Posted in Non Review

SCENE ON THREE #3

Salim tersenyum. Ia mengeluarkan roti dari kantung perbekalan. Dicampurnya madu pada bejana air untuk menambah kekuatan, lalu menyodorkan keduanya kepada Baruji. Pemuda itu menatap ragu ke arah roti di tangan Salim.

“Buatmu sendiri?”

Salim menggeleng.

“Tinggal itu satu-satunya. Nantilah aku makan jika kita sudah bertemu desa.”

Baruji tercenung.

Roti itu untukmu saja,” ujar Baruji.

“Tidak lebih baik untukmu.”

“Untukmu, Salim.”

“Untukmu!”

“Ya Tuhan, Salim… kenapa kau ini?”

“Kau saja yang makan. Aku tak terlalu lapar.”

“Kau berkata seorang muslim tak boleh berbohong,” cecar Baruji. “Kudengar waktu shalat tadi perutmu berkeriuk.”

Salim tertawa.

“Aku tadi lapar, tapi sekarang sudah lewat. Tidak Baruji, makan saja roti itu. Kau butuhkan untuk menjaga ketahanan tubuh. Aku sudah terbiasa berlapar-lapar kalau sedang dalam pengembaraan.”

Baruji menggeleng keras kepala. Salim mendengus kesal.

“Baik,” akhirnya Salim mengiyakan. “Kumakan roti ini karena itu kemauanmu. Kau pemimpinku, pemimpin kami semua, jadi kami menuruti perintahmu.”

Baruji tercengang. Ia merebut roti yang telah berada di mulut terbuka Salim dengan segera. Tergesa digigit lalu dikunyahnya, tak percaya Salim terus mendesaknya seperti ini. Salim hanya tersenyum geli mengamati Baruji yang seolah menolak sama sekali anggapan bahwa ia adalah seorang pemimpin.

Scene yang lumayan panjang ini saya ambil dari buku The Lost Prince by Sinta Yudisia. Buku yang sudah terbit lumayan lama dan merupakan buku lanjutan dari novel Sebuah Janji.

Scene ini saya pilih karena lucu juga membayangkan Salim, seorang putra Syekh terkenal, yang kalem dan serius dan Baruji, yang aslinya adalah pangeran pertama dari imperium Mongolia, yang angkuh dan kasar — tiba-tiba ‘lempar-lemparan roti’ ^_^

Luar biasa kalau si Salim ini berhasil memperdaya putera mahkota Mongolia yang dulunya pasti tidak terima diperlakukan seperti itu. Untungnya Baruji sekarang cukup baik hati untuk merelakan roti itu untuk Salim, namun cepat-cepat mengambilnya lagi hanya karena tidak mau disebut pemimpin.

Menurut Salim, kerendahan hati yang dimiliki oleh Baruji yang sekarang inilah, yang menandakan bahwa dia sudah siap menjadi pemimpin. Apalagi setelah peristiwa berdarah yang terjadi di istana  yang mengakibatkan pangeran pertama harus melarikan diri dan terpaksa menjadi rakyat jelata di Madrasah pimpinan Salim.

Scene on Three hosted by Bacaan Bzee

So, this is my chosen scene today. What’s yours?  Click the picture above to see more information about this meme \(^▿^)/

See you again and have a nice ’30’ for you ♪(´ε` )

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

6 thoughts on “SCENE ON THREE #3

    1. Yap, ini buku sebelum The Road to The Empire.

      Iya suka ^_^
      Tapi buku Sinta Yudisia yg pernah kubaca cuma seri ‘Pangeran Takudar’ ini aja sih, hehehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s