Posted in Author, Books, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, J. K. Rowling, Publisher

HARRY POTTER AND THE SORCERER’S STONE REVIEW

harry potter and the sorcerer's stoneTitle: Harry Potter and The Sorcerer’s Stone: Harry Potter dan Batu Bertuah

Author: J.K. Rowling

Genre: Fantasy – Magic

Edition language: Indonesian

Publisher: Gramedia Pustaka Utama

4th Edition:  Jakarta, November 2000

Date Purchased: March, 15th 2001

Purchase location: Gramedia Veteran Banjarmasin

My rating: 5 of 5 stars

Publisher’s Synopsis (Gramedia Pustaka Utama)

HARRY POTTER belum pernah jadi bintang tim Quidditch, mencetak angka sambil terbang tinggi naik sapu. Dia tak tahu mantra sama sekali, belum pernah membantu menetaskan naga ataupun memakai Jubah Gaib yang bisa membuatnya tidak kelihatan.

Selama ini dia hidup menderita bersama paman dan bibinya, serta Dudley, anak mereka yang gendut dan manja. Kamar Harry adalah lemari sempit di bawah tangga loteng, dan selama sebelas tahun, belum pernah sekali pun dia merayakan ulang tahun.

Tetapi semua itu berubah dengan datangnya surat misterius yang dibawa oleh burung hantu. Surat yang mengundangnya datang ke tempat luar biasa, tempat yang tak terlupakan bagi Harry–dan siapa saja yang membaca kisahnya. Karena di tempat itu dia tak hanya menemukan teman, olahraga udara, dan sihir dalam segala hal, dari pelajaran sampai makanan, melainkan juga takdirnya untuk menjadi penyihir besar… kalau Harry berhasil selamat berhadapan dengan musuh bebuyutannya.

My Review

Buku pertama yang dibaca dihari pertama ditahun 2013.

Pada hari Selasa pagi yang mendung, disaat yang sama ketika cerita favorit kita ini mulai.

Bagi yang sudah hapal ceritanya, silakan lompati saja kotak biru ini.

Bagi yang belum pernah baca Harry, semoga sinopsis tambahan dari saya bisa mendorong kalian untuk membaca Harry. Trust me, it was really amazing!

Berawal dari seorang penyihir jahat yang berusaha membunuh anak berusia satu tahun dengan kutukan mematikan. Anehnya, sang penyihir kehilangan kekuatan dan anak itu bertahan hidup.

Anak itu adalah Harry Potter. Akibat serangan itu, Harry kehilangan keluarga dan rumahnya. Harry terpaksa tinggal di rumah keluarga Dursley yang juga terpaksa menerima Harry. Mrs. Dursley adalah kakak Mrs. Potter. Namun, Mrs. Dursley, Petunia, sangat membenci Lili, adiknya,  karena Lili adalah seorang penyihir.

Harry hidup menderita bersama keluarga bibinya. Diperlakukan tidak adil dan sering menjadi kantung tinju sepupunya.Harry juga tidak populer di sekolah. Tidak ada yang berteman dengannya karena takut dengan sepupunya, Dudley Dursley.

Semua itu sudah lebih dari cukup untuk membuat anak manapun menjadi nakal. Tapi tidak bagi Harry. Oleh karenanya, dia mendapat hadiah  yang sangat spesial di hari ulang tahunnya yang kesebelas.

Harry menerima surat dari Hogwarts. Sebuah sekolah sihir terpopuler. Meskipun sangat sulit dipercaya — mana ada sih sekolah sihir di dunia moderen — toh Harry betul-betul bersekolah di sana.

Untuk pertama kalinya, Harry meninggalkan keluarga normal seperti keluarga Dursley. Bergabung bersama orang-orang sesama penyihir di dunia rahasia mereka.

Segalanya mulai berjalan baik bagi Harry. Dia punya teman baik, populer, dan menjadi bintang Quidditch.

Harry mendapatkan semua yang bisa dibayangkan tentang sihir di Hogwarts. Sebut saja tongkat sihir, sapu terbang, mantra-mantra sihir, ramuan, hewan dan tumbuhan aneh, hantu, lukisan yang bisa bergerak. Semuanya.

Namun, memasuki dunia sihir berarti ada kemungkinan Harry bertemu lagi dengan penyihir jahat yang telah menghancurkan keluarganya. Karena penyihir itu bukan sekedar jahat, tapi juga sangat pintar dan hebat. Dan dia belum kalah.

Dia berusaha mengembalikan kekuatannya dengan berusaha mencuri batu bertuah. Kebetulan batu itu disimpan di Hogwarts. Apakah Harry akan bertemu dengan musuh bebuyutannya itu? Kalaupun iya, mampukah Harry bertahan hidup sekali lagi?

NB: Qoute Favorit dari HP #1

“Kita semua bisa mati — atau lebih parah lagi, dikeluarkan.”

–Hermione–

“Jangan main,” kata Hermione segera.

“Bilang saja kau sakit,” kata Ron.

“Pura-pura kakimu patah,” Hermione mengusulkan.

“Patahkan benar-benar saja,” kata Ron.

–Hermione dan Ron–

…Tak ada gunanya memikirkan impian berlama-lama sampai lupa hidup, ingat itu…

…sulitnya, orang biasanya justru memilih hal-hal yang paling buruk untuk mereka.”

“Ah! Kacang Segala-Rasa Bertie Bott! Aku cukup beruntung waktu masih muda dapat yang rasa muntah, dan sejak saat itu aku jadi kehilangan selera–tapi kurasa aman kalau aku ambil rasa karamel, ya?”

Dumbledore tersenyum dan memasukkan kacang berwarna cokelat keemasan itu ke mulutnya. Kemudian dia tersedak dan berkata, “Ya ampun! Rasa kotoran telinga!”

–Dumbledore–

 

Buku Harry Potter dan Batu Bertuah saya semua halamannya sudah mulai menguning dan beberapa halaman terakhirnya sudah mau lepas. Well, wajarlah, sudah lebih dari satu dekade dan cerita Harry masih tetap menghibur.

Kenapa yah? Mungkin karena gaya bahasanya sangat entertain. Mungkin karena Rowling bisa menggambarkan dunia Harry secara detail. Mungkin karena Rowling adalah pengarang yang hebat.

Hmmm, kalau menurut saya pribadi, yang membuat saya jatuh cinta setengah mati pada Harry adalah karena dunia sihir Harry memiliki semua yang  saya impikan tentang dunia sihir. Semuanya. *iyak, ga usah lebay deh, sampai di bold segala*

Sebut saja kastil sihir,  jubah (baik yang gaib ataupun ga), topi runcing, tongkat sihir, sapu terbang, mantra-mantra, ramuan sihir, penyihir baik, penyihir jahat, naga, goblin, troll. Semuanya deh pokoknya *eh, termasuk troll dan pelahap maut juga? mikir lagi deh*

Kalau ada dunia sihir yang ingin saya tinggali, ya dunia ini. Kalau ada tawaran untuk sekolah di Hogwarts?  Ah, dengan senang hati, lebih cepat daripada jet tempur,  saya akan melepas status muggle dan bergabung dengan penyihir *wusssshhhhhh*

Oh ya, saya juga sangat menyukai cover edisi ini. Cover ini dulu nampang di majalah anak-anak favorit saya. Gara-gara liat covernya, saya jadi pengen baca Harry. Somehow, rasanya dengan melihat covernya saja, saya sudah tahu kalau cerita di dalamnya bakalan penuh magik. Applause yang meriah buat Mary Grandpré, sang ilustrator *prookprookprook*

Saat novel Harry Potter dan Batu Bertuah diterbitkan di Indonesia, saya tepat berumur 11 tahun. Usia yang tepat eh untuk masuk Hogwarts. Berharap Hogwarts memang ada dan saya dapat surat juga kayak Harry. Sayangnya,  sampai usia pertengahan dua puluhan ini, kaga ada tuh burung hantu imut yang ngirimin saya surat. Rupanya saya memang muggle tulen yah *terima nasib*

Saya lupa berapa kali sudah membaca ulang buku pertama ini. My fresh thought? What can I say? It’s just still amazing!

P.S. Review ini untuk even

Hotter Potter

dan juga diikutkan dalam even Fantasy Reading Challenge

reading challenge tbbr pile 2013

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

9 thoughts on “HARRY POTTER AND THE SORCERER’S STONE REVIEW

  1. “Patahkan benar-benar saja,”
    ngakak pas baca bagian itu… mendingan patah kaki drpd ‘diapa2in’ Snape kali ya pikirnya

    baru nyadar, umurku juga hampir 11 tahun pas Harry Potter pertama diterbitkan….di Inggris😄

    Like

    1. Untung saja Harry ga ngikutin saran Ron ya, orang ternyata Snape mau melindungi Harry juga😀

      Aaah, pas sekali. Umur sudah cocok, tinggal suratnya aj lagi yang tidak kunjung datang ^_^

      Like

  2. halo, salam kenal ira🙂

    sama… buku saya juga sudah menguning. untung dulu saya minta dijadiin hardcover ama papa yang kerja di percetakan. jadi masih tetap awet🙂

    Like

  3. Welcome back to Hogwarts!
    Kutipan yang ini: “Kita semua bisa mati — atau lebih parah lagi, dikeluarkan.” –> jadi tau kalo Hermione itu emang tukang belajar akut, bagi dia mending mati daripada dikeluarkan dari sekolah -_-“

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s