Posted in Author, Books, Genre, J. K. Rowling, Publisher, Qanita, Realistic Fiction

THE CASUAL VACANCY REVIEW

The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong)Title: The Casual Vacancy

Author: J.K. Rowling

Edition Language: Indonesian

Publisher: Qanita (Bandung, November 2012)

Purchase location: Mizan Online

Date received: December, 1 2012

My rating: 3 of 5 stars

 

Goodread’s Synopsis

When Barry Fairbrother dies in his early forties, the town of Pagford is left in shock.

Pagford is, seemingly, an English idyll, with a cobbled market square and an ancient abbey, but what lies behind the pretty façade is a town at war.

Rich at war with poor, teenagers at war with their parents, wives at war with their husbands, teachers at war with their pupils … Pagford is not what it first seems.

And the empty seat left by Barry on the parish council soon becomes the catalyst for the biggest war the town has yet seen. Who will triumph in an election fraught with passion, duplicity and unexpected revelations?

 

Publisher’s Synopsis (Qanita)

NOVEL BESAR TENTANG SEBUAH KOTA KECIL …

KETIKA BARRY FAIRBROTHER meninggal di usianya yang baru awal empat puluhan, penduduk Kota Pagford sangat terkejut.

Dari luar, Pagford terlihat seperti kota kecil yang damai khas Inggris, dengan Alun-alun, jalanan berbatu, dan biara kuno. Tetapi, di balik wajah nan indah itu, tersembunyi perang yang berkecamuk.

Si kaya melawan si miskin, remaja melawan orang tua, istri melawan suami, guru melawan murid … Pagford tak seindah yang terlihat dari luar.

Dan kursi kosong yang ditinggalkan Barry di jajaran Dewan Kota menjadi pemicu perang terdahsyat yang pernah terjadi di kota kecil itu. Siapakah yang akan menang dalam pemilihan anggota dewan yang dikotori oleh nafsu, penipuan dan pengungkapan rahasia-rahasia tak terduga ini?

Novel besar tentang sebuah kota kecil, The Casual Vacancy adalah novel pertama J.K. Rowling untuk pembaca dewasa. Karya seorang pendongeng yang tiada duanya.

 

My Review

You had my heart

And we’ll never be worlds apart

Maybe in magazines

But you’ll still be my star ….

… Now that it’s raining more than ever

Know that we’ll still have each other

You can stand under my umbuh-rella

You can stand under my umbuh-rella

(Lagu yang diputar pada pemakaman Mr. Barry Fairbother)

 

Saya tahu ini bukan novel fantasy magic. Tapi tetap saja,  ini kan bukunya J.K Rowling *ngotot*.  So sempat bengong pada awalnya. Berharap ada something yang berbau magic di sini. Tapi tetap tidak ada, dan ok, baiklah, saya menyerah. Saya terima kalau novel ini menceritakan realita hidup di sebuah  kota kecil di Inggris. Tanpa ada Harry and fantasy magic nya.

Pagford, dengan konflik khas kota kecilnya. Konflik yang sebenarnya hanya berasal dari masalah-masalah sepele yang akhirnya menjadi besar. Tentang prasangka,  kepura-puraan, keegoisan dan ketidakmampuan orang-orangnya untuk melihat sisi baik dari setiap hal.

Dari segi cover, berbeda dengan Harry Potter yang  punya daya tarik untuk dibaca, The Casual Vacancy terkesan netral.

Dari segi bahasa, sama seperti Harry, The Casual Vacancy juga mampu menyedot perhatian penuh saya. Ringan, mengalir, dan mengena. Membuat saya merasa seakan-akan hidup di Pagford.

Sempat puyeng diawal cerita karena penokohannya banyak sekali. Baru sadar gaya penokohannya seperti itu ketika Kay Bawden jadi tokoh sentral *lola*. Tapi uniknya, mereka semua terhubung, khas kota kecil. Bahkan komputer curian yang dibuang Simon Price di sungai pun ikut ambil bagian dengan melukai kaki Sukhvinder waktu dia berusaha menyelamatkan Robbie Weedon.

Dari segi cerita, well, Harry Potter jauh lebih unggul. Bukan karena cerita di The Casual Vacancy jelek sih. Tapi lebih karena saya tidak suka dengan cerita macam realita hidup seperti ini. Bikin gregetan.

Yap, gregetan rasanya ketika membaca The Casual Vacancy di bagian-bagian dimana setiap orang selalu merasa yang paling benar dan mencari-cari alasan kalau apa yang mereka lakukan itu benar *padahal salah*.

Yah, tapi itulah realita hidup. Tidak ada orang yang benar-benar baik dan tidak ada yang benar-benar buruk. Semuanya blasteran. Bahkan si hero Mr. Barry Fairbrother pun juga tidak sempurna. Tapi, kekosongan yang dia tinggalkan setelah kematiannya menunjukkan bahwa setidaknya masih ada orang baik yang pantas dirindukan dan kehadirannya tidak bisa digantikan.

Dan ini juga yang jadi penyebab kenapa saya lebih suka cerita bergenre fantasi daripada realita hidup. Setidaknya di cerita fantasi, meskipun hanya di dalam cerita, saya masih punya pegangan yang jelas tentang baik dan buruk, masih punya harapan bahwa masih ada orang baik di dunia ini.

Bagian yang paling saya suka dari The Casual Vacancy adalah cerita tentang  kebaikan mendiang Fairbrother dan kenangan Sukhvinder tentang sisi baik Krystal Weedon. Meskipun itu selalu  membuat saya ingin menangis. Apalagi waktu pemakaman diakhir juga diputar lagu yang sama dengan lagu pemakaman Mr. Fairbrother, hiks, nangis dah saya.

Kesimpulannya, 3 dari 5 bintang hanya karena saya tidak terlalu suka genrenya. Tapi, bagi kalian yang suka novel bergenre realita hidup seperti ini, well, I think,  buku ini pantas mendapatkan 5 bintang. Brilliant!

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s