Posted in Author, Children, Genre, Gramedia Pustaka Utama, Publisher, Sally Nicholls

Ways to Live Forever

Setelah Aku Pergi (Ways to Live Forever)Setelah Aku Pergi by Sally Nicholls
My rating: 5 of 5 stars

Sam, seorang anak berusia 11 tahun yang menderita penyakit leukimia, menghabiskan minggu-minggu terakhirnya dengan menulis sebuah buku. Buku yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab atau bahkan yang tak terpikirkan tentang kematian. Buku itu juga berisi tentang hal-hal yang ingin dilakukan Sam, hal-hal favorit Sam, gambar-gambar yang dibuat Sam, bahkan rencana kematiannya sendiri serta hal-hal yang diinginkannya setelah dia pergi.

Sam sangat menyukai fakta-fakta. Oleh karenanya berusaha menjawab pertanyaan tak terjawabnya dengan fakta-fakta. Meskipun jawabannya tidak sepenuhnya berdasarkan fakta /*tampaknya sulit menemukan orang yang bisa membuktikan secara ilmiah dan memberi tahu kita bagaimana dia tahu kalau dia sendiri sudah mati*/, jawaban-jawaban Sam menghasilkan pandangan yang menenangkan tentang kematian.

Sam mempunyai teman bernama Felix yang juga sedang sakit parah. Mereka berkenalan sebagai sesama pasien rumah sakit. Felix membantu Sam mewujudkan daftar hal-hal yang ingin Sam lakukan. Seperti memecahkan rekor dunia, melihat hantu, atau naik pesawat luar angkasa dan melihat bumi dari luar angkasa. Dan mereka benar-benar melakukannya. Bahkan ketika Felix dipanggil Tuhan lebih dulu, dia masih terus membantu Sam untuk mewujudkan keinginannya.

Bukan hanya Felix, tetapi Mom, Dad, Ella,Granny, Mrs. Willis, dr Bill, Annie serta semua orang disekitarnya juga ikut membantu Sam mewujudkan daftar hal-hal yang ingin dia lakukan. Mengharukan sekali melihat bagaimana semua orang berusaha keras untuk membuat Sam bahagia. Namun, yang lebih mengharukan adalah bagaimana persiapan Sam menghadapi kematiannya sendiri.

Satu lagi buku tentang bagaimana seseorang yang sekarat menghadapi kematian. Lagi-lagi tentang leukimia. Banyak buku bertema sama, ditulis dengan imajinasi berbagai pengarang, tetap saja selalu membuat saya menangis. Kali ini menangisnya lebih parah. Mungkin gara-gara tokohnya masih berusia sebelas tahun. Atau mungkin karena saya teringat keponakan kecil saya yang juga meninggal gara-gara sakit diusianya yang masih sangat muda. Yang jelas Sally Nicholls berhasil mempunyai style sendiri untuk menceritakan seseorang yang sekarat. Sama hebatnya dengan pengarang lain, yang mampu menguras air mata pembacanya.

Menyedihkan ketika memikirkan mengapa Sam tidak diberi kesempatan hidup lebih lama. Seandainya saja Sam diberi kesempatan untuk tumbuh dewasa, mungkin dia akan tumbuh besar menjadi pria tampan dan menjadi ilmuwan yang hebat. Kenapa harus Sam, dia kan masih anak kecil, sepertinya ini tidak adil.

Tapi sudahlah, Granny bilang mati itu ibarat ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Katanya, memang menakutkan, sama seperti si ulat ketakutan kalau hendak menjadi kepompong. Tapi apa jadinya kalau semua ulat berpikir, “Oh, tidak, aku bakal menjadi kepompong, ini tidak adil?” Bisa-bisa mereka tidak akan pernah berubah menjadi kupu-kupu.

Yang dimaksud Granny, mati itu adalah tahap selanjutnya dalam kehidupan. Seperti berubah menjadi Spiderman merupakan tahap selanjutnya dalam kehidupan Peter Parker. Jadi, kita tidak perlu takut, kita seharusnya antusias…Mati kan cuma kembali ke tempat kita berada sebelum kita dilahirkan, dan tidak ada orang yang takut pada masa sebelum mereka dilahirkan.

View all my reviews

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s