Posted in Author, Books, Brom, Fantasy, Genre, Gramedia Pustaka Utama, Publisher

THE CHILD THIEF REVIEW

The Child Thief by Brom

Title: The Child Thief – Si Pencuri Anak | Author: Brom | Genre: Dark Fantasy | Edition language: Indonesian | Translator: Tanti Lesmana | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: First edition, Oktober 2012 | Status: Owned book | Price: Rp127.500,- | Purchase location: Online @ bukabuku.com | Date received: January, 7th 2013 | My rating: 5 of 5 stars

Peter anak yang gesit, nekat, dan sangat jail—dia juga sangat suka bermain, walaupun permainan-permainannya sering berakhir dengan pertumpahan darah. Sepasang matanya bersinar-sinar keemasan, dan kalau dia tersenyum padamu, kau akan menjadi sahabatnya seumur hidup, tetapi negeri ajaib yang dijanjikannya padamu bukanlah Neverland.

Saya membaca penggalan sinopsis tersebut di fan page nya Gramedia Fantasi. Buku ini dijadikan hadiah untuk  even  END YEAR 2012 CONTEST by Gramedia Fantasi.

Sejak membaca The Book of Lost Thing by John Connoly, saya jadi suka cerita dark fantasy. Dan penggalan sinopsis di atas sudah cukup memberi tahu saya kalau buku ini bergenre dark fantasy dan akan mengisahkan versi kelam dari cerita Peter Pan.

Karena saya gagal memenangkan kontes tersebut. Saya akhirnya membeli buku The Child Thief secara online. Lengkap dengan ongkos kirim dan waktu tunggu yang lumayan lama karena posisi kota kecil saya yang tidak menguntungkan.

Untunglah bukunya tidak mengecewakan. Sangat bagus malah. Betul ceritanya tentang Peter. Peter yang  mempunyai masa kecil yang tragis. Terusir, sendirian dan tidak punya tempat untuk dituju. Mungkin itulah sebabnya, kenapa Peter senang mencari anak-anak terlantar yang bernasib sama dengannya. Mengajak anak-anak malang tersebut ke negeri impian di balik kabut.

Namun Peter tidak mengajak anak-anak itu ke negeri di balik kabut untuk bermain. Tidak untuk saat ini. Karena negeri itu sedang sekarat. Negeri itu sedang kehilangan sihirnya karena ada orang-orang dewasa menyebalkan yang tersesat ke sana dan tidak bisa pergi.

Sialnya, Nick, remaja laki-laki berusia 14 tahun, kabur dari rumah di saat yang salah. Dia bertemu Peter. Dan tentu saja, Peter mengajaknya ke negeri yang sedang sekarat itu. Meminta Nick bergabung dengan anak-anak hilang lainya untuk mempertahankan sihir yang masih tersisa. Berperang demi sang Lady penguasa negeri. Bertarung sebagai klan anak-anak iblis.

Berhasilkah Peter dan anak-anak iblis mempertahankan rumah mereka? Dan bagaimana Peter menghadapi Nick yang ngotot ingin pulang ke dunia manusia? Karena Nick menyesal telah kabur dari rumah. Karena Nick sebenarnya sudah terlalu dewasa untuk tinggal bersama Peter. Dan sihir di negeri itu berakibat buruk bagi orang dewasa. Sangat buruk.

Cerita di buku ini diawali dan diakhiri dengan sangat bagus. Bagian awalnya berhasil membuat saya penasaran. Tapi yang namanya buku yang tebalnya amit-amit, jadi jangan heran deh kalau ada beberapa bagian tertentu yang jadi  membosankan. Tapi teruslah membaca dan kita akan sampai ke bagian di mana “you just can’t put it down”. Bagian akhirnya membuat hati saya tercabik dan berusaha menerima, karena toh ini kan cerita dark fantasy.

Lucunya, perseteruan yang terjadi di cerita ini hanya karena salah paham. Masing-masing pihak hanya melihat pihak lain dari cover nya saja. Belum apa-apa sudah main bunuh. Hedeh, capek deh. Ga bisa diomongin dulu gitu.

Hanya Nick yang menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

“Kedua belah pihak telah begitu dibutakan oleh rasa takut dan kebencian terhadap satu sama lain, sehingga tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka berjuang untuk tujuan yang sama”

Ingin rasanya saya membantu Nick meneriakkan kata-kata di atas saking gregetan nya. Bahkan si Peter pun tidak mau disadarkan.

Tapi wajarlah, si penulis kan berusaha menampilkan sisi kelam dari Peter. Peter yang selama ini kita  kenal sebagai anak jail baik hati yang akan mendatangi kita di malam hari dan menunjukkan ada sebuah tempat impian bernama Neverland di antara bintang-bintang.

Namun, dengan berat hati saya harus mengatakan kalau usaha Brom tidak sepenuhnya berhasil. Saya tidak merasa kalau Peter yang ada cerita ini sepenuhnya sinting. Peter hanya … kurang beruntung.

Sisi gelap Peter justru muncul dari kutipan yang disampaikan Brom di akhir buku. Kutipan yang diambil dari cerita asli Peter Pan karya James Barrie. Kutipan yang terus terngiang-ngiang di telinga Brom sehingga dia terinspirasi untuk menulis cerita kelam ini.

“Anak-anak lelaki di pulau itu jumlahnya bervariasi, tentunya, tergantung seberapa banyak yang tewas terbunuh dan sebagainya; dan kalau kelihatannya mereka mulai bertumbuh dewasa — padahal ini bertentangan dengan aturan-aturannya, maka Peter mengurangi jumlah mereka; tetapi saat ini mereka ada enam, kalau si kembar dihitung sebagai dua orang.”

Karena Brom ini seorang ilustrator, jadi buku ini dilengkapi dengan ilustrasi. Ilustrasinya sedikit menyeramkan bagi saya tapi luar biasa.

Ada beberapa typo di edisi ini. Tapi yang bikin saya sebal setengah mati adalah ada ‘sekelompok’ halaman yang terlepas dengan sendirinya. Astaga! Kok bisa begini sih, ini kan buku baru. Tapi sudahlah. Mungkin ini cuma derita gue saja.

Yang suka dengan cerita Peter Pan mungkin bertanya-tanya tentang Tinker Bell dan Kapten Hook. Dua karakter yang hampir selalu muncul bersama Peter Pan.

Sayangnya tidak ada Tinker Bell di sini. Di sini cuma ada satu pixie yang berperan cukup besarNamun, pixie itu memiliki loyalitas kepada Nick, bukan kepada Peter.

Sang kapten bernama kapten Samuel Carver disini, yang sejauh yang saya ingat (atau terlewatkan), tangannya tidak memakai kait. Tapi tetap punya janggut dan kumis tipis. Sang Kapten digambarkan sebagai sosok ayah yang baik.

At least, hati-hatilah saat membaca buku tebal ini. Ada banyak orang sinting di dalamnya. Banyak sekali. Ada banyak darah, usus, dan bagian-bagian tubuh lain yang bertebaran di mana-mana. Tapi justru disinilah sisi gelapnya, yang membuat cerita ini jadi bagus, menarik dan kelam.

Buku ini mengajarkan agar jangan menilai orang dari penampilannya atau dari prasangka semata. Karena kalau tidak, seperti kata Nick, kita akan dibutakan. Dibutakan oleh prasangka sehingga kita sendiri akan berubah jadi orang sinting — dimana kita tidak sadar kalau kita sudah sinting — yang malah membuat kita makin sinting.

Jadi, selamat menikmati sisi gelap Peter. Dan karena menurut saya ending dan pesan yang disampaikannya sangat bagus, maka saya memberi 5 bintang dari 5 bintang. It was amazing.

P.S. Review ini diikutkan dalam even Fantasy Reading Challenge

reading challenge tbbr pile 2013

dan even New Authors RC

New Authors RC by Ren's Little Corner

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s