Posted in Balai Pustaka, Books, Classic, Indonesian Literature, Marah Rusli

SITTI NURBAYA REVIEW

Sitti Nurbaya by Marah Rusli

Title: Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) | Author:  Marah Rusli | Edition language: Indonesian | Publisher: Balai Pustaka | Edition: 47th, Jakarta 2009 | Status: Owned book | Price: Rp72.000,- | Date purchased: February, 8th 2012 | Purchase location: Toko Buku Salemba Banjarbaru

***

— cerita Sitti Nurbaya dan Samsulbahri—

Sitti Nurbaya dan Samsulbahri sudah bersahabat sejak kecil. Mereka sudah seperti saudara. Kemana-mana selalu bersama. Rumah mereka pun berdekatan.

Ketika beranjak dewasa, persahabatan mereka mulai berubah menjadi cinta. Setiap orang yang kenal dengan mereka pastilah sudah menduga demikian. Mereka berdua sangat cocok.

Sitti Nurbaya yang cantik merupakan putri semata mayang dari Baginda Sulaiman, salah satu saudagar kaya di Padang. Sedangkan Samsulbahri adalah anak salah satu bangsawan dan penghulu kota Padang, Sultan Mahmud.

Sayangnya, Datuk Maringgih, seorang saudagar kaya tua yang berhati jahat,  iri dengan kekayaan ayah Nurbaya, maka Datuk mulai menghancurkan usaha Baginda Sulaiman hingga tidak bersisa.

Baginda Sulaiman yang baik hati sama sekali tidak mengira kalau musnahnya usahanya adalah akibat perbuatan Datuk Maringgih. Baginda Sulaiman pun berhutang dengan Datuk Maringgih untuk mengembalikan usahanya.

Seperti yang sudah diatur, Baginda Sulaiman tidak mampu membayar hutang kepada Datuk. Baginda Sulaiman harus menyerahkan Nurbaya kepada Datuk atau dia sendiri harus dipenjara.

Baginda Sulaiman lebih memilih masuk penjara daripada melihat Nurbaya menikah dengan Datuk Maringgih. Namun, Nurbaya tidak tega melihat ayahnya masuk penjara. Dia pun setuju untuk menikah dengan Datuk. Samsulbahri yang pada saat itu sedang bersekolah di Pulau Jawa tidak bisa berbuat apa-apa.

Ketika Baginda Sulaiman wafat, Nurbaya mengusir Datuk Maringgih dari rumah ayahnya. Datuk Maringgih yang dendam berusaha menghalangi Sitti Nurbaya untuk menemui Samsulbahri di Pulau Jawa. Datuk Maringgih bahkan berusaha membunuh Sitti Nurbaya.

Berhasilkah Sitti Nurbaya bersatu dengan Samsulbahri? Dan apa yang dilakukan Datuk Maringgih  untuk mencegah usaha Nurbaya untuk menemui Samsulbahri?

—bukan jaman Sitti Nurbaya—

setiap kali mendengar kalimat itu, saya pikir Sitti Nurbaya memang dipaksa kawin oleh orang tuanya. Tapi ternyata tidak. Sitti Nurbaya hanya terpaksa kawin untuk menyelamatkan ayahnya.

Cerita Sitti Nurbaya bukan hanya merupakan cerita tentang kasihnya yang tak sampai dengan Samsulbahri. Bukan hanya cerita tentang pertentangan adat istiadat setempat. Tetapi juga cerita tentang emansipasi perempuan.  Betapa nasib perempuan pada jaman itu yang dianggap kurang daripada laki-laki. Seperti yang dikatakan Nurbaya pada sepupunya, Alimah:

Pada persangkaan mereka, mereka lebih dari kita, tentang kekuatan dan akal mereka. Betul kita lemah daripada laki-laki dan barangkali juga tiada sepandai laki-laki. Akan tetapi, kelemahan tubuh kita dan kekurangan akal kita itu, bukanlah sebab kelihatan kita yang kurang atau otak kita yang tiada sempurna; hanya karena tubuh kita, sangat berlainan dengan laki-laki. Ingatlah. Kita ini bangsa ibu, karena anak itu kita yang mengandungnya, melahirkannya, menyusukannya, memeliharanya dan membesarkannya

Dan betapa perempuan pada jaman itu tidak memiliki hak yang sama dengan laki-laki:

Demikian pula tentang sifat-sifat perempuan itu, bukan ia yang memintanya. Adalah patut laki-laki menghinakan dia, sebab kita beroleh sifat-sifat ini? Pada pikiranku, tentang kemauan dan akal itu, bila kita perempuan diberi pelajaran, pemeliharaan, makanan, pendeknya sekaliannya sama benar-benar dengan laki-laki, tentulah kita tak akan kalah dari laki-laki.

Ngomong-ngomong saya baru tahu kalau apa yang terjadi pada Samsulbahri dan Datuk Maringgih di akhir cerita termasuk “penokohan lemah” oleh banyak ahli sastra. Saya kira apa yang terjadi dengan mereka hanya karena mereka…eh…’manusiawi’ *plak*

At least, banyak pelajaran lain yang bisa diambil dari novel Sitti Nurbaya. 5 dari 5 bintang saya rasa. Untuk kisah cinta indah namun tragis antara Nurbaya dan Samsulbahri dan akhir kisah yang menguras air mata. It was amazing.

PS: Review ini di post untuk baca bareng BBI  bulan april untuk buku bertemakan perempuan

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s