di depan umum. Apalagi kalau yang membentak itu orang tidak dikenal. Ditambah apa yang orang itu permasalahkan bukan sepenuhnya kesalahan saya. Hedeh, tampang sih berusaha sabar, tapi —  meminjam istilah Sidney Sheldon — hati tetap membara.

Pada saat momen ‘hati membara’ ini, seberapa keras pun berusaha untuk sabar, tetap saja berbagai sumpah serapah terhadap orang itu bermunculan di kepala saya. Kalaupun berusaha menerima kesalahan atau mencari segi positif dari kejadian itu, yang ada saya malah sakit kepala. Rasanya seperti ada malaikat dan iblis yang bertengkar di telinga kanan dan kiri.

Lucunya, seiring berjalannya waktu, masalah itu akan terlupakan. Rasanya konyol sekali kalau mengingat saya pernah ga bisa tidur semalaman gara-gara memikirkan berbagai skenario untuk balas dendam. Toh, kalau saya tidak salah, orang itu ga bakalan membentak saya kan.

Tapi, disisi lain, kalau orang itu bisa mengatakan ‘sesuatu dengan indah’, momen “hati membara” itu seharusnya tidak akan terjadi. Meskipun akhirnya “hati itu bisa mendingin”, namun momen tersebut sangat tidak enak. Baik bagi yang menyebabkan ataupun bagi yang menderita.

Soalnya selama momen tersebut, orang itu tidak tahu kalau saking sakit hatinya, saya sampai pengen menangis. Sebaliknya, orang itu tidak tahu seberapa banyak sumpah serapah yang saya lontarkan kepada dia. Bagaimana kalau terkabul, gawat kan? (¯―¯٥)

By the way, sebenarnya kejadian ini jelas bisa berbalik. Mungkin saja saya yang berada di posisi yang membuat orang lain sakit hati.  Mungkin saja orang yang saya bikin sakit hati itu seperti Alette, tersenyum di luar namun ‘ku bunuh kau’ di dalam *haduh, ekstrem banget sih kata-katanya*.

Ya Tuhan, semoga saja tidak pernah seperti itu. Tapi saya tetap pengen mengucapkan mohon maaf lahir dan batin kalau ada perbuatan, perkataan, tulisan, review, comment, status, tweet, message dan sebagainya yang mungkin membuat sakit hati. I’m soo sorry (╥﹏╥)

Saya juga pengen minta maaf sama orang-orang yang pernah saya kasih sumpah serapah. Total ada 3 kejadian yang membuat saya pernah merasakan momen ‘hati membara’ yang sangat ekstrem. Dilihat dari  tiga momen itu yang masih keinget sampai sekarang. Parahnya, kejadiannya sudah cukup lama dan orang-orang tersebut tidak saya kenal dan tidak mengenal saya. Semoga permintaan maaf saya bisa tersampaikan. I’m very sorry (╥﹏╥)

Scene on Three hosted by Bacaan Bzee

Halah, malah jadi curhat ya ╮(^▽^)╭ .

So, that is my chosen scene today. What’s yours?  Click the picture above to see more information about this meme \(^▿^)/

See you again and have a nice ’23’ for you  ♪(´ε` )

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

8 thoughts on “SCENE ON THREE #5, TELL ME YOUR DREAMS BY SIDNEY SHELDON

  1. Penggambaran Sheldon keren soal “lain di mulut, lain di hati”😀
    Iya, saya juga sering seperti itu. Dan, mesem-mesem sendiri melihat Sheldon menangkapnya dengan apik jadi scene yang menarik.
    Jadi kepikiran untuk beli buku ini deh🙂

    Like

  2. Kayaknya manusiawi deh kalo kita pernah mengalami moment “lain di hati lain di mulut” sebab kayaknya cuma pada nabi dan malaikat yang bisa selalu bersabar. Tapi yah paling nggak kita bisa menahan diri untuk tidak balas menggunakan kata-kata yang buruk ke orang lain. Nah ini mungkin bisa juga disebut pengendalian diri.

    Ah, bagaimana pun intinya sangat sulit tidak menaruh sakit hati pada orang-orang yang bersikap buruk pada kita. Tidak semudah yang dikatakan para motivator, ulama dan psikolog (^_^)v

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s