Posted in Books, Classic, Gramedia Pustaka Utama, L. M. Montgomerry

The Golden Road – Hari-hari Bahagia


Judul: The Golden Road – HARI-HARI BAHAGIA

Pengarang: L.M. Montgomery

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 

Sinopsis penerbit:

Sara Stanley, si Gadis Pendongeng, kembali ke Carlisle untuk menghabiskan musim dingin bersama keluarga King. Untuk membantu melewatkan bulan-bulan musim dingin yang membosankan, dia mengusulkan kepada para sepupunya untuk membuat majalah. Beverley menjadi editornya, sedangkan dia, Felicity, Cecily, Dan, dan Felix bertanggung jawab terhadap kolom masing-masing. Majalah itu juga akan memuat berbagai peristiwa menarik di Carlisle. Majalah Kita dengan cepat menjadi sumber hiburan yang menyenangkan bagi mereka, disamping berbagai peristiwa yang terjadi pada musim itu. Namun tak ada yang abadi. Ketika ayah si Gadis Pendongeng datang menjemput, dengan berat hati dia harus meninggalkan sahabat-sahabatnya di Pulau Prince Edward.

I like this book so much. Kembali bermain dengan keluarga King dan teman-teman. Menjadi terinspirasi untuk membuat Majalah Kita juga selama liburan. Ikut sedih ketika Gadis Pendongeng harus pergi. Perasaan sedih yang sama ketika melihat sepupu-sepupu saya sendiri juga harus pulang ke kota mereka sendiri saat liburan usai.

Bagian yang paling berkesan:

….Tetapi kami masih terus berdiri di sana, sebab kami tahu akan melihat si Gadis Pendongeng sekali lagi. Di balik hutan cemara ada kelokan terbuka di jalan, dan dia sudah berjanji akan melambaikan tangan untuk terakhir kali pada saat kereta melewati kelokan itu.

Kami mengamati kelokan itu dalam diam, kelompok kecil kami berdiri sedih dalam cahaya matahari pagi musim gugur. Hari-hari bahagia pernah menjadi milik kami di masa kanak-kanak yang indah ini. Memikat kami dengan bunga-bunga daisy dan menghadiahi kami dengan mawar-mawar. Kuncup-kuncup dan puisi siap memenuhi harapan kami. Pikiran-pikiran manis dan ceria telah menyambangi kami. Tawa gembira menjadi teman setia kami dan Harapan tak kenal takut menjadi pembimbing kami. Tetapi kini bayang-bayang perubahan telah menanti.

“Itu dia di sana,” seru Felicity.

Si Gadis Pendongeng berdiri dan melambaikan bunga-bunga krisantemumnya pada kami. Kami balas melambai-lambai penuh semangat sampai kereta itu lenyap di belokan jalan. Kemudian perlahan-lahan kami berjalan ke rumah dalam diam. Si Gadis Pendongeng sudah pergi.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s