Posted in Author, Books, Fantasy, Genre, Gramedia Pustaka Utama, J. K. Rowling, Publisher

HARRY POTTER AND THE GOBLET OF FIRE REVIEW

Harry Potter and The Goblet of Fire

Title: Harry Potter and The Goblet of Fire – Harry Potter dan Piala Api | Author: J. K. Rowling | Genre: Fantasy – Magic | Edition language: Indonesian | Pages: 882 pages | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: 7th edition, November 2001 | Status: Owned book | Purchase location : Gramedia Veteran Banjarmasin | My rating: 5 of 5 stars

— tahun ke empat Harry di Hogwarts —

Harry terbangun menjelang fajar di rumah keluarga Dursley. Bekas lukanya sakit. Kali terakhir bekas lukanya sakit adalah karena Voldemort berada di dekatnya. Apakah sekarang Voldemort sedang bersembunyi di Privet Drive?

Paginya, ada surat dari keluarga Weasley yang mengundang Harry untuk menonton Piala Dunia Quidditch. Kemeriahan Piala Dunia serta pikiran untuk menghabiskan sisa dua minggu liburan bersama keluarga Weasley alih-alih dengan keluarga Dursley, menggusur pikiran cemas tentang bekas luka dari kepala Harry.

Namun, kemeriahan Piala Dunia terganggu oleh munculnya Tanda Kegelapan, tanda yang menandakan bangkitnya Lord Voldemort.

Kejutan belum berakhir. Saat pesta tahun ajaran baru, Dumbledore mengumumkan bahwa Hogwarts akan menjadi tuan rumah Turnamen Triwizard – sebuah kompetisi persahabatan antar 3 sekolah sihir terbesar di Eropa – Hogwarts, Beauxbatons dan Durmstrang. Turnamen yang sudah lebih dari seratus tahun tidak diadakan karena angka kematiannya yang tinggi.

Untuk memastikan para juara tidak dalam bahaya maut,  diadakan batasan umur. Hanya murid yang berusia 17 tahun ke atas yang diperbolehkan untuk mengikuti turnamen. Namun, saat 3 perwakilan masing-masing sekolah sudah diumumkan oleh Piala Api, sang Piala kembali menyala dan ‘memuntahkan’ nama Harry Potter.

Harry yang terpaksa ikut bertanding harus menahan cemooh dari segala pihak. Harry dianggap kena penyakit ‘ingin selalu populer’ sehingga nekat ingin ikut Turnamen walaupun dia belum cukup umur. Harry dianggap merebut kejayaan perwakilan Hogwarts yang asli — Cedric Diggory — yang berasal dari Hufflepuff.

Gangguan juga muncul dari reporter menyebalkan bernama Rita Skeeter yang tampaknya sangat berhasrat untuk membuat hidup setiap target wawancaranya menderita. Rita sukses membuat Harry, Hagrid dan Hermione tampak buruk dimata komunitas sihir. Namun, bukan Hermione namanya kalau tidak bisa membalas Rita.

Tidak salah kalau tidak ada yang lebih diinginkan Harry selain turnamen itu segera berakhir. Namun saat di penghujung tugas turnamen, nyaris beberapa saat sebelum turnamen selesai, Harry diculik oleh Lord Voldemort.

Mengapa dan bagaimana cara Voldemort menculik Harry yang selama ini dilindungi dengan sangat ketat oleh Dumbledore? Berhasilkah Harry selamat — untuk yang ketiga kalinya — saat harus berduel dengan Voldemort,  yang kali ini bukan saja lebih kuat, tapi juga dikelilingi oleh para abdi setianya — para Pelahap Maut?

My fresh thoughts after reread this book —


“Kau dibutakan,” kata Dumbledore, suaranya meninggi sekarang, aura kekuasaan jelas mengitarinya, matanya sekali lagi menyala-nyala, “oleh kecintaan terhadap kedudukanmu, Cornelius! Selama ini kau menilai terlalu tinggi apa yang disebut kemurnian darah! Kau gagal mengenali bahwa yang penting bukanlah sebagai apa orang dilahirkan, melainkan menjadi apa dia!…”

Terlepas dari imajinasi JKR yang luar biasa. Dan novel yang ditulis dengan gaya yang sangat bagus. Yang ceritanya tidak bakalan terlupakan. Yang menurut saya tidak perlu dibahas lagi *pokoknya it was amazing deh. Titik. *.

Jadi, saya gantian membahas tentang pelajaran apa yang saya dapat setelah membaca buku keempat ini. Dan pelajarannya adalah “dibutakan”. Yap,  banyak yang dibutakan  di buku ini.

Pertama ada Cornelius Fudge. Cornelius  Fudge dibutakan oleh kedudukannya sebagai menteri sihir. Dia menolak munculnya gangguan di dunianya yang nyaman. Mengabaikan fakta-fakta yang tidak bisa diterima oleh akalnya sendiri. Dan hidup dalam kepura-puraan.

Fudge terlalu tinggi menilai dirinya sendiri. Menganggap orang atau makhluk yang tidak dilahirkan sebagai darah murni lebih rendah dari dirinya. Padahal seperti kata Dumbledore, yang penting bukanlah sebagai apa orang dilahirkan, melainkan menjadi apa dia. Nah, kode nih untuk rasisme.

Selain Fudge, Rita Sketer juga dibutakan. Skeeter dibutakan oleh profesinya sebagai wartawan yang katanya sangat ingin “memenuhi kebutuhan pembaca”. Namun, yang ditulis oleh Skeeter bukanlah fakta, tapi fakta “kelebihan bumbu” yang ditulis otomatis oleh Pena Bulu Kutip-Kilat nya yang sangat kreatif itu.

Kemudian juga ada Ron. Untuk sesaat, Ron dibutakan oleh persaingan. Di rumah, Ron harus bersaing dengan kakak-kakaknya. Di sekolah, Ron harus bersaing dengan sahabat karibnya sendiri.  Menyebalkan memang. Ron jadi berantem dengan Harry yang lagi-lagi populer gara-gara ikut turnamen bergengsi.

Jadi Ron tidak b*doh-bod*h amatlah seperti Fudge dan Sketeer. Ron cuma … err … manusiawi. #jiaah sudah giliran Ron dimaafkan #lo dibutain juga tuh.

Dan yang terakhir dan yang paling b*d*h menurut saya adalah para Pelahap Maut. Kalau saya jadi mereka, saya tidak akan mengangkat Voldemort jadi “Lord”. Alasannya simpel. Voldemort bukan darah murni.

Kalau memang kemurnian darah sangat berarti,  seharusnya mereka tidak mengangkat seseorang yang berdarah campuran sebagai pemimpin. Toh bagaimanapun juga, di dalam darah Voldemort kan mengalir  “darah lumpur”. Lumpur murni lagi. Maksudnya papahnya Voldemort kan muggle tulen tuh. Tidak ada sihirnya sama sekali. Bahkan setelah dikorek-korek lebih dalam *apa coba* ternyata papahnya ini pembenci penyihir kan. Nah, lo masa anak orang yang seperti itu diangkat jadi pemimpin buat para penyihir darah murni.  Mikir dong mikir *dikeroyok pelahap maut*.

Ah, pelahap maut, kalian tidak sadar sudah melakukan seperti yang dikatakan Dumbledore. Kalian menilai seseorang berdasarkan jadi apa mereka, bukan sebagai apa orang tersebut dilahirkan. Hanya sudut pandang aja yang berbeda.

Nah, bagaimana dengan kita *kita??? lo aja kali gw nggak*. Baiklah, bagaimana dengan saya? Setelah membaca cerita ini. Terutama dibagian kekeraskepalaan Fudge. Saya jadi bertanya-tanya apakah saya juga orang yang gampang “dibutakan” seperti itu? Kalo iya, haduh amit-amit, menyebalkan sekali ya.

Jadi resolusi setelah ini adalah berusaha melatih “mata” untuk bisa melihat kebenaran dibalik selubung.  Caranya??? Ntar deh dipikirin *plaak*.

PS: Reread Harry Potter and The Goblet of Fire untuk event Hotter Potter

Hotter Potter

dan event Fantasy RC 2013

Fantasy RC 2013

PS: Buku ini tebal banget. Petualangan bersama Harry jadi lebih lama. So, galau banget pas ceritanya harus selesai. Ga rela buat nutup bukunya *halah lebay*.

PS: Cerita akhirnya suram. Bangkitnya Voldemort. Apa yang terjadi dengan Cedric. Rasanya saya makin jadi sentimen. Dulu kayaknya saya ga nangis deh pas Cedric kena kutukan ‘AK’. Tapi sekarang jadi nangis. Padahal kan kita tahu kalau Cedric akhirnya diselamatkan oleh dr. Cullen dan hidup happily ever after bersama Bella dan Renesme #salah cerita.

PS: Kesimpulan: 5 dari 5 bintang pastinya. It was amazing.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s