Posted in Author, Children, Genre, Gramedia Pustaka Utama, Jacqueline Wilson, Publisher

Hetty Feather

Hetty FeatherHetty Feather by Jacqueline Wilson
My rating: 5 of 5 stars

“Tapi bisakah kau memberitahuku satu hal lagi. Apakah kau menamai ketika aku lahir?”

“Aku memanggilmu dengan nama kesayangan yang indah, Sapphire, karena matamu biru sekali.”

“Ya Tuhan, aku mengkhayalkan itu! Aku tahu ibu kandungku pasti akan memilihkan nama yang indah untukku!…aku berharap menjadi penulis suatu hari nanti dan menerbitkan cerita-ceritaku – lalu aku akan menggunakan Sapphire sebagai nama penaku…

“Kita akan meninggalkan panti asuhan ini bersama-sama ketika aku sudah cukup dewasa, dan aku akan mencari rumah yang bagus, dan kita akan tinggal di sana, ibu dan anak, kau tunggu dan lihat saja nanti.”

“Hidup bahagia selamanya, seperti dalam dongeng,” kata Ida, masih sesenggukan.

“Hidup bahagia selamanya,” ucapku. “Aku yakin sekali!”

Sewaktu masih bayi, Hetty Feather sudah tahu kalau ibunya terpaksa meninggalkannya di panti asuhan. Dia tahu kalau ibunya tidak mungkin memberi nama Hetty Feather padanya, karena dia mempunyai rambut merah yang bagus dan mata biru yang indah. Dia juga tahu kalau panti asuhan menyerahkannya untuk tinggal bersama “Mama” dan keluarganya.

Keluarga itu sangat baik. Ada Mama, Papa, Rosie, Eliza, Nat, Jem, Martha, Saul, Gideon dan Eliza kecil. Hetty senang sekali keluarganya sangat menyayanginya walaupun dia adalah seorang gadis kecil galak yang tidak bisa diam. Favorit Hetty adalah Jem yang baik hati. Selalu melindunginya dan mengajaknya bermain. Jem juga mengajarinya membaca. Mereka menemukan sebuah lubang di pohon, menamainya rumah tupai, dan bermain seakan-akan itu adalah rumah mereka yang sebenarnya. Jem juga pernah mengajaknya menyelinap ke sebuah pertunjukan sirkus, dimana Hetty melihat Madam Adeline, seorang pemain sirkus berambut merah menyala, yang Hetty yakini adalah ibunya.

Tetapi semuanya mulai berubah ketika Mama membawa Martha kembali ke panti asuhan. Tidak lama berselang giliran Saul yang harus pergi. Hetty tahu bahwa Martha, Saul, dirinya, Gideon dan Eliza kecil hanyalah anak asuh mama. Ketika berumur 6 tahun, mereka harus kembali ke panti asuhan.

Ketika tiba gilirannya untuk kembali. Hetty hanya bisa menangis sedih, mendelik galak ke hampir semua orang. Menjalani hari-harinya sendirian dan menemukan Martha yang hampir tidak mengenalinya lagi. Meskipun ada Suster Winnie yang baik, Ida si pelayan dapur yang selalu memberikannya makanan ekstra dan Poppy sahabatnya yang manis, Hetty tetap merasa bosan dengan rutinitas panti asuhan dan dia membenci matron-matronnya yang jahat. Terlebih lagi dia sangat ingin menemukan ibu kandungnya kembali.

Ketika hari perayaan emas Ratu Victoria, semua anak panti asuhan diberi kesempatan untuk melihat dunia luar sehari penuh. Hetty tidak sengaja melihat sebuah tenda sirkus di kejauhan. Dia pun nekat mendatangi tenda tersebut dan berharap bisa bertemu kembali dengan Madam Adelaine, ibunya. Ya, Hetty memang berhasil menemui Madam Adeline, tapi wanita itu bukan ibunya. Ketika wanita itu ingin mengantarkannya kembali ke panti asuhan, Hetty melarikan diri.

Hetty yang malang keluyuran di kota besar. Menerima ejekan sebagai anak jalanan. Menghadapi anak-anak nakal yang mencuri sepatu botnya dan hampir diculik oleh laki-laki jahat kalau saja Sissy, si gadis penjual bunga, tidak menyelamatkannya.

Hetty pun ikut Sissy berjualan bunga. Sissy mengenalkanya kepada Lil, adiknya yang sedang sakit parah dan ayahnya yang sering mabuk-mabukkan. Ketika mereka berjualan di alun-alun Regent Street, mereka bertemu dengan Ms. Smith yang baik. Ms. Smith adalah seorang penulis yang ingin menulis tentang anak jalanan penjual bunga. Sissy enggan menceritakan kisahnya sedangkan Hetty menceritakan omong kosong yang sangat imajinatif. Ms. Smith sangat terkesan dan meyakinkannya Hetty untuk kembali ke panti asuhan setelah berjanji untuk membantu Sissy.

Ms. Smith menggunakan imajinasinya sendiri untuk memastikan agar Hetty tidak dihukum karena berani kabur dari panti asuhan. Ms. Smith meyakinkan Hetty untuk melatih kemampuan imajinatifnya agar bisa menjadi penulis hebat. Suster Winnie, teman-temanya, bahkan musuh-musuhnya sangat gembira melihat dia kembali. Ida bahkan pingsan ketika melihatnya. Saat menunggui Ida di kamarnya, Hetty mendengar Ida menyebutnya anakku. Dan akhirnya Hetty pun menemukan ibunya, yang selama ini ternyata sangat dekat dengannya.

Hetty Feather membuat saya malu pada diri sendiri karena mulai merasa lelah untuk mengejar impian. Padahal impian saya tidak semustahil impian Hetty. Rintangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rintangan Hetty. Mengagumkan sekali ketika mengetahui anak sekecil Hetty Feather tahu apa yang diinginkannya dan berani mengejarnya dengan semangat yang menyala semerah rambutnya. Baiklah Hetty, saya doakan kau berhasil menjadi penulis hebat. Yeah, sebetulnya kau sudah menjadi penulis hebat. Ini kisah tentang dirimu yang sudah kau tulis bukan? Iya kan, Sapphire?

View all my reviews

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s